Mitos Gerakan Mahasiswa

Mitos Gerakan Mahasiswa
©GriyaPena

Nalar Warga – Bagi yang telah mengenal pikiran saya sejak lama, catatan Mitos Gerakan Mahasiswa ini bukan hal yang baru.

Sejak awal saya skeptis dengan gerakan mahasiswa. Saya pernah di sana, meski bukan siapa-siapa, tetapi karena itu pula saya merasa tidak terbebani untuk meromantisasi mereka.

Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa menempati posisi yang sangat terhormat. Mereka dikatakan sebagai “agent of change”. Kata-kata ini terus diulang-ulang, sehingga lama-lama menjadi norma dan kebenaran.

Namun jika mau menelisik ke dalam secara agak kritis, kita akan sadar bahwa gerakan mahasiswa pada dasarnya adalah gerakan politis. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi selalu menjadi bagian dari kekuatan-kekuatan politis yang lebih luas. Hal ini berlaku baik bagi mereka yang dilabeli “ektra” maupun “intra” kampus.

Dengan ungkapan lain, gerakan mahasiswa adalah tempat di mana mahasiswa latihan berpolitik. Dalam prosesnya, cukup pasti mereka akan belajar berjejaring, terutama dengan para seniornya. Sebaliknya, para senior pun akan tetap mempertahankan relasi dengan para juniornya, apa pun motivasi dan tujuannya. Dari sinilah suatu lapisan aktivis politik Indonesia terbentuk.

Harus diakui, gerakan mahasiswa mempunyai energi yang luar biasa. Sebuah buku yang dieditori peneliti LIPI, Alm. Dr. Muridan Widjojo, menyebut mereka sebagai “penakluk rezim”. Meski buku tersebut membatasi diri pada periode akhir Orde Baru, cerita yang sama bisa kita temukan pada periode sebelum dan sesudahnya. Tidak ada pergantian rezim di negeri ini yang tidak melibatkan gerakan mahasiswa.

Namun karena gerakan mahasiswa sudah menempati status normatif sebagai kebenaran, jarang sekali dipertanyakan.

Lalu apa yang sesungguhnya terjadi ketika mereka menaklukan rezim Soekarno, Soeharto, Habibie, dan Gus Dur? Sungguhkah mereka mewakili suatu aspirasi “moral” yang “murni” (jika istilah-istilah ini ada dalam kenyataan bukan lamunan filosofis belaka)? Atau jangan-jangan yang terjadi sesungguhnya hanyalah aktivitas politis biasa yang di dalamnya terkandung nafsu dan hasrat keduniawian seperti umumnya?

Setiap zaman mempunyai caranya sendiri dalam mempertahankan kehormatan gerakan mahasiswa. Hari ini, mereka disebut sebagai penakluk rezim “oligarki”. Bahkan di era “4.0” ini, mereka yang memang sangat kreatif dan lucu-lucu itu dilukiskan dengan penuh pujian sebagai anak muda yang dari padanya kita, yang lebih tua, harus belajar.

Para senior harus memuji mereka jika tetap mau eksis dalam pusaran sejarah yang makin sulit dibaca ke mana arahnya. Para aktivis yang lebih junior, tentu saja, akan senang mendengarnya. Lingkaran saling-pengakuan seperti ini membuat jargon “panjang umur perlawanan” terasa tetap relevan, apalagi kalau digenapi dengan foto tangan kiri terkepal yang diunggah di media sosial.

Begitulah sejarah tercipta. Ia pada dasarnya adalah mitos yang dibutuhkan oleh sebuah lapisan tertentu dalam masyarakat agar mereka tetap merasa relevan. Tanpa adanya perasaan itu, hidup terasa ambyar.

*Amin Mudzakkir

    Warganet

    Pengguna media sosial
    Warganet

    Latest posts by Warganet (see all)