Mengintip Korea Utara

Mengintip Korea Utara
Foto: Scoopnest.com

Nalar WargaSeperti apakah hidup di Korea Utara? Umumnya orang yang hidup di luar Korea Utara dibombardir dengan informasi dari media internasional yang menggambarkan seakan-akan hidup di sana seperti neraka, miskin sekali. Apakah itu benar?

Ok. Kita fair aja. Sudah jelas Korea Utara akan lebih terbelakang dari negara-negara Asia Timur lain. Mereka itu negara hermit, dan menderita sangsi ekonomi seluruh dunia, atas desakan Amerika Serikat. Mereka bisa hidup terus karena Cina terus memberikan infus ekonomi.

Jangan bandingkan Korea Utara dengan Korea Selatan, yang sudah modern. Jelas gak bisa dibandingkan. Jangan juga bandingkan Korea Utara dengan Cina. Sudah jelas langit dan bumi. Tetapi seriusan, berapa kota di dunia yang bisa dibandingkan dengan Beijing atau Shanghai? Jadi kita harus fair di sini.

Tetapi karena saya berasal dari Indonesia, saya tahu dirilah, situasi di Indonesia sering gak lebih baik daripada Korea Utara! Apalagi situasi di negara-negara berkembang lainnya. Satu hal, setidaknya wilayah miskin di Korut tidak sekotor di beberapa negara.

Anak-anak sekolah di Korut. Seragamnya masih seperti seragam sekolah Cina di era Revolusi Kebudayaan. Ada selendang merah revolusioner kebanggaan. Anak-anak di sana disiplin sekali, sesuatu yang menghilang di dunia lain.

Kontras foto stasiun kereta api di Pyongyang dan foto serupa di wilayah-wilayah pedesaan. Foto kedua diambil dengan sembunyi-sembunyi dengan kamera cellphone oleh seorang dari Cina.

Iya, di foto kedua terlihat ada kemiskinan. Tetapi bukankah demikian juga stasiun kereta di kota-kota kecil di Jawa?

Para buruh di perkotaan tinggal di apartemen sederhana. Yang di pedesaan hidup di rumah trasional. Foto rumah di kota kecil terbelakang Korut diambil oleh wartawan barat sebagai contoh kemelaratan Korut.

Kok saya malah lihat rumah desa itu malah bagus? Emang kenapa dengan rumah segitu?

Kehidupan pedesaan Korut yang oleh media barat dianggap abject poverty. Ok. Mereka bukan orang kaya, tapi akah itu kemiskinan yang parah? Lha, di Barat, kalau ada rumah pedesaan kek gitu, dianggap idyllic dan bahkan picturesque.

Foto ini juga diambil diam-diam oleh kamerawan Cina. Anak-anak berenang di tepi sungai. Ya memang di sana gak ada kolam renang modern kecuali di kota-kota besar. Tapi apa salahnya berenang di sungai?

Lihat sungai bersih, banyak sungai di negara-negara “demokrasi” hitam-hitam.

Judul berita dari media Inggris: Bleak photos of daily life in poverty-stricken rural villages in North Korea (Foto-foto memelas dari kehidupan sehari-hari di pedesaan melarat di Korea Utara). Itu bukan desa kaya. Tapi jelas wartawannya gak ngerti apa itu kemiskinan.

Ada yang lalu bilang, eh tapi di Korea ada banyak penjara kek Gulag. Iya, itu mungkin benar. Tetapi bukankah demikian juga dengan banyak negara lain? Cina, Rusia, bahkan Amerika juga ada Gulag gila di Guantanamo. Maksudnya, yang fair-fair aja deh kalau menilai.

Warga Korut gak boleh keluar Korut dengan gampang. Betul memang begitu. Tetapi bukankah begitu juga di Cina dan Rusia dulu? Toh mereka survive dan Cina malah melejit pesat?

Jika sanksi ekonomi Korut dicabut, dan mereka mau ikut CIna mengembangkan ekonomi, pasti mereka melejit pesat.

Maksud saya sih, membandingkan sesuatu harus fair, dan dengan fakta. Kalau mau dibandingkan dengan Korsel, ya jelas Korut kalah. Tapi kalau dibanding dengan banyak negara berkembang lain, belum tentu lho.

Korut bersih, disiplin. Dan kalau sanksi ekonomi dicabut, weleh, bisa melambung.

Lihat juga: Mengapa Negara Gagal – Awal Mula Kekuasaan, Kemakmuran, dan Kemiskinan

Yang paling suka membusuk-busukkan Korea Utara adalah kelompok misionaris Kristen, karena Korut suka menangkan misionaris gelap itu. Ok memang di sana mah punya rasa nasionalis tinggi, gak suka ideologi-ideologi asing, termasuk agama-agama asing.

Namun, gak bisa gara-gara itu bilang hidup di sana parah banget.

Orang-orang Korut itu nasionalis, lebih dari Korsel. Saya gak bisa bilang itu jelek atau bagus. Mereka itu mirip orang Cina era Mao, ke mana-mana bawa emblem pemimpinnya. Mirip KMT Taiwan dulu, ke mana-mana pakai hiasan dengan bendera segi-12. Tapi bukankah Indonesia banyak yang pakai Garuda di dada?

Foto-foto yang saya pakai di atas diambil dari pihak yang justru ingin memperlihatkan Korut sebagai tempat melarat. Saya gak mau pakai foto-foto dari pemerintah Korut, entar dibilang pencitraan. Tetapi bahkan foto-foto yang diambil oleh pihak yang ingin bilang Korut busuk, kok kagak ya?

Foto-foto orang Korut berenang di kolam renang, dari media barat. Bukankah mirip dengan negara-negara lain juga? Soal kehidupan modern, di mana-mana mirip.

Oh ya, orang Korut pakai cellphone juga, rancangan Korut sendiri.

Distorsi media tentang Korut bukan hanya didorong oleh ideologi, tetapi jadi profil. Isi-isi buku fiksi dan film-film komedia tentang Korut sering dianggap benaran. Salah satunya adalah The Interview, film komedia yang memperlihatkan supermarket Korut isinya buah plastik. Eh dianggap benaran.

Film The Interview yang sebenarnya produksi Kanada (walaupun seperti biasanya, banyak film Kanada dipasarkan sebagai Hollywood supaya laku) itu film fiksi, laku keras karena menertawakan Korut. Memang lucu sih. Dari sinilah banyak cerita-cerita konyol tentang Korut bermunculan.

Tapi sebenarnya setiap orang yang punya sense baik pasti tahu The Interview itu film komedi dan satire, gak dianggap serius. Tapi ternyata ada banyak orang, terutama yang dari gereja-geraja Kristen Evangelicals anggap itu film dokumenter. Ini preview-nya:

Ok. Tetapi jelas Kim Jong-un bukan cute pet. Memang ada banyak fakta dia melakukan penyingkiran terhadap penasihat-penasihat terdekatnya. Itu urusan politik.

Cuma tidak semua sassus aneh-aneh tentang dia yang faktual. Banyak diciptakan oleh pop culture, dan itu memang seru dan lucu.

*Twitter: @Mentimoen

Netizen NP
Pengguna media sosial | Warganet