Mengapa Pendekatan Ilmiah Tak Cukup untuk Membuktikan Keberadaan Tuhan

Mengapa Pendekatan Ilmiah Tak Cukup untuk Membuktikan Keberadaan Tuhan
©BBC

Beberapa waktu lalu, Coki Pardede dalam podcast Samuel Christ secara lantang (atau mungkin juga bercanda) menolak pembuktian keberadaan Tuhan melalui metode rasionalisme.

Coki Pardede ingin keberadaan Tuhan dapat dibuktikan melalui pendekatan empirisme. Dari situ dapat dipahami, Coki Pardede tak mau, atau mungkin tak mampu, berdialektika dalam beragam pendekatan.

Ketakmampuannya itu tercermin dari penafiannya atas sumber-sumber pengetahuan selain dari metode empirisme (ilmiah-eksperimental).

Rasionalisme & Empirisme

Dalam filsafat, khususnya bidang epistemologi, dikenal dua pendekatan dalam menggali sumber pengetahuan: empirisme dan rasionalisme.

Empirisme menekankan pengalaman inderawi dan bukti eksperimental sebagai sumber pengetahuan. Sementara itu, rasionalisme menekankan penggunaan akal dan penalaran, tanpa harus mengandalkan pengalaman inderawi.

Ketika Coki Pardede menuntut bukti keberadaan Tuhan hanya melalui empirisme, itu menunjukkan keterbatasannya dalam memahami sifat ketuhanan dan sumber pengetahuan.

Empirisme memang dapat memberikan penjelasan rinci dan meyakinkan tentang dunia fisik, karena metode ini dapat diuji dan diverifikasi. Namun, banyak aspek dari “realitas” yang sering kali berada di luar jangkauan pengujian empiris.

Keengganan Coki Pardede untuk menerima pendekatan lain mencerminkan kegagalan dalam memahami bahwa sumber pengetahuan bersifat multifaset.

Baca juga:

Ketidakmampuan Coki Pardede dalam berdialektika dengan berbagai pendekatan epistemologi mungkin juga menunjukkan kurangnya pemahaman tentang sejarah filsafat dan perkembangan ide-ide pengetahuan.

Apakah semua pengetahuan harus bersifat empiris, atau ada ruang untuk bentuk sumber pengetahuan lain, seperti intuisi dan penalaran? Dalam tradisi rasionalis, René Descartes berargumen bahwa ada kebenaran yang bisa ditemukan melalui penalaran murni, yang tidak bergantung pada pengalaman inderawi, (Sitorus, 2016: 13).

Sejarah filsafat telah lama mengakui peran penting dari berbagai pendekatan dalam memahami dunia. Plato, dengan teori idea-nya menunjukkan bahwa ada realitas yang lebih tinggi yang hanya dapat dipahami melalui akal, bukan melalui indera, (Sus, 2024). Pun, Aristoteles, meskipun lebih empiris dalam pendekatannya, ia tetap mengakui pentingnya logika dan prinsip-prinsip apriori, (Plato.stanford.edu, 2020).

Kemungkinan besar, penolakan Coki Pardede terhadap metode non-empiris disebabkan oleh kegagalannya dalam memahami definisi berpikir dan batasan-batasan empirisme.

Pengetahuan tidaklah bersifat monolitik, melainkan kompleks dan berlapis-lapis. Namun, jika masalahnya adalah keengganan Coki Pardede untuk serius dan terbuka dalam berpikir, maka tak perlu berharap berlebih-lebih.

Sikap dogmatis —ilmiah maupun teologis— dan penolakan untuk mempertimbangkan pandangan lain, sering kali berakar pada sikap mental yang kaku terhadap keanekaragaman pemikiran.

Kemampuan untuk berpikir secara multidimensi dan memahami berbagai sumber pengetahuan adalah kapasitas yang sangat berharga. Terutama dalam memahami bahwa empirisme dan rasionalisme memiliki peran penting dalam upaya memahami dunia dan Pencipta dunia.

Pencipta & Ciptaan

Di podcast tersebut, tampaknya, Coki Pardede meyakini pendekatan empirisme bersifat pasti dan sempurna. Apabila benar demikian, seharusnya, melalui pendekatan empirisme manusia dapat dengan mudah memahami segala yang ada.

Halaman selanjutnya >>>
Agung Hidayat