Mengapa Peringatan Hari Santri Itu Penting?

Mengapa Peringatan Hari Santri Itu Penting?
Ilustrasi: Geotimes.co.id

Nalar PolitikAktivis Nahdlatul Ulama (NU) Mohamad Guntur Romli membeberkan sejumlah alasan terkait pentingnya perayaan Hari Santri. Hal tersebut ia utarakan dalam keterangan tertulisnya berjudul keterangan tertulisnya.

Seperti diketahui, Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober di Indonesia ini merupakan peringatan atas peristiwa dikeluarkannya Resolusi Jihad oleh para ulama se-Jawa tahun 1945. Resolusi Jihad tersebut adalah bentuk pembelaan mereka bagi kemerdekaan Republik Indonesia yang kala itu masih berpotensi dijajah kembali oleh pasukan sekutu, termasuk Belanda.

Untuk itulah, politisi asal Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menilai bahwa peringatan Hari Santri menjadi penting. Tak lain dan tak bukan sebagai upaya mengenang kembali perjuangan para ulama dalam membela negara ini dari upaya penjajahan kembali.

Berikut ini 5 alasan yang dikemukan oleh Guntur Romli. Ini sebagai argumentasi pentingnya memperingati Hari Santri.

Pertama, bagi Guntur Romli, seruan jihad kala itu ditujukan untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia.

“Inilah kontekstualisasi gagasan dan praktik jihad yang paling penting, tidak hanya di Indonesia, namun di dunia Islam secara umum. Jihad untuk membela kemerdekaan dan yang gugur akan disebut sebagai syahid.”

Jihad ini juga ditegaskan Guntur bukan seperti jihad ala al-Qaidah atau ISIS. Kelompok-kelompok radikal ini, menurutnya, hanyalah menyalahgunakan konsepsi jihad saja sebagai dalih membenarkan tindakan-tindakan terorisme di muka bumi.

“Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah jihad kebangsaan, jihad kenegaraan,” tegas Guntur.

Kedua, meski Resolusi Jihad tersebut dikeluarkan oleh para ulama NU, tetapi tujuannya tentu bukan semata untuk kepentingan NU belaka. Ada yang umum daripada itu: membela kemerdekaan Republik Indonesia.

“Bahkan dampaknya universal: melawan penjajahan dan membela kemerdekaan adalah ajaran agama yang agung.”

Ketiga, meskipun juga Resolusi Jihad tersebut ditandatangani oleh para ulama, tetapi peringatan harinya tidaklah disebut Hari Ulama atau Hari Kyai, melainkan Hari Santri sebagai tanda kesetaraan.

“Santri adalah pembelajar seumur hidup. Kyai dan ulama tetaplah santri karena akan belajar dari buaian sampai kuburan (uthlub al-‘ilma minal mahdi ilal lahdi).”

Selain itu, lanjut Guntur, santri juga merupakan akulturasi budaya, yakni berasal dari Kitab Suci Umat Buddha, bukan dari bahasa Arab. Bahkan, meminjam pendapat Gus Mus, santri pun tidak terbatas pada yang pernah belajar di Pondok Pesantren saja, melainkan mereka yang berakhlak seperti santri.

“Akhlak terpenting santri adalah belajar seumur hidup, ikhlas, rendah hati, toleran (tasamuh), moderat (tawassuth), fair dan berimbang (tawazun), dan akhlak-akhlak terpuji lainnya.”

Keempat, istilah santri merupakan khazanah kultural dan Nusantara. Ia menjadi titik temu di tengah menguatnya identitas Islam sebagai bahasa politik yang sering dihadap-hadapkan dengan identitas nasionalis.

“Santri adalah khas muslim di Nusantara, tanpa perlu menonjolkan simbol dan identitas keislaman yang sering kali jatuh pada ‘arabisasi’ dan diadu dengan identitas nasional. Karena santri mengandung dua entitas sekaligus: muslim sekaligus nasionalis.”

Kelima, ini tak lebih sebagai upaya mengembalikan kembali kebanggaan sebagai santri. Karena memang, fenomena kini lebih banyak menunjukkan ketidakpercayaan diri sebagai santri, yang lebih suka disebut muslim dan orang Islam, atau sebagai ‘ikhwan’ dan ‘akhwat’.

“Inilah gejala ‘arabisasi’ yang merupakan salah-kaprah dari tujuan ‘islamisasi’. Padahal ‘islamisasi’ tidak harus berwujud ‘arabisasi’, melainkan ‘islamisasi’ melalui ‘akulturasi’ atau dalam istilah Gus Dur ‘pribumisasi Islam’ dengan substansi yang islami, kemasan tetap menampilkan kultur lokal.”

Hemat kata, santri merupakan ciri khas muslim Indonesia yang mampu menjadi rahmatan (pengasih) karena tidak bersikap radikal terhadap kearifan lokal. Dan, santri juga mampu mewujudkan Islam yang shalihun li kulli zaman wa makan (sesuai dengan setiap waktu dan tempat) yang harmonis dengan kearifan lokal.

Demikianlah penjelasan Guntur Romli sehingga Hari Santri menjadi penting diperingati setiap tahunnya di Indonesia.

___________________

Artikel Terkait: