Menggugat Rumah Pegangsaan Timur No. 56

Menggugat Rumah Pegangsaan Timur No. 56
©Twitter

Menggugat Rumah Pegangsaan Timur No. 56

Nalar Warga – Sejatinya, mereka hanya sedang meributkan sebuah paku. Gak kurang gak lebih.

Kalau kemudian mereka justru bercerita bahwa tanpa paku tersebut, rumah besar bernama Indonesia tidak lengkap atau bahkan tidak bisa berdiri, Anda tahu gejala kejiwaan macam apa hinggap pada manusia semacam itu.

Kemarin, secara gak sengaja, mereka mendapati sebuah paku dan pada paku tersebut terembos huruf “Y”. Serta-merta Yaman mereka sebut. Tiba-tiba peran dari etnis itu mereka buat bak haru biru sebuah kisah heroik.

Padahal huruf kapital Y itu bisa bermaksud macam-macam. Bisa Dayak, Roy yang gak tersangkut Suryo, atau Syria yang juga pakai huruf “Y”. Bisa jadi pada paku itu pun masih ada huruf J, S dan hingga C yang memburam seiring waktu panjang proses penuaan paku itu.

Bisa jadi rumah di Pegangsaan itu pun bukan eksklusif milik tapi peran banyak pihak yang masih butuh penggalian mendalam atas kisah dan asal-usulnya. Itu butuh pembuktian sejarah bukan tebak buah manggis demi klaim sepihak.

Namun, apa pun itu, sebuah paku tak mungkin menjadi bagian sentral sebuah bangunan rumah misalnya. Pun kehadiran sebuah rumah, dia tidak mungkin menjadi alasan utama sebab Indonesia merdeka.

Tapi kini tak hanya paku, mereka mencari MILIK dalam rupa batu bata, genting, kusen dan hingga pintu sebagai cara klaim bahwa mereka paling besar kontribusinya pada rumah besar itu.

Kini, bendera, lagu kebangsaan hingga lambang Garuda mereka klaim sebagai bukti seolah NKRI lahir karena jasa mereka.

Baca juga:

Lihat saja keramaian media sosial dengan menggunakan narasi seperti itu. Mereka menulis bahwa:

Inisiator bendera merah putih Habib Idrus Salim Al‐Jufri; Pemilik rumah proklamasi Syaikh Faradj Martak; Pencipta lagu “17 agustus” Habib Husein Al‐Muthahar; Perancang lambang Garuda Habib Hamid Al‐Gadri; Diplomat kemerdekaan AR Baswedan; Buat yg benci arab IQRO!

Itu cuitan dari ekowboy2 yang ramai mendapat tanggapan banyak pihak. Spesifik dia menyebut Arab dengan tendensi bahwa etnis itu seolah adalah pihak paling berjasa pada Indonesia merdeka.

Dan narasi seperti itu justru mereka ramaikan saat menjelang perayaan Kemerdekaan RI yang ke-77 yang baru lalu. Itu jelas tak mungkin tanpa maksud.

Bila benar ini adalah karena rasa ingin menggugat, ingin jasanya dilihat, ingin terlihat seolah etnisnya adalah paling heroik dan maka pantas menjadi kasta tertinggi di negeri ini, ini kesintingan luar biasa.

Sebagai etnis, mereka pasti bukan asli Indonesia. Dayak, Bugis, Papua, Jawa, Sumatra hingga Ambon bicara apa itu asli. Namun bukan itu esensi utama, satu Indonesia dalam satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa kunci kebersamaan kita.

Sama dengan etnis asing yang lain, ketika mereka datang dan kemudian diterima, seharusnya kita sudah menjadi satu Indonesia. TIDAK ADA ETNIS PALING BERJASA DI NEGERI INI.

Bila kini mereka seolah menggugat kesal, mereka pamer jasa, itu seperti meludahi ramah rakyat Indonesia. Itu jelas bukan hal pantas untuk dilakukan oleh kaum pendatang apalagi merasa sebagai yang paling eksklusif.

Halaman selanjutnya >>>
Warganet
Latest posts by Warganet (see all)