Mengenal Konsep Perawatan Transkultural Gaya Leininger

Mengenal Konsep Perawatan Transkultural Gaya Leininger

Leininger mengakui betapa pentingnya konsep pelayanan keperawatan melalui tindakan membantu, mendukung atau memfasilitasi pelayanan.

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki keanekaragaman suku, budaya, adat-istaidat, agama atau keyakinan. Kenekaragaman ini memberi warna tersendiri akan eksistensi bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa lain.

Keanekaragaman ini turut membentuk cara hidup, tingkah laku dan pola pikir masyarakat. Selain itu, sebagai bangsa yang sedang berkembang berbagai institusi baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan pun kesehatan masing-masing bekerja dalam membangun bangsa ini.

Keanekaragaman budaya dan cara hidup turut memengaruhi pola pikir masyarakat tentang eksistensinya. Tentang kehidupan dan kematian termasuk tentang cara hidup yang sehat. Berkaitan dengan yang terakhir ini, berbagai usaha melalui tradisi, ritus-ritus, pengobatan tradisional  sering ditemukan dalam setiap budaya masyarakat terutama di saat menghadapi sebuah penderitaan.

Di tengah pluralitas cara mempertahankan kesehatan, patut dipertanyakan kembali peran sentral institusi kesehatan kekinian atau pola keperawatan modren. Apakah eksistensi dunia kesehatan modern dapat mengeliminasi gaya pengobatan kultur. Ataukah ada kemungkinan kolaborasi keduanya.

Dalam konteks ulasan ini, penulis lebih tertarik dengan peran petugas kesehatan dalam konteks pelayanan transkultural. Hemat penulis, hal ini sangat urgen untuk ditelaah terutama di tengah pluralitas atau kemajemukan budaya yang turut mewarnai bangsa Indonesia. Perawatan transklutural perlu diperhatikan untuk meminimalisir tejadinya pelayanan yang tidak menyeluruh atau pelayanan yang tidak merata.

Pelayanan transtruktural menuntut tanggung jawab  etis seorang  perawat berhadapan keanekaragaman budaya, kebiasaan, keyakinan dan tradisi dari pasien. Pencetus konsep keperawatan transkultural yang diangkat adalah konsep keperawatan gaya Madeline Leininger.

Lebih Dekat dengan Madeline Leininger

Keperawatan transtruktural adalah konsep baru dalam dunia keperawatan yang mementingkan nilai-nilai budaya pada pelayanan. Pencetus konsep keperawatan transkultural adalah Madeline Leininger, perempuan kelahiran Sutton, 13 Juli 1925.

Ia adalah pendiri sekaligus pimpinan internasional keperawatan transtruktural. Kariernya sebagai seorang perawat diawali pada 1945 kala ia menjadi kader di korps perawat serta mengambil diploma di sekolah perawat St. Anthony, Denver. Tahun 1948, ia berhasil menyelesaikan diploma keperawatan. Dua tahun setelah itu, Leininger menerima gelar sarjana dalam ilmu biologi dari Benedictine College di Atchion, Kansas.[1]

Baca juga:

Sepanjang kariernya sebagai perawat ia kemudian mulai mengadakan sertifikasi gelar perawatan transkultural. Pada 1974 beliau mendirikan organisasi profesional termasuk keperawatan trnastruktural masyarakat. Dua tahun setelah itu Leininger menjabat sebagai presiden pertama dari American Association of Colleges of Nursing.

Dalam konsep keperawatan transtruktural yang dicetuskannya, Leiniger mengakui betapa pentingnya konsep pelayanan keperawatan melalui tindakan membantu, mendukung atau memfasilitasi pelayanan agar sesuai dengan keadaan individu, kelompok, atau nilai-nilai budaya.[2]

Lebih lanjut Leininger mengidentifikasi bahwa dalam pelayanan keperawatan masih terdapat kekurangan yang terletak pada minimnya pengetahuan dari pihak perawat tentang budaya pasien. Hematnya, pengetahuan budaya telah hilang dari rantai pelayanan untuk mendukung kepatuhan, penyembuhan dan kesehatan pasien.

Gagasan Leininger mau menegaskan bahwa perbedaan budaya dalam perawatan mesti diperhatikan dengan menghargai nilai budaya individu atau pasien yang dilayani. Di sini, kepedulian terhadap budaya atau kebiasaan pasien adalah tindakan langsung yang dilakukan untuk mengarahkan, membimbing dan mendukung individu maupun keluarga pada keadaan yang nyata untuk memperbaiki kondisi kehidupan manusia.[3]

Terlihat jelas dalam pandangan Leininger betapa pentingnya mengafirmasi pengaruh nilai-nilai atau kebiasaan dalam kebudayaan masyarakat setempat di mana pelayanan keperawatan itu dilakukan.

Masyarakat didefinisikan sebagai kumpulan orang-orang yang berinteraksi satu sama lain dalam ssatu wilayah tertentu serta menghayati kebudayaan tertentu pula.[4] Dalam masyarakat terdapat nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan atau adat istiadat yang turut memengaruhi kehidupan masyarakat.

Pada kenyataannya, dalam kehidupan masyarakat terdapat isntitusi-institusi yang saling berinteraksi satu sama lain seperti politik, ekonomi, pendidikan, keluarga dan kesehatan. Dalam konteks dunia kesehatan masyarakat memiliki kebiasaan tersendiri dan perspektif tersendiri tentang kesehatan, baik konsep tentang sehat dan sakit maupun tentang perawat atau tenaga kesehatan dalam menghadapi masyarakat.

Dalam pelayanan kesehatan merupakan sesuatu yang lumrah di mana ada perawat atau pelayan medis yang memiliki kecenderungan untuk memaksakan atau menerapkan kepercayaan dan praktik terhadap budaya orang lain. Hal ini terjadi karena kurangnya penerimaan (acceptance) dari perawat itu sendiri terhadap kebiasaan atau tradisi setempat di mana pengobatan dan proses penyembuhan pasien dilakukan.

Halaman selanjutnya >>>
    Latest posts by Ronaldus Firman (see all)