Menggagas Ekonomi Berbasis Kelestarian

Menggagas Ekonomi Berbasis Kelestarian
Ilustrasi: butlerca.com.au

Ekonomi berbasis kelestarian mengupaya pada keseimbangan siklus hidup antara SDA dan SDM. Dengan ciri harmonisasi di wilayah pola produsen-konsumen; dengan perilaku produsen-konsumen mendasar pada pemenuhan kebutuhan riil; dengan pola akumulasi produsen-konsumen yang mengupaya pada penghematan juga bermaksud untuk memperpanjang siklus hidup.

Membincang manusia pasti tidak terlepas dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Dari berbagai cara untuk mempertahankannya, terangkum dalam kegiatan ekonomi—ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi, dan konsumsi.

Sejauh mana kondisi agar dapat memenuhi kebutuhan hajat hidup, manusia dituntut untuk terus mengupayakan kondisi ekonominya. Dalam perjalanan pencapaian, kebutuhan hidup ini mengarah pada perkembangan corak perekonomian juga.

Ekonomi pada mulanya merupakan kegiatan untuk mata pencarian, sebatas pada pemenuhan keberlangsungan hidup. Pola pertukaran yang dilakukan dalam kegiatan jual-beli berlandaskan pada pertukaran setara.

Perilaku produsen dan konsumen cenderung menawarkan pada tataran riil—fungsi dan kegunaan. Hal ini terjadi pada perkembangan awal perekonomian di tataran masyarakat sederhana—primitif.

Selanjutnya, ekonomi mengalami perubahan pola, tidak lagi kemudian menjadi urusan mata pencarian melainkan urusan akumulasi. Sebagaimana arti akumulasi, pola pertukaran yang dilakukan dalam kegiatan jual-beli mengacu pada pertukaran nilai lebih.

Pada perilaku produsen dan konsumen, lebih cenderung akumulatif—penimbunan, pelipat-gandaan keuntungan. Pola ekonomi akumulasi ini dikenal dengan istilah bisnis dan seterusnya. Meskipun terkait dengan mata pencarian, pola seperti ini akan menekan kebutuhan riil—yang sebenarnya merupakan kebutuhan dasar. Ekonomi menjadi urusan pebisnis, bukan lagi urusan mata pencarian.

Bumi menyediakan cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan manusia, tetapi tidak keserakahan setiap orang. ~ Mahatma Gandhi

Ungkapan yang dilontarkan Gandhi kiranya tidak serta-merta lahir tanpa ada tinjauan tentang masa depan manusia dan tempat tinggalnya di bumi. Secara historis, pernyataan itu lahir pada masa kolonial—Inggris—yang menerapkan corak ekonomi industri di India. Dan, pola akumulatif yang menyandingi kegiatan ekonomi industri ini menyebabkan kenapa pernyataan itu lahir.

Perkembangan ekonomi dalam kegiatannya selalu berimbas pada lingkungan. Pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) menjadi komoditas dalam pola produksi. Pun begitu dengan pemanfaatan Sumber Daya Manusia (SDM).

Namun, dalam ekonomi akumulatif, dampak paling besar tertuju pada SDA.. Terutama dengan kemajuan teknologi, posisi SDM mengalami penurunan dalam keberlangsungan produksi sehingga eksploitatif menjadi hal wajar dalam pengolahan SDA.

Eksploitasi terhadap SDA memiliki imbas pada keseimbangan lingkungan. Karena lingkungan juga memiliki sistem untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya.

Ekosistem merupakan tatanan dalam kehidupan di bumi, baik itu yang biotik maupun yang abiotik. Dan manusia merupakan salah satu dari keseimbangan ekosistem. Jadi, baik itu SDA maupun SDM, sama-sama memiliki keterikatan juga keterkaitan untuk saling menjaga keseimbangan.

Tidak disangkal dengan ekonomi, kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Ekonomi merupakan kebutuhan primer. Namun, akan sia-sia jika halnya pemenuhan ekonomi berakibat buruk terhadap lingkungan sekitar di mana kita tinggal. Sehingga, baik SDA maupun SDM, harus mempunyai hubungan untuk saling menyeimbangkan, saling melestarikan.

Hubungan saling melestarikan dalam ekosistem disebut simbiosis mutualisme. Kiranya pola ekonomi berbasis kelestarian merupakan hal yang harus dilakukan. Corak yang berorientasi pada kemaslahatan antara SDA dan SDM.

Ekonomi berbasis kelestarian mengupaya pada keseimbangan siklus hidup antara SDA dan SDM. Dengan ciri harmonisasi di wilayah pola produsen-konsumen; dengan perilaku produsen-konsumen mendasar pada pemenuhan kebutuhan riil; dengan pola akumulasi produsen-konsumen yang mengupaya pada penghematan juga bermaksud untuk memperpanjang siklus hidup.

Pola ekonomi dengan tujuan kelangsungan hidup maupun akumulatif, jika dipadukan dengan mengorientasi pada basis kelestarian, akan memberikan kemaslahatan bersama.

Gagasan tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup kiranya sudah banyak dikemukakan. Apakah itu oleh orang-orang yang telah melihat atau terkena dampaknya, oleh orang-orang yang memang memiliki kesadaran natural—bahwa alam berkait erat dengan kelangsungan hidup manusia—atau oleh orang-orang yang hidup dengan aturan adat agar senantiasa menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Berbagai alasan kenapa pelestarian lingkungan menjadi penting adalah bahwa kita merupakan bagian dari alam.

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Sabiq Ghidafian Hafidz (see all)