Namamu Hawa

Namamu Hawa
©DailyMail

Kau gigit aku di ranum buah
Yang kauberi padaku
Setelah pada situs terakhir
Kau kalah dengan ular itu

Setelah itu
Kau dan aku belajar menyulam selubung
Dari daun-daun dan kulit kayu untuk menutup
Apa yang tidak pernah kita sadar sebelumnya

Cela katamu
Setelah Tuan yang menciptakan kita
Membuat perhitungan dari dosa
Awal mula Eden baru
Setelah kau curi buah itu

Kini, di tempat-tempat
Yang berisi kebohongan
Aku merindukan sebuah taman
Yang pernah berisi ketelanjang kita

Pulang

Rumah adalah tempat segala jenis berlabuh
Guru yang mengajari manusia perihal pulang
Kau ingat di halaman-halamannya yang teduh
Kau mengeja rindu di kaki baju ibu yang kau cumbu

Umpama perahu yang meninggalkan dermaga
Untuk menemukan dirinya, dari berlayar yang rindu mencumbu dermaga
Setelah persinggahan menjadi bahasa kekal yang dinamakan jeda

Lenia, di laut semua yang biru dengan perahu
Dari dekap labuhan dari waktu tidur
Cukup untuk hari ini saja

Aku menyebutmu sebagai dermaga tempat pulang
Dari pergi yang terlalu dini, membekas jumpa pertama
Sekaligus akhir setelah cinta itu pergi seperti matahari
Dan hilang di cakrawala

Bukanlah jendela
Bukanlah pintu
Bagi hidupku yang pasang surut
Di dadaku yang pelaut

Di Balik Jendela

Selepas jeda saat senja memberat lalu pergi kepada malam
Di balik jendela terjadi suatu percakapan begini

“Hiasi wajahmu, kenakan pakian yang kau sukai
 Biarlah dia mendekat saat hujan datang
Baliklah punggungmu dan godai dia dengan rindu paling lugu
Yang menerbitkan seribu sayap kupu-kupu
Yang lupa menerbangkanmu mengelilingi musim bunga hari ini”

Sonny Kelen
Latest posts by Sonny Kelen (see all)