Mengkritik Gubernur Sulbar, Maman Suratman Terancam Pidana

Mengkritik Gubernur Sulbar, Maman Suratman Terancam Pidana

Nalar Politik – Sejumlah warga Kabupaten Polewali Mandar (Polman) berencana akan memidanakan Maman Suratman. Hal tersebut sebagai imbas dari unggahannya di Facebook yang berusaha mengkritik Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Ali Baal Masdar (ABM).

Dalam unggahannya tertanggal 24 Juni 2020, mahasiswa asal Mamuju ini menulis, “Marasa gayana i puang, maraqdiana to cangngo.” Secara harfiah, itu bermakna, “Keren gayanya sang tuan, rajanya orang bodoh.”

Hal itu kemudian memicu warga Polman, khususnya kelompok dan individu yang mengatasnamakan diri Angkatan Muda Palili dan Pemuda Tapango (salah satu kecamatan di Polman), untuk melaporkannya ke pihak kepolisian. Mereka merasa unggahan Maman telah mengusiknya.

“Kami sangat menyayangkan adanya status (unggahan Maman Suratman) tersebut. Tentu, kami sebagai masyarakat Palili sangat kecewa,” kata Ketua Umum Angkatan Muda Palili, Dedy Irawan, Kamis (25/4).

“Pasti akan kami bawa ke ranah hukum dan meminta kepada aparat agar yang bersangkutan dituntut secara hukum adat di Tapango,” tambahnya sebagaimana dilansir Sandeq.net.

Di tempat lain, hal senada disampaikan pemuda Tapango, Anca Sanjaya. Hari ini, kabarnya, ia akan turut melaporkan Maman Suratman atas unggahannya yang dianggap menyinggung itu.

“Besok (hari ini), saya akan ke Polda Sulbar, melaporkan akun Facebook Maman Suratman itu. Saya selaku pemuda asal Tapango merasa tersinggung,” ujar Anca kepada Mediaekspress.id.

Jejak Digital

Kini, akun Facebook Maman Suratman sudah tidak bisa diakses. Untungnya ada beberapa jejak digital yang memuat klarifikasinya. Ia menjelaskan apa maksud dari unggahannya, yang ternyata banyak disalahpahami.

“Maraqdia adalah raja, penguasa tertinggi suatu kerajaan. Adapun gubernur, maknanya sebatas kepala pemerintahan tingkat provinsi. Sulawesi Barat (Sulbar) adalah provinsi, bukan kerajaan. Di sana, kini, ABM duduk selaku pengurusnya (gubernur),” jelas Maman.

“Kalau ada yang menilai ABM adalah ‘maraqdia’, maka yang bersangkutan itulah yang dimaksud ‘to cangngo’ (orang bodoh). Sementara yang ‘cangngo kuadrat’ adalah mereka yang menyalahpahami status sebelum ini,” sambungnya.

Pada unggahan berikut, Maman Suratman kembali menegaskan perihal “maraqdiana to cangngo”. Ia menyebut tidak kenal ABM selain sebagai Gubernur Sulbar. Bahwa posisi ABM selaku pengurus provinsi memperjelas bahwa dirinya bukanlah raja (maraqdia) di tanah kelahirannya.

“Ketika ada yang menilainya sebagai maraqdia, rajanya Sulbar, yang bersangkutan itu jelas orang bodoh (to cangngo). ABM, kalau begitu, pantas berjuluk ‘maraqdiana to cangngo’, raja bagi mereka yang bodoh; bodoh karena menganggap ABM itu raja, padahal tahu posisinya sebagai pengurus provinsi saja,” jelas Maman kembali.

Itulah alasan yang menurut Maman kenapa ABM tidak layak disebut maraqdia.

“Cuma orang bodoh yang akan melabelinya demikian. Sebab tanah lahir saya bukanlah kerajaan. Tanah lahir saya hanyalah sebuah wilayah yang kini diurus oleh gubernur dan jajarannya (ABM dkk., kebetulan),” pungkasnya.