Menulis Tak Kenal Putus Asa

Menulis Tak Kenal Putus Asa
©Editage

Salah satu yang membuat orang malas untuk menulis adalah tidak adanya rasa cinta terhadap tulisan sendiri.

Di tengah perkembangan teknologi, sebagian besar orang tidak lagi menyibukkan dirinya untuk membaca buku. Orang lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar handpone.

Namun berbeda dengan Pak Sito. Dalam kesehariannya, dia selalu meluangkan waktu untuk membaca buku tanpa meninggalkan pekerjaannya yang lain. Dia sangat pandai mengatur waktu. Suatu kehormatan bagi saya ketika itu ia meluangkan waktunya dan mengindahkan undangan saya untuk bertemu beliau.

Dalam pertemuan kali itu, timbullah dalam diri saya keinginan untuk terus menulis. Hal ini terjadi karena saya termotivasi dengan sosok beliau yang sangat sederhana, tetapi penuh dengan ide-ide berlian dalam dirinya.

Sebelum kita lanjut, saya ingin memperkenalkan secara singkat sosok Pak Sito. Beliau adalah putra pertama dari Bapak Zakarias dan Ibu Sebina. Beliau menjadi panutan dalam keluarga besarnya. Ia sangat sopan dan bijak dalam memberikan keputusan. Pak Sito juga merupakan seorang penulis yang terkenal dan telah menulis buku dengan pelbagai macam judul.

Terlepas dari itu, dalam perbincangan dengannya, banyak hal yang beliau sharing-kan, terutama dalam hal menulis. Beliau juga menyampaikan demikian:

“Pada dasarnya, setiap orang itu bisa menulis, tetapi tidak semua orang bisa membahasakan sesuatu itu dengan baik dan mempertanggungjawabkan tulisannya itu dengan baik pula. Hal ini tergantung dari pribadi orang tersebut, sejauh mana ia memahami dan menempatkan dirinya dalam tulisannya tersebut.”

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa menjadi penulis itu harus rendah hati dan siap menerima kritikan. Sebab, terkadang apa yang kita tulis tidak memberikan solusi yang baik bagi pembaca dan bisa jadi pemahaman pembaca tidak sampai pada inti tulisan kita.

Pada pertemuan kali itu juga, saya menceritakan semuanya kepada beliau terkait dengan kendala dan hambatan yang saya alami ketika mulai menulis. Mungkin setiap penulis khususnya penulis pemula mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, di mana saat memulai tidak tahu apa kata atau kalimat pertama yang mau kita tulis. Selain itu, kurangnya budaya membaca menyulitkan seorang penulis untuk mengembangkan ide atau gagasannya.

Baca juga:

Padahal menurut Pak Sito dan penulis-penulis terkenal lainnya, “Jika ingin menjadi penulis, rajinlah membaca. Sebab dengan membaca cakrawala pemikiran kita akan makin luas. Sejatinya, penulis tidak saja menulis apa yang ia pahami, tetapi lain daripada itu, penulis juga mesti memahami apa yang orang lain tulis.”

Ketika itu juga saya menceritakan kepada beliau terkait dengan minat saya dalam menulis makin kurang. Hal ini karena kegagalan-kegagalan yang saya alami berulang kali. Saat itu, beliau menyampaikan:

“Kegagalan adalah salah satu hal yang paling saya benci dalam hidup. Namun, dari kegagalan juga saya belajar untuk terus berusaha. Seperti apa yang disampaikan pepatah, kegagalan bukan merupakan akhir dari perjuangan kita, tetapi kegagalan merupakan awal dari kesuksesan. Yang paling penting di sini adalah bagaimana kita bangkit dari kegagalan itu.”

Pernyataan itulah yang menyadarkan saya betapa pentingnya bangkit dari kegagalan.

Lebih lanjut Pak Sito juga mengatakan demikian:

“Sudah diamini bahwa tidak ada orang yang hidup tanpa mengalami kegagalan. Orang sukses tidak semata-mata dia langsung sukses, tetapi dia berjuang untuk melewati lika-liku kehidupan yang penuh dengan tanda tanya dan dalam melewati semuanya itu ia pasti mengalami kegagalan. Namun, dia mampu dan belajar dari kegagalan itu untuk mengubah cara pandangnya terkait dengan hidup dan pekerjaannya. Sama halnya juga dengan menulis; setiap penulis pasti mengalami kegagalan, baik besar maupun kecil.”

“Apa yang kita tulis itu belum tentu bagus. Tetapi sejelek-jeleknya isi tulisan tersebut, kita mesti menghargai atau mencintainya. Yang mesti kita lakukan adalah mengubah dan melihat kembali formulasi dan isi kalimat dalam tulisan itu, sehingga menarik untuk orang lain baca. Selain itu, kita juga harus memperhatikan makna dan keindahan tulisan itu.”

“Sejak pertama saya menulis, saya mengalami kegagalan seperti yang saudara alami sekarang. Tetapi, saya terus belajar dan membaca tanpa ada keinginan untuk berhenti menulis, sehingga pada akhirnya apa yang saya tulis menjadi bacaan orang banyak.”

Halaman selanjutnya >>>
    Jordi Sahat
    Latest posts by Jordi Sahat (see all)