Mental Gratis

Mental Gratis
©Arkademi

Nalar Warga – Sejak tumbangnya Soeharto, mulai banyak politikus yang menumbuhkan mental gratis. Entah siapa yang memulai. Politikus menjanjikan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan berbagai layanan lain secara gratis. Kalau mau menggratiskan, berarti politikus itu merakyat, peduli pada wong cilik, dan itu keren. Padahal ini adalah pembodohan.

Digratiskan itu bukan berarti layanan itu tanpa biaya. Segala macam layanan itu ada biayanya. Soalnya adalah, siapa yang menanggung biayanya? Pemerintah. Dari mana sumber dananya? Dari anggaran.

Apa yang dilakukan oleh politikus itu? Dia benar-benar keren kalau dia mampu menggali sumber-sumber pendapatan baru, yang dipakai untuk membiayai layanan tadi. Tapi itu nyaris tidak pernah terjadi. Ia hanya mengalihkan pos anggaran. Itu artinya ada layanan lain yang dihilangkan.

Apa yang dihilangkan? Nah, ini yang mengerikan. Banyak hal fundamental yang dihilangkan, demi mengejar layanan gratis tadi. Pembangunan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, hal-hal yang sulit membuat masyarakat bahagia secara instan, itu adalah target yang mudah dihilangkan.

Politik semacam ini adalah kegiatan bunuh diri secara perlahan. Uang negara, uang rakyat, tidak digunakan untuk membuka sumber-sumber penerimaan baru, tidak memicu produktivitas. Sekadar dipakai untuk keperluan harian yang tidak memberi nilai tambah. Sialnya, sebagian dari uang itu diperoleh dari utang.

Kita ini jauh dari kemakmuran yang membuat segala macam pelayanan bisa digratiskan. Berbagai layanan gratis itu boleh diberikan ketika negara punya kelebihan uang. Lha, kita tiap tahun berutang untuk menutupi defisit APBN, kelebihan dari mana?

Ada hal sesat yang diajarkan pada rakyat, yaitu seolah negara hebat itu adalah negara yang menggratiskan. Bukan. Negara hebat itu adalah negara yang mendorong rakyatnya untuk bekerja keras dan peduli pada diri sendiri.

Apa akibatnya kalau serba gratis? Layanan kesehatan gratis membuat orang lalai dalam menjaga kesehatan. Pendidikan gratis bisa menurunkan daya juang dalam belajar.

*Hasanudin Abdurakhman

Warganet