Mengenal Kapitalisme

Mengenal Kapitalisme
©Alamy

“Kapitalisme adalah tentang kerakusan dan keburukan moral.” Begitulah kata-kata yang sering terdengar dari para kaum sosialisme.

Pernyataan tentang rakusnya sistem ekonomi kapitalisme terkadang membuat para kritikus (sosialisme) yang kebanyakan berasal dari kalangan akademisi muda merasa agak alergi terhadapnya. Menurut saya, hal tersebut menjadi kurang objektif. Karena para kritikus sendiri kebanyakan hanya melihatnya dari sudut pandang literasi sosialis, yang mana terdapat banyak kesalahpahaman dalam mendefinisikan kapitalisme, sehingga menutup mata dan telinga mereka dari literasi yang mendukungnya.

Menemukan pengertian kapitalisme tidaklah cukup jika hanya membaca literasi sosialis semata. Kita juga perlu untuk mencarinya pada literasi pula, salah satunya adalah buku yang ditulis oleh Eamonn Butler yang berjudul Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia.

Buku yang ditulis oleh Eamonn Butler menjelaskan bahwa banyak kekeliruan yang datang dari para kritikus kapitalisme. Seperti; kerakusan, keburukan moral, eksploitasi, monopoli, dan sebagainya yang pada kenyataanya menjadi kurang tepat untuk  ditundingkan terhadapnya.

Dalam tulisan ini saya akan menjelaskan tentang pengertian kapitalisme beserta beberapa poin-poinnya secara ringkas berdasarkan buku yang ditulis oleh Eamonn Butler. Dengan harapan agar para pembaca dapat menambah wawasan serta membuka kembali mata dan hati untuk melihatnya secara lebih objektif.

Pengertian Kapitalisme

Kapitalisme berasal dari kata “caput” (Latin) yang berarti kepala. Awalnya, kata caput tersebut digunakan oleh masyarakat Romawi untuk menghitung kepala hewan ternak yang mereka miliki. Dengan jumlah kepala hewan yang dihitung tersebut, maka akan didapatkan sebuah informasi tentang harta (kemampuan) si pemiliknya.

Ia dapat diartikan sebagai sistem ekonomi yang menekankan pengelolaan modal untuk didistribusikan secara efektif.

Sejarah dan Kenyataan Kapitalisme

Lahirnya kapitalisme ditandai dengan revolusi industri pertama, di mana ditemukannya mesin uap oleh seorang ilmuwan bernama James Watt di Inggris.

Sebelum revolusi industri pada sekitar 1760-an itu, kehidupan manusia tidak banyak berubah. Proses memproduksi barang dan jasa pun masih dilakukan dengan metode yang masih kuno.

Dalam bukunya itu, Eamon Buttler mengatakan bahwa sejarawan ekonomi Amerika, yaitu Deirdre McClosky, mencatat bahwa rata-rata penduduk dunia waktu itu hanya berpenghasilan 1$ – 5$ dalam sehari, yang hari ini rata-rata hanya mencapai 50$ dalam sehari. Berbeda dibandingkan dengan negara-negara yang menganut sistem kapitalisme, seperti Australia, Swiss, dan Kanada yang kini penghasilan hariannya dapat mencapai 90$ dalam sehari.

Peningkatan kemakmuran tersebut sering kali disangkal oleh kaum sosialisme karena dianggap hanya dirasakan orang kaya saja. Namun pada kenyataannya, peningkatan kemakmuran yang luar biasa di negara yang menganut kapitalisme ini tidak hanya dirasakan oleh orang kaya saja. Banyak barang yang dulunya mewah, seperti penghangat ruangan, daging mentah, pakaian ganti, dan sebagainya, sudah dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah.

Kemudahan-kemudahan dalam mengakses barang yang dulunya mewah tersebut tercipta dari sistem kapitalisme, di mana terdapat sebuah kebebasan dalam melakukan produksi barang tanpa ada intervensi politik dari negara, serta keterbukaan kompetisi (persaingan) yang melahirkan inovasi baru antar-produsen barang dan jasa. Sebagai contoh, kita dapat merasakan makanan murah dan berkualitas akibat dari adanya persaingan dagang di antara dua atau lebih rumah makan.

Ciri-Ciri Kapitalisme yang Ditentang oleh Sosialisme

Kapitalisme memiliki berbagai ciri, yang membedakannya dengan sistem ekonomi yang lainnya, yang menjadi salah satu alasan bagi para kritikusnya untuk menentangnya. Ciri-ciri tersebut, antara lain:

  1. Individual

Individual yang dimaksud dalam sistem ekonomi kapitalisme adalah tentang hak kepemilikan modal. Konsep modal di dalamnya tersebut berupa peralatan, barang, dan sebagainya yang menunjang produktivitas agar lebih efektif.

Bagi para kritikusnya yang kebanyakan berasal dari kaum sosialisme, ciri individual (kepemilikan) sering kali dianggap sebagai sifat egois dari kapitalisme. Karena menunjukan sikap egoisme, pada akhirnya dianggap sebagai suatu keburukan moral yang membawa kepada kemunduran sosial.

Padahal dalam kenyataanya, sifat egoisme justru merupakan salah satu hal yang membawa kemajuan sosial. Karena kita dapat fokus terhadap diri sendiri, serta melakukan hal secara sukarela, tanpa ada paksaan dari luar. Berbeda dengan prinsip sosialisme, yaitu altruisme dalam bentuk komunal, di mana lebih memungkinkan terjadinya tindakan paksa. Sebab segala kepentingan harus bersesuaian dengan kepentingan komunal.

  1. Pasar Bebas

Pasar bebas dalam kapitalisme adalah kebebasan dalam pengembangan usaha, serta distribusi barang dan jasa tanpa aturan dan standarisasi yang membatasinya. Marx menganggap bahwa dengan adanya pasar bebas dapat menimbulkan perusahaan besar yang berpotensi melakukan tindakan monopoli terhadap pasar.

Namun ternyata anggapan tersebut masih sangat keliru. Karena apabila terjadinya pembesaran perusahaan, justru menyulitkan perusahaan tersebut untuk menyesuaikan diri dengan selera konsumen yang sangat cepat berubah. Sehingga memberi kesempatan kepada kompetitor yang berskala kecil (para pedagang maupun perusahaan kecil) untuk mendapatkan keuntungan.

Memang benar bahwa banyak pengusaha yang menggunakan pengaruh politiknya untuk berbuat curang. Namun itu bukanlah merupakan inti dari konsepnya.

Dalam kapitalisme yang murni, satu-satunya cara untuk menumbuhkan usaha (bisnis) adalah dengan menyediakan barang dan jasa yang bisa dikonsumsi banyak orang. Dengan adanya perubahan yang serba-cepat dalam teknologi dan selera konsumen, sulit rasanya bagi siapa pun untuk melakukan monopoli.

Moral Kapitalisme

Mungkin, bagi kaum sosialisme, kata-kata moral terlihat lucu bila disandingkan dengan kata kapitalisme. Karena mungkin literasi-literasi sosialis terlalu banyak menutupi pandangan objektif mereka dalam menilainya.

Asas moral dalam kapitalisme tersebut, antara lain;

  1. Sukarela

Sukarela dapat kita lihat pada proses berjalannya pasar bebas. Tidak ada paksaan untuk bertukar (antara konsumen dan produsen). Tidak ada aturan dalam proses distribusi. Segalanya berjalan secara sukarela atas dasar kesadaran dan kepentingan untuk menang dalam kompetisi secara sehat.

Jika ada suatu toko roti yang memiliki harga yang mahal, konsumen dapat secara bebas untuk memilih pada toko roti lainnya yang memiliki harga lebih murah tanpa ada paksaan.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan sistem ekonomi yang dicita-citakan oleh kaum sosialisme. Ia didasari dengan prinsip komunal yang akan membentuk sebuah sistem ekonomi terpusat (central ekonomi). Segalanya diatur dan disetarakan. Kemungkinan besar secara paksa tanpa melihat kebutuhan konsumen.

sebagai contoh; konsumen ingin membeli beras, namun setiap toko beras hanya menawarkan satu jenis produk, dengah harga yang sama pula. Karena segalanya harus setara sesuai standarisasi pembuat kebijakan.

  1. Kerja sama

Kerja sama juga merupakan salah satu tindakan moral yang terdapat dalam kapitalisme. Setiap bentuk kerja sama dilakukan dengan sukarela, berdasarkan nilai (keuntungan) yang disepakati oleh kedua belah pihak yang melakukannya.

Nilai atau biasa disebut sebagai keuntungan merupakan salah satu sasaran kaum sosialisme untuk mengkritik kapitalisme. Ia kerap kali dikatakan sebagai pihak yang hanya bertujuan untuk mencari untung saja. Keuntungan pun dianggap buruk oleh kaum sosialisme.

Perlu diingat, keuntungan bukan hanya sekadar uang saja. Setiap lini kehidupan kita membutuhkan keuntungan pula.

Eamonn Butler membuat contoh ini dengan menggambarkan seorang yang naik ke atas bukit. Dengan berusaha untuk naik ke atas bukit, pastilah kita akan dihargai setimpal (mendapat keuntungan) dengan melihat pemandangan yang indah. Begitu pula kerja sama kapitalisme dalam bisnis. Berbanding terbalik dengan kerja sama dalam lingkup sosialisme yang melakukan hal tersebut atas dasar yang kurang jelas. Sehingga memungkinkan timbulnya sikap dendam dan munafik.

Tujuan Kapitalisme

  1. Kesejahteraan

Kesejahteraan merupakan salah satu tujuan dari kapitalisme yang sering kali dikritik oleh sosialisme. Karena dalam pandangan sosialisme, bentuk kesejahteraan miliknya hanyalah kesejahteraan pribadi, bukan kesejahteraan bersama.

Perlu diingat bahwa kesejahteraan kapitalisme muncul karena adanya usaha individu yang dilakukan dalam berusaha di sektor ekonomi. Namun pernyataan ini masih belum cukup jelas untuk menjawab kritikan sosialisme. Harus disertakan pula dengan tujuan yang berikutnya.

  1. Kesempatan yang sama

Melalui pasar bebas dalam kapitalisme, setiap orang akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk mendapatkan kesejahteraan. Karena tidak ada aturan yang menentukan pembatasan dan standarisasi dalam distribusi, yang memungkinkan setiap perusahaan (besar-kecil) dapat mengikuti kompetisi secara bebas.

Baca juga:

Kapitalisme ternyata tidak melulu tentang kerakusan dan keburukan moral seperti kritikan yang sering dilontarkan oleh para penganut sosialisme yang kebanyakan berasal dari akademisi muda yang baru puber terhadap ilmu pegetahuan.

Pada kenyataannya, terdapat pula sisi terang yang membuat para pendukungnya masih tetap setia terhadapnya. Hal tersebut terlihat dari poin-poin yang telah dijabarkan dalam buku Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia karya Eamonn Butler.

Peran kapitalisme yang secara subjektif saya anggap cukup efektif dalam membentuk kesejahteraan dunia melalui prinsip kebebasan dan kepemilikan. Hal tersebut cukup terlihat jelas dari asas moral dan tujuan dalam kapitalisme yang menjunjung tinggi semangat kebebasan serta kesejahteraan tanpa ada paksaan dari luar.

Sikap sukarela dan kerja sama kapitalisme cukup mudah dibayangkan dalam bentuk nyata. Terdapat kesamaan tujuan dari pihak yang melakukannya dalam proses distribusi untuk mendapatkan keuntungan yang bertujuan pada kesejahteraan.

Berbeda halnya dengan penganut sosialisme yang justru menggunakan prinsip komunal dan ajakan untuk sejahtera. Ini hanya akan membuka celah besar pada tindakan totaliter, dendam, dan munafik.

Agar terlihat lebih jelas, sebagai kata penutup, saya akan mengutip beberapa kata menarik dari buku Eamonn Butler:

Seseorang bisa berimajinasi kapitalisme murni di mana perusahaan bisa maju dengan melayani kepentingan konsumen di kompetisi terbuka, dan bukan didukung oleh kroni atau perlakuan istimewa negara. Tapi seseorang tidak bisa membayangkan sosialisme murni di mana semua orang bahagia berpartisipasi dalam perusahaan kolektif tanpa keterlibatan aparat negara untuk memaksanya.

Kepustakaan

  • Butler, Eamonn. 2019. Kapitalisme: Modal, Kepemilikan, dan Pasar yang Menciptakan Kesejahteraan Dunia. Jakarta: Suara Kebebasan
  • Mises, Ludwig Von. 2011. Menemukan Kembali Liberalisme. Jakarta: Freedom Institute & Friderich Naumann Stiftung