Milenial Tidak Hanya Fasih Nama Para Pahlawan

Milenial Tidak Hanya Fasih Nama Para Pahlawan
©IDN Times

Tanggung jawab mempertahankan apa yang telah para pahlawan terdahulu perjuangkan kini beralih ke tangan milenial.

Dalam sebuah institusi negara, damai bukanlah suatu keadaan yang datang dengan sendirinya, melainkan tercipta dan terus terupayakan. Sebuah negara, dalam satu waktu, dapat berada pada titik kedamaian sebagaimana yang masyarakatnya cita-citakan. Pun demikian, bukan berarti situasi sebaliknya tidak mungkin terjadi di kemudian hari.

Manakala konflik kepentingan tidak dapat terakomodir, menciptakan chaos di mana-mana, mewujud dengan berbagai aksi kekerasan sekaligus brutal, maka dapat kita pastikan bahwa perdamaian telah terusik. Para pahlawan dan perjuangannya pun menjadi penting untuk terus kita hadirkan.

Dengan situasi zaman yang terus mengalami perubahan, tentu perluasan makna pahlawan adalah suatu keharusan. Jika dulu pahlawan kerap terasosiasi dengan penjajahan, maka kini, siapa pun dapat menjadi pahlawan, selama mengedepankan kepentingan tanah air.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa ancaman terhadap negara tidak melulu datang dari luar. Lebih dari itu, ancaman serius justru dapat muncul dari dalam tubuh negara itu sendiri.

Ironisnya, kesadaran tersebut tidak berbanding lurus dengan sikap yang tertonjolkan, terutama kalangan milenial. Tidak sulit menemukan mereka yang apatis terhadap segala bentuk ancaman perpecahan di tubuh persatuan dan kesatuan negara kita. Sebut saja narasi-narasi provokatif yang marak belakangan ini, baik di dunia nyata maupun dunia maya, yang minim perhatian dari kalangan milenial.

Alih-alih memberi edukasi yang mampu mencerdaskan generasi bangsa, milenial justru terlibat secara aktif maupun pasif menyebarluaskan upaya perusakan tatanan bangsa itu lantaran ego yang termobilisasi oleh kepentingan pribadi. Sungguh miris melihat kolonial bertampang baru tersebut sengaja generasi penerus bangsa jaga dan rawat.

Sudah sepatutnya bagi para milenial mengambil peran, menjadi motor penggerak perubahan sebagaimana yang pernah Bung Tomo lakukan 73 tahun silam. Meskipun tidak adil untuk membandingkan peran perubahan keduanya, namun spiritnya tentu memiliki sifat genuine tersendiri.

Segala bentuk tindakan yang dapat menggerogoti keutuhan negara mesti kita tanggulangi sejak dini. Dan, kaum milenial adalah kelompok yang memiliki kualifikasi terbaik untuk itu, serta layak kita tempatkan pada garda terdepan. Selain karena energi yang mereka miliki, idealisme milenial bukanlah sesuatu yang mudah untuk kita intervensi.

Baca juga:

Tidak dapat tidak, masih banyak pekerjaan rumah yang relatif berat untuk kita wujudkan. Meskipun demikian, berbekal identitas seperti kemampuan beradaptasi serta multitasking yang para milenial miliki, bukan hal yang mustahil kita dapat menciptakan negara sejahtera, sekaligus eksis di panggung masyarakat dunia.

Milenial tidak dapat menghindari pusaran perubahan sosial. Ia wajib melek situasi dan kondisi sekarang atau akan datang. Teori survival of the fittest cukup untuk jadi bahan renungan para milenial, di mana keberlangsungan hidup berdasar dari keberhasilan dalam menghadapi segala bentuk perubahan.

Fasilitas yang memadai tidak seharusnya menjadikan milenial terjebak pada kemewahan dan kesenangan semata. Terlebih melupakan perannya bagi negara. Mendamaikan nalar dan ego merupakan spirit yang terus para pahlawan terdahulu pegang. Sikap tersebut sangat relevan untuk kaum milenial terapkan saat ini.

Akhirnya, perjuangan milenial adalah soal kecepatan dan ketepatan dalam mengambil start. Lakukan apa pun yang dapat dilakukan, selama kemaslahatan bersama pertimbangannya.

Tanggung jawab mempertahankan apa yang telah diperjuangkan para pahlawan terdahulu kini beralih ke tangan milenial. Keutuhan NKRI akan terjaga selama  milenial tidak hanya fasih dengan nama para pahlawan saja!

    Latest posts by Abu Bakar (see all)