Merayakan Natal di Timur Tengah

Merayakan Natal di Timur Tengah
Foto: Times of Israel

Nalar Warga – Apakah juga adamasyarakat merayakan Natal di Timur Tengah? Ya jelas dong. Kepriben sih rika? Kristen kan asalnya dari Timur Tengah, ciiyynn, bukan dari Ngamerika atau Medan he he. Ya wajarlah kalau Natal juga dirayakan dengan meriah di sini.

Ucapan populer Natal di kawasan Arab Timur Tengah adalah “Id al-Milad” yang Bahasa Inggrisnya “Holiday of the Birth”). Kata “Al-Milad” disitu menunjukkan khusus kelahiran Yesus. Kalau kelahiran orang lain, mereka menyebutnya “Id Milad” tanpa “al” atau “the” dalam Bahasa Inggris.

Dewasa ini diperkirakan ada sekitar 13-14 juta populasi umat Kristen lokal (“pribumi”) di Timur Tengah yang tersebar di berbagai negara. Populasi ini belum termasuk kaum migran (“nonpri”) Kristen yang seabrek jumlahnya tersebar di berbagai kawasan, khususnya Arab Teluk (Saudi, Oman, Bahrain, UEA, Kuwait dan Qatar).

Perayaan Natal di Timur Tengah khususnya sangat terasa di kawasan yang populasi umat Kristen lokalnya cukup besar seperti Palestina, Libanon, Yordania, Suriah, Irak atau Mesir. Bahkan di sejumlah negara (seperti Yordania, Libanon, dan Irak), untuk menghargai umat Kristen, Natal dijadikan sebagai hari libur nasional.

Khusus di Irak, penetapan hari libur Natal sejak 2008. Sementara di Libanon, tanggal 6 Januari juga dinyatakan sebagai hari libur Natal untuk menghormati Gereja Armenia.

Karena ada sejumlah denominasi dan kongregasi Kristen, perayaan Natal di Timur Tengah bukan hanya dirayakan pada 24/25 Desember saja tetapi juga 6 dan 17 Januari, tergantung pada keyakinan masing-masing atas kelahiran Sang Juru Selamat Yesus Kristus.

Setiap negara memiliki tradisi perayaan Natal yang khas dan unik. Di Palestina misalnya, pusat perayaan Natal terkonsentrasi di kota suci Bethlehem, tempat di mana Yesus dilahirkan. Di sini, ritual Natal digelar selama 3 kali dengan 3 bahasa dan di 3 waktu yang berbeda.

Umat Kristen Protestan dan Katolik pada 24 Desember, umat Gereja Ortodoks Yunani pada 6 Januari, sedangkan umat Gereja Armenia pada 17 Januari. Pusat ritual Natal bukan di Church of the Nativity tetapi di Church of St Catherine of Alexandria.

Di Irak, perayaan Natal berlangsung sangat khidmat dan khusuk. Mereka biasanya memulai perayaan Natal dengan pembacaan “Manaqib Yesus” atau cerita sejarah tentang Yesus yang dibacakan oleh anak-anak. Setelah selesai pembacaan kisah Yesus, mereka kemudian membakar api unggun dari dahan, ranting dan duri-duri kering.

Menurut kepercayaan umat Kristen Irak, kalau semua bahan api unggun tadi menjadi abu, maka itu pertanda kebaikan dan keberuntungan akan datang di kemudian hari.

Di Mesir, Natal dirayakan pada 7 Januari, sesuai dengan kalender umat Kristen Koptik. Tradisi Natal umat Koptik di Mesir seperti tradisi Lebaran di Indonesia. Setelah menunaikan ibadah Natal, masing-masing keluarga Kristen menyantap “makanan tradisional Natal” bernama fata (campuran roti, daging, nasi) atau kalau di Indonesia semacam opor kupat/lontong lah kira-kira. Mereka kemudian mengunjungi tetangga, sanak-saudara dan menawarkan fata untuk disantap bersama.

Tradisi Natal di Suriah lain lagi. Anak-anak harus sabar menanti kedatangan onta muda yang akan membawa tiga orang bijak yang akan mengunjungi tempat Yesus dilahirkan. Tiga orang bijak itu, dalam perjalanan ke Bethlehem, akan membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak (seperti Sinterklas).

Perayaan Natal paling meriah di Libanon. Maklum, populasi umat Kristen sangat besar disini. Bukan hanya Kristen Maronite saja tetapi juga dari gereja-gereja lain. Seperti di Barat, rumah-rumah, gedung-gedung, kantor dan mall penuh dengan dekorasi pohon Natal dan pernik-pernik lain guna menyambut kelahiran Yesus Kristus.

Bahkan bukan hanya umat Kristen saja yang merayakan, kaum Muslim juga ikut-ikutan bersuka-cita menyambut dan memeriahkan Natal. “Id al-Milad al-Masih”.

*Sumanto Al Qurtuby

___________________

Artikel Terkait:
Share!