Mitos “Banyak Anak Banyak Rezeki” Menghambat Pengendalian Jumlah Penduduk

Mitos “Banyak Anak Banyak Rezeki” Menghambat Pengendalian Jumlah Penduduk
©KlikDokter

Masyarakat percaya bahwa jika memiliki banyak anak, rezeki dan kesejahteraannya akan terjamin.

Masalah kependudukan merupakan salah satu masalah yang serius bagi setiap negara. Negara di dunia, baik yang negara maju maupun negara berkembang, memiliki masalah mengenai kependudukannya, khususnya negara berkembang seperti Indonesia.

Perlu diketahui, berdasarkan data Administasi Kependudukan (Adminduk), Indonesia memiliki jumlah penduduk mencapai 272.229.372 jiwa di tahun 2021.[1] Dari data tersebut, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai negara yang memiliki penduduk terbanyak di dunia.

Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat akan menjadi ledakan penduduk yang berdampak pada kesejahteraan suatu negara, seperti tingginya tingkat pengangguran, kriminalitas, dan memburuknya kondisi sosial lainnya.

Mempunyai anak merupakan anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan untuk orang tu. Maka dari itu, keberadaan anak dinilai sangat penting. Selain itu, anak merupakan penerus keturunan dan juga aset bagi keluarga.

Pada lingkungan perdesaan, keberadaan anak dianggap bisa membantu pekerjaan orang tua. Kondisi masyarakat lingkungan perdesaan yang masih kental akan budaya dan adat istiadat menjadikan pola kehidupannya sederhana, semangat gotong royong, dan saling membantu satu sama lain masih terjalin sangat erat.

Sebagian masyarakat perdesaan bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Oleh sebab itu, masyarakat perdesaan lebih memilih untuk mempunyai anak yang banyak sehingga nantinya bisa meringankan pekerjaan orang tua.

Tantangan yang dihadapi dalam mengendalikan laju populasi di Indonesia adalah perspektif masyarakat mengenai mitos “banyak anak banyak rezeki”. Ungkapan tersebut sudah menjadi hal yang umum sejak dahulu hingga saat ini. Masyarakat percaya bahwa jika memiliki banyak anak, rezeki dan kesejahteraannya akan terjamin. Populasi yang terus meningkat dan penyebaran penduduk tidak seimbang akan menjadi sumber permasalahan di Indonesia.

“Banyak anak banyak rezeki”, begitulah kata orang tua kita zaman dahulu. Namun, apakah masih relevan jika dipraktikkan dengan orang tua zaman sekarang?

Pada dasarnya, jumlah anak berapa pun yang dimiliki merupakan hak pribadi setiap individu. Tentu benar anak merupakan rezeki, karunia, nikmat dari Tuhan, namun ada banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan mempunyai banyak anak.

Orang tua harus siap memenuhi kebutuhan dari materi, perhatian, dan kasih sayang. Materi di sini lebih untuk memenuhi kebutuhan sandang, papan, pangan, pendidikan, kebutuhan anak akan hiburan seperti mengajak rekreasi atau membelikan mainan, dll.

Kebutuhan akan perhatian dan kasih sayang juga sangat penting untuk tumbuh kembang anak agar lebih bahagia, ulet, dan terhindar dari kecemasan. Jadi, relevan atau tidaknya, itu semua kembali pada komitmen, niat, kemampuan, tanggung jawab orang tua dalam merawat anak.

Anggapan “banyak anak banyak rezeki” awal populer karena memang dahulu lapangan kerja banyak membutuhkan sumber daya manusia atau kemampuan kasar. Dengan memiliki banyak anak, maka akan ada banyak sumber daya yang dimanfaatkan.

Baca juga:

Namun berbeda dengan zaman sekarang yang sudah serba modern bahwasanya tenaga kerja sudah tergantikan. Perkembangan teknologi yang makin pesat membuat mereka dengan keterampilan halus yang lebih banyak dicari. Indonesia yang saat ini butuhkan adalah kualitas manusianya, bukan kuantitas manusia. Dengan hal tersebut, manusia berkualitas akan mendukung perkembangan bangsa ke arah yang lebih baik.

Ada solusi dari pemerintah untuk mengendalikan jumlah populasi penduduk, yaitu adanya Keluarga Berencana (KB). KB merupakan upaya merancang jumlah dan jarak kehamilan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera.[2]

Selama ini banyak orang yang menganggap program KB hanya untuk membatasi jumlah kelahiran. Padahal sebenarnya program KB tidak hanya terfokus pada itu saja, tetapi juga untuk membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan finansial sebuah keluarga dengan mengatur kelahiran anak, untuk mendapatkan keluarga yang bahagia dan sejahtera dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Untuk menyosialisasikan program ini, pemerintah telah melakukan beberapa usaha, seperti membuat promosi malalui media elektronik, media cetak, dan media yang lainnya seperti baliho yang dipajang di pinggir jalan. Namun, usaha ini masih dianggap kurang untuk memajukan program Keluarga Berencana. Pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang sudah mengetahui program tersebut tetapi tidak menerapkannya.

Tugas atau peran orang tua juga sangat diperlukan dalam membangun anak ke dalam sosok yang berkualitas. Dengan cukup memiliki dua orang anak, para orang tua bisa fokus mendidik anak-anak agar memiliki ilmu dan karakter yang baik. Jika populasinya besar tapi tidak berkualitas, yang ditakutkan adalah mereka akhirnya menjadi kuli di negeri sendiri. Dengan memiliki anak-anak berkualitas, maka mereka bisa mandiri di negeri sendiri.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah kepercayaan “banyak anak banyak rezeki” tergantung pada individu masing-masing. Jika mereka mampu memenuhi kebutuhan keluarga dengan banyak anak, tidak masalah, karena mereka sudah memiliki komitmen, niat, kemampuan, dan tanggung jawabnya sendiri.

Dengan adanya program kerja Keluarga Berencana, tingkat atau jumlah penduduk di Indonesia mulai mengurang walaupun tidak terlalu banyak tetapi sebagian masyarakat sudah paham akan pentingnya program tersebut. Yang Indonesia saat ini butuhkan adalah kualitas manusianya bukan kuantitasnya.

Referensi
  1. https://dukcapil.kemendagri.go.id
  2. Zuhriyah, A., Indarjo, S., & Raharjo, B. B. (2017). Kampung Keluarga Berencana dalam Peningkatan Efektivitas Program Keluarga Berencana. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)1(4), 1-13.

[1] https://dukcapil.kemendagri.go.id.

[2] Zuhriyah, A., Indarjo, S., & Raharjo, B. B. (2017). Kampung Keluarga Berencana dalam Peningkatan Efektivitas Program Keluarga Berencana. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development)1(4), 1-13.

    Oktira Indah Cahyani