Mentalitas Paramiliter Komisi I DPR RI

Mentalitas Paramiliter Komisi I DPR RI
©Liputan6

Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Pergantian Panglima TNI di Komisi I DPR RI  hari ini, sabtu 6/11/2011. Hadir Jenderal TNI Jenderal Andika Perkasa sebagai calon tunggal Panglima TNI.

Tapi bukan hal itu yang menarik perhatian. Justru tampilan busana baju taktikal warna hijau mirip seragam tentara yang dikenakan sebagian anggota Komisi I saat uji kelayakan dan kepatutan calon Panglima TNI.

Rasanya publik bertanya, mengapa wakil rakyat itu menyerupai tentara? Bukankah marwah dan martabat mereka sebagai legistlatif atau anggota DPR RI lebih tinggi?

Mengapa mereka menyamakan dirinya seperti tentara dalam forum resmi kenegaraan? Bukankah mereka harusnya lebih tinggi derajat, harkat dan martabatnya?

Sejenak kita kembali ke sejarah awal bagaimana sistem politik negara kota muncul sejak zaman Yunani. Dibagi dalam 3 ranah, yakni ekselutif, legislatif, dan yudikatif. Legislatif itu mewakili rakyat dalam sistem demokrasi, yang artinya pemerintahan dan kekuasaan rakyat (Demos dan Kratos).

Sejak zaman Yunani sudah disampaikan filsuf Aristoteles dan JJ Rousseau memberikan pemikirannya, bagaimana wakil rakyat harus mampu mengawasi dan mengawal jalannya penyelenggaraan kekuasaan negara. Di situlah harkat dan martabat rakyat diwakili legislatif.

Sesungguhnya yang dilakukan anggota Komisi I DPR RI justru merendahkan martabat rakyat dan tidak menegakkan sistem demokrasi.

Baju taktikal yang dikenakan para legislator itu seolah menundukkam dirinya menjadi bagian dari tentara atau menjadi bawahan Panglima TNI. Sejatinya TNI justru “bawahan” rakyat.

Lalu mengapa Pimpinan dan Anggota Komisi I DPR RI merendahkan dirinya, tidak menjaga derajatnya? Mereka melecehkan rakyat, tidak paham filosofinya sebagai legislator. Mungkinkah mereka lebih suka bermain PUBG daripada membaca buku?

Baca juga:
    Dikson Ringo
    Latest posts by Dikson Ringo (see all)