Menjadi Ken Arok di Era Global

Menjadi Ken Arok di Era Global
Ilustrasi Ken Arok dalam sampul novel "Arok Dedes" karya Pramoedya Ananta Toer

Selalu akan ada rezim-rezim Tunggul Ametung lainnya yang bertahta secara zalim. Maka siapkah kita selaku mahasiswa menjadi seperti Ken Arok yang menggunakan keilmuannya untuk menggulingkan kezaliman itu?

Sebagai negara yang terlibat dalam pergaulan internasional, Indonesia tidak bisa lepas dari agenda global. Salah satu agenda yang tengah dijalani Indonesia saat ini adalah Sustainable Development Goals (SDG’s) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

SDG’s sendiri merupakan kesepakatan yang ditandangani oleh 193 negara di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kesepakatan ini adalah tindak lanjut dari pelaksanaan Millenium Development Goals (MDG’s) yang berakhir pada tahun 2015. Terdapat 17 poin dengan 169 targetan dalam SDG’s yang harus diupayakan oleh negara terlibat, termasuk Indonesia.

Salah satu poin yang ada dalam SDG’s adalah Industry, Inovation, and Infrastructure. Poin ini mendorong negara terlibat untuk mengupayakan pembangunan infrastruktur yang berkualitas, mendorong peningkatan industri yang berkelanjutan, serta mendorong inovasi.

Namun, dalam pelaksanaannya, pembangunan infrastruktur sering kali berhadapan dengan banyak permasalahan. Bukan hanya pada permasalahan humanitas berupa perampasan lahan hidup manusia, tapi juga permasalahan ekologi yang semakin pelik dari hari ke hari.

Tumbal Pembangunan

Sejarah mencatat, masifnya proses pembangunan infrastruktur di Indonesia dimulai ketika dibukanya kran investasi pada masa pemerintahan kolonial. Pemberlakuan undang-undang Agraria memberikan kebebasan kepada investor untuk membuka investasinya di Indonesia. Berkembanglah banyak industri yang membutuhkan kemajuan infrastruktur guna menyokong operasionalnya.

Setelah Indonesia merdeka, proses pembangunan infrastruktur terus berlanjut. Jalan tol, pelabuhan, jalur kereta api, hingga pembangkit listrik dibangun di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini tidak lain adalah untuk mempermudah arus operasional dari ratusan industri yang ada di Indonesia.

Banyaknya proyek pembangunan infrastruktur telah berhasil mengubah wajah Indonesia. Daerah-daerah pelosok semakin mudah dijangkau karena jaringan jalan raya sudah terbangun. Perbatasan semakin bercahaya karena sudah bisa menikmati aliran arus listrik.

Namun, dalam perkembangannya, kita selaku generasi muda sering kali abai terhadap dampak lain yang ditimbulkan pembangunan. Bertambahnya jaringan jalan raya dikagumi karena telah berhasil menghubungkan daerah yang satu dengan daerah yang lain.

Kita melupakan fakta bahwa ratusan hektar belantara digunduli untuk membangunnya. Kita memuja lampu-lampu bohlam yang tak pernah berkedip, tapi mengabaikan fakta bahwa pembangunan pembangkit listriknya menggusur ratusan tempat tinggal manusia Indonesia.

Barangkali memang sudah kodratnya pembangunan selalu meminta ‘tumbal’. Tentunya yang paling sering dikorbankan adalah alam yang tidak bisa membela diri layaknya manusia. Seperti yang terjadi pada proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTB) di Gunung Slamet, Jawa Tengah.

PLTB yang proyeknya dimenangkan oleh PT Sejahtera Alam Energy (SAE) ini telah menimbulkan banyak permasalahan ekologi dalam proses pembangunannya. Hal ini dikarenakan pembangunan PLTB tersebut dilaksanakan di atas lahan yang merupakan zona merah.

Dalam press release yang dikeluarkan oleh Aliansi Selamatkan Slamet, disebutkan bahwa dampak langsung telah dialami oleh masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Slamet. Dampak yang dimaksud adalah tercemarnya mata air dan sungai. Bahkan terjadinya banjir di 5 sungai besar, yakni sungai Prukut, Mengaji, Logawa, Banjaran, dan Kali Pelus. Serangan dari hewan liar juga mengancam keberlangsungan pertanian warga.

Mahasiswa Bisa Apa?

Saya adalah seorang yang masih belum bisa menemukan bukti nyata bahwa mahasiswa adalah agent of change di masyarakat. Pun dengan kontribusi nyata yang bisa diberikan mahasiswa dalam kaitannya dengan kemaslahatan masyarakat.

Hingga dalam sebuah diskusi via grup WhatsApp Peduli Bumi Slamet, kesadaran itu tumbuh. Seorang peserta diskusi yang merupakan penjual nasi goreng di Purbalingga melontarkan sebuah statement yang mungkin bisa dijadikan muhasabah bersama bagi kita, selaku mahasiswa.

“Kami, masyarakat di lereng Gunung Slamet, sangat tahu apa yang terjadi dengan Gunung Slamet dan apa yang mengancam kehidupan kami. Tapi masalahnya, kami ini orang awam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan dan strategi apa yang digunakan untuk melawan. Untuk itu, kami butuh mahasiswa dan para pelajar untuk membantu perjuangan kami. Kami yakin mahasiswa dan pelajar selalu punya inovasi dalam bergerak,” katanya.

Pengetahuan yang didapatkan dalam dunia perkuliahan tentunya bisa menjadi potensi yang besar manfaatnya dalam perjuangan mahasiswa. Namun, nampaknya pendidikan yang diberikan di Indonesia, termasuk pendidikan tinggi hingga hari ini, belum bisa memberikan keterampilan legowo; keterampilan mengikhlaskan pengetahuan yang dimiliki untuk kemaslahatan bersama. Bekal intelektual yang dimiliki justru menjadi jurang pemisah antara mahasiswa dengan masyarakat awam.

Untuk itulah mahasiswa perlu wadah lain di luar lembaga pendidikan formal untuk mengembangkan keterampilannya. Organisasi daerah adalah salah satu wadah yang bisa digunakan untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa, termasuk keterampilan legowo.

Seperti dalam kasus pembangunan PLTB di Gunung Slamet, peran organisasi daerah sesungguhnya sangatlah besar. Peranan tersebut secara sederhana dapat diuraikan sebagai berikut :

Pertama, organisasi daerah berperan dalam mengorganisir mahasiswa dari berbagai jurusan dan dari berbagai latar belakang pengetahuan. Bekal pengetahuan ini akan sangat berguna dalam membantu perjuangan masyarakat sekitar lereng Gunung Slamet. Penempatan manusia yang tepat dalam posisi yang tepat juga akan semakin mudah dengan adanya orang-orang yang kompeten di bidangnya.

Kedua, organisasi daerah akan menjadi wadah pemersatu pandangan. Di sinilah pentingnya organisasi daerah dalam membentuk ketrampilan legowo bagi para mahasiswa anggotanya. Organisasi daerah harus bisa memberikan pemahaman di luar mainstream lembaga pendidikan formal bahwasanya pengetahuan yang didapatkan selama proses pembelajaran adalah untuk masyarakat selaku kiblat pengabdian.

Ketiga, nama daerah yang disandang oleh organisasi daerah akan senantiasa menjadi reminder bagi para anggotanya. Perjuangan yang diupayakan di tanah rantau melalui pembelajaran dengan segala prosesnya tidak lain adalah untuk persiapan untuk diaplikasikan secara nyata di daerahnya. Sejauh apa pun bangau terbang, ke kubangan jua ia pulang.

Keempat, relasi organisasi daerah dengan pemerintah daerah asal dapat digunakan untuk menggali informasi mengenai permasalahan yang sedang terjadi di daerah asal. Tentunya, langkah yang tepat hanya bisa diambil jika keadaan sudah diketahui dan dibaca dengan seksama. Hubungan ini pula yang bisa dimanfaatkan untuk penyampaian aspirasi oleh mahasiswa kepada pihak berwenang.

Mahasiswa sebagai generasi muda terdidik yang sudah terorganisir mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam perubahan di dalam masyarakat. Bukankah sejarah sudah banyak mencatat keberhasilan mengubah keadaan di masyarakat yang dilakukan oleh generasi muda terdidik yang terorganisir?

Seperti pada revolusi menggulingkan kezaliman Tunggul Ametung yang digagas Ken Arok dengan dibantu kaum Brahmana. Kaum Brahmana melambangkan segolongan muda terdidik pada masa itu.

Akan ada rezim-rezim Tunggul Ametung lainnya yang bertahta di atas kekayaan alam yang dimiliki Indonesia. Pertanyaannya adalah, siapkah kita selaku mahasiswa menjadi seperti Ken Arok yang menggunakan keilmuannya untuk menggulingkan kezaliman di Tumapel? Menjadi seperti Ken Arok yang berani mengobrak-abrik tambang emas Tumapel yang menyengsarakan para budak?

Mampukah kita menjadi Ken Arok di era global yang mampu menggunakan keilmuan yang kita miliki untuk mewujudkan pembangunan yang manusiawi dan didasarkan pada prinsip ekologi di Indonesia?

#LombaEsaiMahasiswa

*Diniar Nur Fadilah, Kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Korp Aksara Rayon Pondok Syahadat. Menempuh pendidikan di Program Studi Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga. Anggota di Himpunan Mahasiswa Sunan Kalijaga-Cilacap (HIMAH SUCI). Bisa dihubungi di nomor 089507761250 atau melalui instagram @dhianufha

___________________

Artikel Terkait:

    Peserta Lomba

    Peserta Lomba Esai Nalar Politik

    Latest posts by Peserta Lomba (see all)