Menghamba pada Ketakutan

Menghamba pada Ketakutan
©Twitter

Menghamba pada Ketakutan

Akan selalu sama seperti manusia pada umumnya. Ketakutan sudah menjadi niscaya, hadir untuk siapa pun. Kegemilangan tak selamanya digenggam oleh siapa pun, pertanda-pertanda kecil tak kasat mata pemberi tanda muncul sebagai nilai (value) yang terpisah-pisah. Akankah penghambaan ini berhala atau tidak pun, mungkin saja tidak menjadi penghalang hadirnya ketakutan.

Waktu dan tempat sudah menjadi peristirahatan terakhir bagi siapa saja yang lelah menghabiskan tenaganya dalam waktu sehari. Waktu bisa saja diartikan sebagai sesuatu yang membosankan ketika hari-harinya sangat monoton. Waktu bisa juga berubah sangat cepat menjadi momen-momen penting yang tidak akan dilupakan.

Tempat, tentunya tidak terpisahkan dari waktu. Tempat menjadi sangat istimewa kedudukannya atas waktu. Keduanya tidak terpisahkan. Kolaborasi antara keduanya menghasilkan nilai-nilai yang tidak terduga dan kadangkala ada yang meneteskan air matanya, entah itu karena kesedihan, kegirangan, atau ketakutan.

Sensasi dalam setiap orang mengolah wujud nyata dari waktu dan tempat sangatlah membutuhkan keahlian tersendiri dan saya yakin tidak semua orang berhasil mengolahnya dengan baik. Olahan rasa sangat membutuhkan mental yang baik. Mental yang siap untuk menerima ketika sesuatu tampak buruk nilainya.

Misalkan perpisahan yang dirasakan oleh sepasang kekasih. Mereka berpisah karena salah satunya tidak lagi merasakan sensasi yang mengembirakan, atau tidak lagi tertarik pada pasangannya, dan memilih untuk mengakhiri.

Bagi yang ditinggalkan, secara mental tidak akan siap menerima kenyataan bahwa perpisahan telah terjadi.

Pada poin ini, kita sampai pada reaksi seseorang dalam memberi nilai terhadap yang terjadi dari hasil kolaborasi antara waktu dan tempat. Siap dan tidaknya seseorang dalam menghadapi situasi yang rumit ini tentu saja akan mengganggu mental, dan juga kesiapan mental yang harus disiapkan haruslah matang.

Ketakutan Menjadi Begitu Menakutkan

Berangkat dari penilaian kita terhadap apapun yang terjadi, akan ada pengaruhnya pada kita ketika reaksinya kita balas dengan aksi dalam berbagai bentuk apa pun. Sering kali ungkapan ekspresi yang ditunjukkan membawa pengaruh buruk kepada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan alam. Ini justru memperburuk keadaan ketika tindakan asosial dan amoral sebagai bentuk respons dari ketakutan.

Baca juga:

Akan begitu menyedihkan atau barangkali kita tidak pandai memberi nilai bagi sesuatu yang buruk lalu memaksa ketakutan pun hadir menaungi diri kita dan dengan peran ego yang menjadi bumbu pengawet agar kita menghamba pada ketakutan dan berperilaku buruk. Seperti yang dimaksudkan oleh Sigmund Freud tentang ketakutan irasional, keteganganlah yang memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu lalu merugikan banyak pihak.

Kunci utamanya terletak pada pikiran dan hati. Untuk menghindari hal-hal yang buruk haruslah kita mulai dari akarnya sehingga pikiranlah yang mendapat peran penting untuk mencerna lebih dahulu, barulah kita narasikan dalam bentuk positif atau negatif, tergantung dari pikiran kita sendirilah yang mengolahnya menjadi suatu nilai yang mempunyai makna. Apakah masih sangat mengerikan ketakutan itu?

Kehadirannya yang sangat melekat pada sifat manusiawi kita, harus diapresiasikan sebagai salah satu dari kekayaan rasa yang kita miliki, namun perlahan juga kita harus mempertanyakan apakah kita siap untuk menerima ketika dengan cepat perasaan kita berubah-ubah ini?

Ketakutan akan selalu mendapatkan tempat baginya sendiri yang telah siap dan dengan cermat mengantisipasi dalam menanggulangi dampak-dampak dari rasa takut yang berlebihan. Mungkin kita perlu perbaikan mental, mempersiapkan mental, mengolah rasa empati kita terhadap sesuatu dll.

Tanpa sengaja, ketakutan memberi tanda atau semacam pengingat pada kita bahwa mental kita lagi bermasalah. Berarti ketakutan menjadi hal yang sangat positif ketika kita melihatnya dari sisi yang positif seperti ini.

Anak-Anak Muda di Yogyakarta

Cultural shock yang akhir-akhir ini sering kita temui pada anak-anak muda yang disebabkan oleh perubahan sosial. Gaya hidup yang makin beragam, menuntut anak-anak muda dalam pencarian jati diri sehingga harus terlihat berbeda dengan yang lainnya. Ingin tampil beda dan ingin diakui oleh orang-orang bahwa anak-anak muda di zaman sekarang bisa melahirkan satu varian baru yang berbeda, akhirnya mereka dituntut dengan sendirinya bahwa harus mampu memenuhi pencarian jati diri semasa muda mereka.

Gaya hidup konsumsi yang menjadi tawaran pada anak-anak mudalah yang menyebabkan terjadinya pergeseran budaya. Meskipun pada kenyataannya bahwa anak-anak muda berada di posisi yang dilematis antara adat budaya Jawa yang harus dilestarikan dan kehidupan modern yang semakin merambah kota Yogyakarta.

“Tanpa pengendalian, alam akan menghukum manusia sesuai dengan tindakannya.” Inilah pengendalian diri ala Mohandas Karamchand Gandhi, atau lebih dikenal dengan Gandhi. Pengendalian yang dimaksudkan adalah pengendalian dari ‘dalam’ dengan penuh kesadaran terkait ihwal yang diucap, dipikir, diresap, hingga ditindak. Pikiran yang ditawarkan ala Ghandi adalah apa yang berkaitan dengan olahan rasa dari dalam bukannya pengendalian dari luar.

Baca juga:
Yovinianus Olin
Latest posts by Yovinianus Olin (see all)