Negara Itu Abstrak

Negara Itu Abstrak
©LabeLog

Negara itu abstrak, salah satu konstruk idea. Ia terbentuk karena jaringan intersubjektif. Ia tidak punya wujud konkretnya sendiri, abstrak, ada sebatas sebagai ide.

Kalau saya bertanya, tunjukkan wujud konkret negara, apa yang bisa kalian lakukan? Menunjukkan secarik kain berwarna? Bukan, itu bendera negara, bukan negara. Apa kalian mau menunjukkan teritori domain power dari negara? Bukan, itu wilayah kekuasaan negara, bukan negara. Jadi negaranya yang mana? Ya gak ada, wong negara itu abstrak, memang tidak punya wujud konkret.

Yang konkret, hidup, bergerak, berpikir, the sentient being dari negara, ya manusia yang tinggal di dalamnya. Manusialah yang menggerakkan, menghidupkan, bahkan menciptakan negara. Tanpa manusia, yang ada negara bubar. Tapi kalau negara tidak ada? Ya manusia tinggal menciptakan sistem lain yang menggantikanya. Dalam sejarah juga begitu, kok.

Pertanyaanya adalah, mengapa manusia memperlakukan sesuatu yang tidak konkret semacam itu layaknya barang nyata yang dapat ia pegang, makan, minum, dan sebagainya? Jawabannya, karena begitulah cara manusia sintas dalam sejarah.

Dalam sejarah, sudah ribuan sistem, idea, mitos, lembaga sekuler atau religius, yang ia ciptakan demi membantunya sukses dalam alur evolve. Tanpa hal-hal itu, manusia tidak sanggup sintas. Dengan hal-hal itu, manusia bisa berkumpul, membentuk jaringan komunikasi besar sehingga sanggup menaklukkan alam, membentuk bendungan, benteng-benteng, gua-gua, dan kemudian sukses bertahan hidup hingga sekarang.

Hal-hal abstrak yang ia ciptakan kemudian ia coba hadirkan sebagai sesuatu yang nyata, dengan ritual-ritual, simbol-simbol, gerakan-gerakan tertentu. Misalnya kayak 17 Agustus kemarin. Negara coba dihadirkan di situ dengan bendera merah putih, dengan jalan baris-berbaris, dengan nyanyian dan kisah-kisah heroik purba, dengan pidato-pidato, sehingga negara yang tadinya abstrak benar-benar terasa nyata di depan kita, sebagai sesuatu yang konkret. Jika tidak konkret, buat apa kita di sini, di lapangan ini berkumpul dan bernyanyi?

Inilah makna sesungguhnya dari hocus pocus. Yang sebenarnya plesetan dari hoc est corpus meum (ini adalah tubuh saya), kata-kata yang sering diucapkan pastur-pastur setiap misa dan hendak pembagian roti dan anggur, meniru kristus di malam terakhirnya. Tujuanya apa? Ya untuk menghadirkan kisah kristus yang gaib dan terjadi berabad-abad lalu, sekarang dan saat ini sehingga lebih terasa nyata pada orang yang percaya. Itulah tujuannya.

Ritual-ritual, baik keagamaan maupun sekuler, sama-sama sebuah bentuk “reka-adegan” untuk menghadirkan yang abstrak menjadi sesuatu yang konkret.

Baca juga:
    Syahid Sya'ban
    Latest posts by Syahid Sya'ban (see all)