Menukar Tangis Jadi Senyum

Menukar Tangis Jadi Senyum
©Pexels

Menukar Tangis Jadi Senyum

Tiap mata memejam
di depan ada wajahmu
menatapku lapar
seolah ingin memeluk
dengan erat kedua tangan

Saat hujan menderas
kukira suaramu
memanggil namaku
membisikkan rayu
bernuansa rindu

Kala angin berembus
ingatan akan kamu
menerpa begitu kencang
sampai isi pikiran
hanya disesaki rasa sepi

Setelah kita bertemu
menukar tangis jadi senyum
jiwa kita yang beku
dijatuhi sinar hangat cinta
hingga meleleh seperti es krim

Tali Pengikat Hati

Segaris rindu
Kian memanjang
Dan menjadi tali
Pengikat hati kami

Siapa bisa lepaskan ini
Bila bukan Tuhan sendiri?

Sedang Aku Hanya Selembar Selimut

Dia mengenakan cahaya bulan
Sebagai sinar kedua matanya

Segala kegelapan di diri ini
Dia pudarkan sekali pandang

Suaramu terbuat dari sumber telaga
Tempat aku tuntaskan tiap dahaga

Pelukanmu adalah magma merah
Pada gigilku kala sepi menghimpit

Dan apakah aku bisa jadi selembar selimut
Untukmu bisa terlelap di musim dingin?

Menarik Kail Kebahagiaan

Buram mataku tidak memudarkan
betapa banyak tumpukan kasihmu
telah tertampung di dalam hati

Gemuruh roda kereta memangkas sepi
Dari Solo engkau tiba-tiba tiba kemari
Laju kakiku kencang menghambur
Coba peluk kamu hingga diri melebur

Untaian panjang senar cinta
Telah digulungkan pendek
Pada tongkat kayu Tuhan

Kita di sana melekat tanpa lepas
Dan hanya dikendorkan bila
Dipasangkan kail ikan kebahagiaan
Untuk kita tarik bersama

Gada Werkudara Pun Mustahil Menggoresmu

Kalbumu kristal kuarsa,
berkerlip-kerlip
disorot matahari pagi.

Terpoles halus
oleh gesekan penderitaan
secara bertubi tanpa ampun.

Biar gada milik Werkudara
dihantamkan, setitik goresan
mustahil terukir.

Memang benar kamu mustika
yang bila aku bawa, keberuntungan
hidup akan menjadi bayang-bayang.

Memangkas Kesedihan

Apa sudah aku pangkas
Kesedihan panjangmu itu?
Yang melebihi Sungai Berantas
Tempat kita akan bertemu?

Arham Wiratama
Latest posts by Arham Wiratama (see all)