Merawat Kewarasan dari Kemiskinan Moral

Merawat Kewarasan dari Kemiskinan Moral
©PULSK

Ini bukan bentuk penjustifikasian kepada mereka yang mengalami degradasi moral. Mungkin kita harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud tentang kemiskinan moral.

Moral sendiri didefinisikan tentang sebuah nilai baik dan buruknya sikap ataupun perilaku seseorang dalam kehidupan bermasyarakat, sedangkan kemiskinan diartikan sebagai keadaan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Maka kemiskinan moral adalah ketidakmampuan seseorang dalam berperilaku yang baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya ingin berangkat dari pemikiran filsafat Eksistensialisme Friedrich Wilhelm Nietzsche dalam mendobrak kedok yang diagungkan dalam kebudayaan barat yang menjadi dekadensi, atau yang menjadi kritik-kritiknya terhadap moralitas kebudayaan barat pada masa itu (Doktrin Gereja Kekeristenan).

Dalam bukunya “Melampau baik dan buruk” yang menuliskan tentang Genealogi Moral. Objektivitas tentang pandangan tertentu dan rasionalitaslah menjadi kedok atau dalang atas kemiskinan nilai-nilai moral. Emosional manusia merupakan satu nilai moral yang menurut Nietzsche dapat dimiskinkan oleh rasionalitas.

Jika kita berangkat dari pemikiran Nietzsche tersebut, rasionalitas seperti apa yang dimaksudkan Nietzsche yang memiskinkan nilai moral tersebut? Bukankah rasio menjadi sumber yang paling benar dalam mengambil satu keputusan? Dan apakah Doktrin Gereja yang dimaksudkan Nietszche benar-benar memiskinkan nilai moral manusia pada masa itu?

Rasio menurut Immanuel Kant dalam Dialektika Transendental merupakan 3 konsep/ide yaitu ide psikis (jiwa), ide kosmologis (dunia ), dan ide teologis (tuhan ). Immanuel kant menjelaskan bahwa rasio dapat menjalankan ilmu pengetahuan, sehingga rasio dapat memberikan perintah kepada kehendak manusia.

Di zaman yang makin angkuh dan bobrok ini, terkadang rasio dijadikan objek utama perintah yang kemudian menjadi aktor atau dalang atas perintah tersebut adalah mereka yang mencoba memiskinkan nilai-nilai moral manusia. Sehingga sesuatu yang terlihat tak wajar menjadi sangat wajar sebab dikukuhkan atas objek rasio tersebut.

Entah itu dalam bentuk kebiasan yang kemudian menjadi tradisi di masyarakat, ataupun menjadi semacam bentuk aturan dan kebijakan yang dibuat dan kemudian tampa sadar telah menciderai dan memiskinkan nilai-nilai moral.

Baca juga:

Pembaca yang terhormat saya berharap anda bisa menjadi pembaca yang rasional. Saya ingin menjelaskan sedikit terkait apa yang dimaksud oleh Nietzsche tentang doktrin gereja yang memiskinkan nilai moral agar pembaca tidak gagal nalar ataupun salah tafsir dalam hal ini.

Pada periode abad pertengahan khususnya di negara-negara Eropa, negara berada di bawah payung kekuasaan Rohani Gereja Katolik. Segala bentuk kekuasaan, hukum dan konstitusi serta pranata-pranata sosial bermasyarakat dikaitkan dengan wahyu. Tuhan menjadi objek atau sumber utama dalam kegiatan manusia.

Sayangnya pemimpin-pemimpin gereja kala itu bersikap feodal. Gereja dijadikan sebagai alat politik, mengedepankan kepuasan rohani atas kehendak pribadi. Akibatnya justru melahirkan kemorosotan moral dan iman dan membentuk sikap egois masyarakat.

Fenomena tersebut hari ini terjadi di mana-mana. Kemajuan teknologi menjadi faktor terbesar dari kemiskinan moral. Tidak ada lagi saling tegur sapa antara tetangga di pagi hari karena dunianya disibukkan dalam bayang-bayang hyper realitas atau ruang-ruang imajinasi yang makin nyata.

Belum lagi munculnya wacana metavers, tata krama yang tidak lagi ditemukan dalam interaksi sosial, bayi yang baru lahir sudah mampu beradaptasi dengan dunia teknologi. Begitu sangat dimiskinkannya nilai-nilai moral manusia oleh teknologi, lantas bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Perlu adanya kesadaran diri, perlu ada batasan-batasan yang harus ditanam. Dunia yang makin bergantung kepada teknologi perlu adanya sebuah batasan, sebab manusia yang semakin tidak terkontrol akan lupa akan jati dirinya sendiri, merasa asyik hidup dalam dunia maya, sehingga melupakan kehidupan nyata, waktu yang dihabiskan berjam-jam untuk bermain gadget perlu ada pembatasan.

Manusia harus ada jadwal hidup agar kewarasan tetap terkontrol. Jangan sampai teknologi yang menjadi kontrol atas manusia itu sendiri.

Baca juga:
    Febrianto Arifin
    Latest posts by Febrianto Arifin (see all)