Mengintegrasikan Filsafat, Ilmu, dan Agama

Mengintegrasikan Filsafat, Ilmu, dan Agama
©Winchester

Filsafat, ilmu, dan agama adalah tiga hal yang sudah jamak kita dengar, entah itu di sekolah, universitas, masjid, gereja, dan lain-lain. Ketakasingan tersebut tak lain dan tak bukan karena mereka menjadi alat yang krusial bagi konstelasi kehidupan manusia. Dengan kata lain, secara apriori, mereka merupakan entitas yang melekat dan tak boleh dipisahkan dari kehidupan manusia.

Filsafat membuat manusia dapat menuju kebenaran atau kebijaksanaan hidup. Melalui ilmu, seseorang dapat menemukan kebenaran objektif dan ilmiah yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dan terakhir adalah agama yang—selain dapat membuat jiwa manusia yang sebelumnya gersang menjadi terang—juga dapat mengarahkan manusia menuju kebenaran akan Yang Akhir atau Yang Absolut.

Oleh karena itu, tujuan dari filsafat, ilmu, dan agama pada hakikatnya ialah berusaha mencapai kebenaran. Namun, mereka memiliki epistemologi dan metodologi yang distingtif untuk melaksanakan tugas mulia itu. Filsafat memompa rasio atau akal budi secara radikal (sampai ke akar-akarnya), sistematis (berurutan dan berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya), integral (menyatu dan tak terpisah), dan universal (menyeluruh) tanpa terikat oleh kungkungan dalam bentuk apa pun.

Agak berbeda dengan filsafat, ilmu berusaha mencapai kebenaran melalui penyelidikan atau riset, pengalaman empiris dan eksperimen-eksperimen yang diuji serta diverifikasi. Ilmu kemudian mengonstruksi teori yang senapas dengan apa yang telah diteliti.

Berbeda dengan filsafat atau ilmu, agama mendasarkan diri secara total pada wahyu. Wahyu itu dikaji, dipelajari, dipahami, ditafsir sesuai dengan keadaan zaman. Namun, kebenaran wahyu secara taken for granted bersifat definitif, absolut, dan abadi. Artinya, ia tak terbantahkan sampai kapan pun.

Watak ini dikarenakan wahyu merupakan risalah atau firman Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang juga menjadi pembeda antara agama dengan filsafat atau ilmu. Kebenaran filsafat dan ilmu bersifat nisbi dan relatif. Sehingga, kebenaran yang ditelurkan oleh filsafat dan ilmu tak abadi sepanjang zaman. Kebenaran itu dipakai sejauh masih sesuai dengan keadaan zaman.

Menelisik perbedaan tersebut, bisakah filsafat, ilmu, dan agama diintegrasikan? Dengan lain kata, bisakah filsafat, ilmu, dan agama saling mendukung dan saling bekerja sama dalam menjalankan tugasnya? Jawabannya ialah bisa.

Filsafat dapat menggunakan ilmu sebagai objek materialnya. Karena itu, ilmu bisa dikaji, dibedah, dikritisi atau bahkan dipertanyakan oleh filsafat. Lahirlah kemudian apa yang dikenal sebagai “Filsafat Ilmu”. Filsafat juga membutuhkan ilmu untuk mengkonkretisasikan teori-teorinya yang sering kali abstrak.

Baca juga:

Tak boleh dilupakan, filsafat juga kadang kala membutuhkan agama. Tak jarang filsuf-filsuf justru menemukan kebenaran melalui wahyu agama. Misalnya, Ibnu Arabi yang berhasil merumusukan konsepsi ketuhanan dengan Wahdatul Wujudnya—salah satunya—melalui interpretasi atas kitab suci.

Sementara itu, ilmu mesti membutuhkan filsafat. Filsafat digunakan oleh ilmu untuk menyusun metode-metode penyelidikannya agar makin akurat dan valid dalam menemukan kebenaran. Dalam konteks ini, cabang filsafat seperti logika sangat krusial untuk digunakan.

Di sisi lain, ilmu juga membutuhkan agama. Watak dari agama adalah kepercayaan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta ini. Manusia diperbolehkan oleh Tuhan untuk mengambil manfaat dari alam semesta ini. Maka, menjaganya merupakan kewajiban. Namun, manusia yang hanya menggunakan ilmu dan mengeksklusi agama sering kali mengklaim bahwa ia adalah pemilik alam semesta ini. Sehingga, tak masalah bila ia diekplotasi, diapropriasi atau diperas demi memuaskan nafsunya.

Banjir, tsunami, longsor, dan bencana alam lainnya pasti akan hadir untuk mengoyak-ngoyak umat manusia. Maka, dengan menggunakan agama, ilmu justru dapat memperlakukan alam layaknya makhluk yang mesti dirawat dan dilestarikan. Alam pasti akan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Akhirnya terbentuklah hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.

Penting untuk dicatat bahwa agama juga membutuhkan filsafat dan ilmu. Filsafat dapat digunakan oleh agama untuk membuktikan keberadaan dan eksitensi Tuhan. Pada titik ini, metafisika yang menjadi cabang filsafat bisa digunakan untuk menghajar argumen-argumen orang yang sudah tidak percaya dengan Tuhan dan pada akhirnya memperteguh keimanan orang yang beragama.

Agama juga mesti membutuhkan ilmu untuk mempelajari dan menafsirkan wahyu. Jika menanggalkan ilmu, pemahaman yang muncul sering kali tertutup dan eksklusif. Dampaknya ialah sikap gampang menyalahkan atau mengafirkan orang lain. Namun, jika agama disertai dengan ilmu, pemahaman yang muncul cenderung terbuka dan inklusif. Sikap saling menghargai dan bertenggang rasa terhadap orang lain yang kemudian muncul.

Lebih jauh lagi, penafsiran wahyu yang disertai dengan ilmu akan membawa seseorang menyentuh atau mendekati ajaran-ajaran dan tanda-tanda Tuhan. Dengan demikian, orang yang beragama dapat mengetahui perintah dan larangan Tuhan dengan baik dan benar.

Baca juga:
Muhammad Akbar
Latest posts by Muhammad Akbar (see all)