MUI Haramkan Kripto, Arab Saudi dan UEA Malah Menciptakan

MUI Haramkan Kripto, Arab Saudi dan UEA Malah Menciptakan
©Cryptos-TV

MarketNP – Ijtima Ulama ke-7 Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyepakati 12 poin bahasan. Salah satunya tentang penggunaan atau perdagangan mata uang kripto atau cryptocurrency.

Seperti dilansir IDX Channel, Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrarun Niam Sholeh menyebut penggunaan atau perdagangan kripto menjadi salah satu mata uang yang hukumnya haram.

“Penggunaan cryptocurrency sebagai mata uang hukumnya haram, karena mengandung gharar, dharar, dan bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17 Tahun 215,” kata Niam saat penutupan Ijtima Ulama di Jakarta, Kamis (11/11).

Niam juga mengatakan kripto tidak memenuhi syarat sil’ah secara syar’i, yaitu ada wujud fisik, memiliki nilai, diketahui jumlah secara pasti, hak milik, dan bisa diserahkan ke pembeli.

Namun, berbeda dengan keputusan Komisi Fatwa MUI, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) malah sepakat ingin menciptakan mata uang kripto baru. Hal itu diumumkan berdasarkan warta kantor berita UEA Emirate News Agency akhir pekan lalu.

Dikutip dari Kompas, Selasa (22/11), Komite Eksekutif Lembaga Koordinasi Saudi-Emirat telah mengadakan pertemuan di ibu kota UEA Abu Dhabi. Pertemuan itu dihadiri 16 orang anggota dari kedua negara.

Di dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah inisiatif antara kedua negara. Antara lain: penerbangan sipil, pelatihan literasi keuangan untuk kaum muda, dan pengembangan mata uang digital lintas batas.

Dikabarkan bahwa mata uang kripto tersebut hanya ditargetkan secara terbatas untuk perbankan dalam fase uji coba.

Uji coba dilakukan untuk memiliki pemahaman lebih baik terkait implikasi teknologi blockchain dan memfasilitasi pembayaran lintas batas. Proyek mata uang kripto bersama tersebut juga akan mencakup penelitian terkait dampak mata uang tersentralisasi terhadap kebijakan finansial.

Di dalam inisiatif tersebut juga disebutkan terkait perlindungan konsumen, penciptaan standar untuk teknologi, dan pertimbangan risiko keamanan siber. Selain itu, dipertimbangkan pula mengenai dampak mata uang tersentralisasi terhadap kebijakan moneter.

Pada Desember 2018 lalu, diwartakan bahwa bank sentral UEA berkolaborasi dengan Otoritas Moneter Arab Saudi untuk menerbitkan mata uang kripto yang diterima untuk transaksi lintas batas kedua negara.

UEA pun dikabarkan ingin menjadi destinasi utama kegiatan bisnis terkait blockchain pada tahun ini.