Mental Pecundang dan Anies Baswedan

Mental Pecundang dan Anies Baswedan
©Maxres

Salah satu mental pecundang yang mungkin masih terwariskan oleh leluhur kepada kita ialah kita masih ingin berkuasa di antara orang-orang lemah.

Anies Baswedan buktinya. Sekalipun panah kritik bertubi-tubi menghujam di mukanya, kena di pelipis matanya, menembus dahinya, merobek bibirnya, aku kira kritik semacam itu hanyalah hasrat purba yang masih terwariskan kepada kita. Sebabnya, Anies hanyalah person. Hanya karena menjabat gubernur sehingga ia bisa mengatur anggaran.

Masalahnya, Anies menjadi gubernur bukanlah semacam restu dewa sehingga semuanya bisa serba kebetulan. Ada mekanisme negara yang harus dipenuhi sehingga seorang Anies, yang jorok, kumal, menjijikkan di masa kecilnya yang kurang lebih sama menjijikkannya seperti kita semua, sampai ia bisa menjadi seorang Anies yang gubernur.

Bahkan mekanisme negara itu berlaku bukan hanya pada saat pra, tetapi juga pasca.

Sayangnya, kita menghadapi Anies sebagai person. Seolah ia benar-benar cerdik sehingga bisa mengelabui publik. Dan anehnya, kita terdorong mengkritik lantaran cara canggihnya yang katanya nilep anggaran akirnya diketahui publik.

Kalau itu perilaku person, mungkin lagi apes. Kalau tidak apes, tidak mungkin juga satu person bisa mengelabui kita semua. Berulang kali pula.

Artinya, person tetaplah person. Tetap membawa sifat alamiahnya yang lemah, yang serba tak berdaya di hadapan orang banyak. Lantas, buat apa ingin berkuasa di antara orang-orang lemah?

Seharusnya, kasus Anies ini membuat kita semua merasa tertampar. Bahwasanya, sistem bernegara kita tidak benar.

“Inteligen kita mana, apa bisanya hanya membongkar kasus prostitusi artis? KPK kita mana, katanya komisi pengendus korupsi? Partai politiknya mana, kok dulu Anies yang dicalonkan? Presiden mana, kok nggak ragu menjalankan sistem negara ini yang kayaknya ambigu?”

MUI kita mana? (MUI jangan ditanya. Itu bukan lembaga negara!)

Baca juga:

Saya membayangkan minimal kritik dari publik seperti pertanyaan-pertanyaan itu, pikiran publik menghujam ke sistem bagaimana lembaga negara seharusnya bekerja menjalankan negara, bukan mengkritisi orang. Sebab, kata Socrates juga, pikiran yang lemah membicarakan orang, pikiran yang biasa-biasa saja membicarakan fakta, pikiran yang kuat membicarakan gagasan!

Sistem itu gagasan, kuat melekat dan memengaruhi kita. Jalan tidaknya suatu sistem tergantung pada citra mental yang terbentuk dari sistem itu sendiri, tergantung pada citra mental apa yang ada di benak pejabat itu sendiri.

Seharusnya kita mampu berkuasa di atas citra mental itu. Mawar harusnya jatuh pada sistem, bukan pada person yang serba lemah. Sebab, ingin berkuasa di antara orang-orang lemah dulu pernah tersistem pada cara kita bermasyarakat. Dobrak!

Masifnya mental pecundang di republik ini lantaran negara tidak punya visi-misi yang jelas tentang masa depan!

    Iwan Rahmat (Weins)

    Sarjana Teknik Mesin | Data Scientist | Aktif berdiskusi, ngopi, dan menaruh harapan besar terhadap kemajuan bangsa.
    Iwan Rahmat (Weins)