Miftahul Huda dan Radikalisme Pesantren

Miftahul Huda dan Radikalisme Pesantren
©Miftahul Huda

Pondok pesantren Miftahul Huda sudah final mengajarkan paham-paham radikal pada santrinya.

Sebelum masuk lebih jauh, ada baiknya penulis membahas lebih dulu tentang paham Islam yang ada di pesantren.

Pada prinsipnya, ajaran Islam yang ada di dalam pesantren tak lain adalah Islam yang berkembang di luar pesantren. Pesantren tidak memiliki pemahaman tersendiri tentang keagamaan. Hanya saja, pesantren lebih mengembangkan dan melembagakan Islam. Oleh karena itu, penting sekali bagi kita memahami paham keagamaan (iIslam) yang sedang berkembang di luar pesantren sebagai rujukan.

Di mata publik, posisi pesantren sangatlah istimewa. Publik memercayainya sebagai satu-satunya lembaga yang membentuk moral masyarakat. Lebih-lebih sumbangan pesantren terhadap bangsa dan negara sangatlah besar pengaruhnya. Bahkan, sejarah mencatat, Indonesia merdeka tidak lepas dari perjuangan pesantren.

Tapi, seiring berjalannya waktu, muncul kemudian isu tidak sedap dengan adanya dugaan radikalisme di pesantren. Isu seperti ini tentu sangat memukul bagi kalangan pesantren dan alumninya yang selama ini meyakini pesantren bukanlah lembaga yang mengajarkan paham radikal. Stereotip semacam ini, bagi para santri, tentu sangatlah tidak benar.

Jika kita melihat lebih kritis dan masuk sedikit ke dalam, sesungguhnya isu seperti ini tidaklah jauh berbeda dengan fakta (slogan) yang sedang mencuat di dalam pesantren itu sendiri: pesantren sebagai penjara atau ada yang menyebutnya penjara suci. Ungkapan seperti ini muncul karena adanya kekangan, kekerasan, baik dari segi sistem, struktur, aturan, dan budaya di dalam pesantren itu sendiri.

Kalau memang harus membedakan antara keduanya, tentu isu radikalisme pesantren sifatnya lebih makro, sedangkan pesantren sebagai penjara sifatnya mikro.

Terlepas apakah isu ini benar atau salah, setidaknya ini jadi motivasi bagi pesantren ke depannya agar lebih introspeksi diri. Karena bagaimanapun, isu seperti ini tidaklah berangkat dari dialektika yang kosong. Mereka punya alasan tersendiri mengapa menyebut pesantren demikian.

Ini yang kemudian menjadi pemicu bagi saya pribadi untuk menuliskan kembali tentang pesantren dan radikalisme.

Baca juga:

Pesantren adalah asrama tempat santri atau tempat murid-murid yang belajar mengaji dan sebagainya. Sedangkan terminologi radikalisme di sini sangat luas cakupannya.

Saya tidak membatasinya pada kasus pengeboman saja, tetapi juga kekerasan lain yang ada kaitannya dengan pesantren. Sebagai representasi, saya pribadi mengartikannya sebagai kekerasan atau penganiayaan yang dilakukan individu atau kelompok terhadap orang lain, baik kecil maupun besar. Definisi ini saya ambil dari apa yang ada di lapangan. Mungkin Arestoteles menyebutnya sebagai definisi kontekstual.

Definisi tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari batasan definisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI, radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial atau politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Varian Tafsir dalam Islam

Seperti telah kita ketahui, berbicara masalah tafsir dalam Islam sangatlah bervarian. Jihad, baik di kalangan mufasir klasik utamanya modern, ada yang mengartikan sebagai suatu kewajiban. Seperti tafsir Abul A’la Al Maududi dan Sayyid Kutb, kedua orang ini mengatakan bahwa jihad adalah perang dalam agama, bukan saja mempertahankan tetapi juga menyebarkan pesan-pesan Islam.

Jihad bagi mereka bukan bersifat defensif tetapi ofensif, bukan saja bertahan tetapi juga menyerang. Kelompok radikal kemudian memakai ini untuk mengesahkan kekerasan.

Yang perlu kita ingat adalah bahwa ini hanyalah sebuah bagian dari varian atau ragam tafsir yang ada dalam Islam, belum sampai kepada eksistensi Islam itu sendiri. Sekarang kita tinggal memosisikan diri kita ada pada pemahaman yang mana. Tentunya setelah adanya beberapa pertimbangan matang, tafsir mana yang mendekati kebenaran dari eksistensi Islam itu sendiri.

Karena, di sisi lain, banyak mufasir lain yang tidak setuju dengan model tafsir seperti itu. Seperti Hasan Hudaibi yang malah berpendapat lain bahwa Islam sejatinya adalah agama kasih sayang, agama yang mengajarkan kebenaran, agama yang sangat toleren, antikekerasan.

Asghar Ali Engineer dalam banyak tulisannya itu mengulas tentang adanya kesalahpahaman interpretasi mengenai Islam, baik dari kalangan muslim itu sendiri maupun orang barat.

Halaman selanjutnya >>>
Latest posts by Imam Jasuli (see all)