Menyelamatkan Kewarasan Manusia

Menyelamatkan Kewarasan Manusia
©Cartoon Stock

Dengan ilmu, kebaikan-kebaikan akan duduk bersama menyelamatkan kewarasan manusia.

Bangsa yang sibuk berdebat tentang agama sesungguhnya tak sanggup berdebat tentang ilmu-ilmu pengetahuan terbaru. Manusia yang berdebat soal asal-usul suku sesungguhnya tidak sanggup berdebat tentang problem-problem paling baru, apalagi menyelesaikannya.

Manusia yang jadi bagian bangsa seperti ini mudah jadi objek politisi-politisi petualang yang mau berkuasa tanpa berpikir tapi cukup dengan menyemburkan api. Membakar emosi-emosi primordial yang melekat di tubuh manusia sejak janin atau sejak kanak-kanak (suku dan agama).

Jika kamu mendapati dirimu terjebak di tengah-tengah bangsa seperti itu, apa yang akan kau lakukan? Ikut dalam histeria lingkunganmu atau membuat orang-orang itu tak relevan dengan melakukan terobosan-terobosan?

Mereka jejeritan tanpa jempol mereka terinjak. Sama seperti mereka menginjak kepala orang-orang, histerianya membuat telinga pekak.

Mari berkaca dari Pakistan. Negara yang lama menikmati demokrasi prosedural tapi tak kunjung naik kelas dalam kemajuan. Mereka tersandera.

Kita lahir dan besar di negeri ini. Tak ada ranah yang tak bisa kau sentuh dengan pikiran jernih, nurani, dan tanganmu. Konstitusi melindungimu. Tenangkan orang-orang histeris itu. Kita bisa. Masa depan memihak kita.

Sesungguhnya tak banyak orang jahat di negeri ini. Jauh lebih banyak orang baik dan orang tak jahat digabung jadi satu. Yang saya tahu memang tak banyak orang berani di negeri ini. Bahkan meskipun setelah orang baik dan tak jahat digabung jadi satu. Itu masalah kita.

Saking sedikitnya orang berani, kita sering meminta pemberani-pemberani untuk mengurangi keberaniannya. Bukan karena kita tak suka, tapi karena kita sayang pada orang-orang berani yang bisa saja mati dan kita susah menggantikannya. Karena cuma dalam keberanianlah orang-orang tak bisa pura-pura.

Kau bisa pura-pura kaya, pintar bahkan cantik. Tapi tak ada yang bisa pura-pura berani. Karena pembuktian keberanian itu seketika dan terang benderang. Sementara untuk membuktikan yang lainnya, kau bisa menunda sampai orang-orang lupa bahwa kau sebenarnya tak kaya, cantik atau cendekia.

Pemberani-pemberanilah yang membuat history. Yang baik saja tapi tak bernyali ramai-rami membuat story. Kita sering mengonsumsi yang kedua sehingga banyak kehilangan kesempatan membicarakan ilmu-ilmu terbaru dan sibuk berdebat tentang hal yang gak ada wasitnya: keyakinan dalam agama.

Baca juga:

Dulu saat kami belia, kami merasa terjebak dalam kuasa rezim jahat yang cerdas. Tapi musuh generasi muda masa kini lebih susah ditaklukkan. Sesamamu sendiri yang menganggapmu musuh karena yang kau pahami berbeda dengan yang mereka yakini. Mereka tak di atas, tapi di sebelahmu.

Tindakan merangkul mereka untuk hidup bersama itu sendiri mereka tafsirkan sebagai sebuah serangan. Karena hidup bersama-sama denganmu mereka anggap sebuah noda.

Mengeluarkan dogma berjelaga dari kepala mereka itu yang utama. Jika ini berhasil, bangsa kita akan lebih rileks atas perbedaan dan lebih bersemangat atas laju peradaban.

Jika di lingkunganmu (tetangga, pertemanan atau keluarga) mulai banyak yang berpikiran seperti ini, artinya kamu punya soal yang lebih susah dipecahkan di sebelah kirimu ketimbang tumpakan seluruh buku di sebelah kananmu (lihat ilustrasi).

Bagaimana melawan ekstremisme dan intoleransi? Dengan pendekatan keamanan saja? Tak cukup. Dengan memunculkan tafsir-tafsir moderat atas ajaran agama? Tak cukup. Lahirkan budaya baru. Budaya ilmiah. Ini bukan hak eksklusif dunia akademis, tapi bisa juga seluruh masyarakat.

Budaya ilmiah masyarakat adalah berani bertanya dan mengatasi problem-problemnya sendiri dengan dirembuk bareng-bareng. Tak buru-buru menutup perdebatan dengan “Ini haram! Itu halal!”. Kata Remmy Sylado, bangsa kita kebanyakan bawa-bawa tuhan untuk menyelesaikan urusan yang bisa diurus pak RT.

Tapi jika melihat survei PPIM UIN Jakarta di bawah ini, memang tantangannya tak mudah. Mau memulai dari mana coba?

Survei di atas tadi dilakukan pada 2018. Persentase yang cukup banyak (40,36 persen) di kalangan guru yang merasa bahwa kitab suci cukup sebagai sumber ilmu sehingga tak butuh buku-buku ilmu lain (yang lahir dari proses Revolusi Sains dan Renaisans Barat) sangat mengejutkan. (Tirto)

Di era otoriter, ekstremisme dilawan dengan pendekatan keamanan. Di era demokrasi, ekstremisme dilawan dengan tafsir moderat ajaran-ajaran agama. Sekarang saatnya melawan ekstremisme dan intoleransi dengan Renaisans (melahirkan budaya ilmiah masyarakat). Pandemi jadi pemicunya!

Di era otoriter, pendekatan keamanan dilakukan untuk menjaga kelestarian kekuasaan (yang otoriter). Di era demokrasi, pendekatan tafsir agama yang moderat dilakukan untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bermasyarakat.

Nah, di era New Normal, pendekatan ilmiah dilakukan untuk melawan ekstremisme demi survival-nya (kelestarian) peradaban. Pertaruhannya kian besar dari hari ke hari: kekuasaan => kebangsaan => peradaban.

Peradaban lebih banyak runtuh (dan korban jiwa lebih banyak jatuh) oleh niat-niat baik tanpa basis ilmu yang karenanya saling membunuh. Dengan ilmu, kebaikan-kebaikan akan duduk bersama menyelamatkan kewarasan manusia.

*Budiman Sudjatmiko

Baca juga: