Negeri Ini Butuh Lebih Banyak Influencer atau Public Figure Bermental Messiah

Negeri Ini Butuh Lebih Banyak Influencer atau Public Figure Bermental Messiah
©Fiverr

Bila kita amati dan perhatikan lebih jeli, akhir-akhir ini memang makin banyak kegiatan yang dilakukan untuk membantu rakyat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Kegiatan ini bukan hanya dilakukan oleh para public figure, tapi juga sudah merambat ke influencer, selebgram, selebtwit, dan entah apa lagi julukannya. Banyak dari mereka yang turun ke jalan, memberikan bantuan kepada orang-orang yang mereka temui, dan tentu saja syarat wajibnya adalah direkam kemudian videonya dipublikasikan.

Layaknya siang dan malam, semua hal memang akan selalu memiliki dua sisi. Ada pihak yang mendukung kegiatan ini, ada pula yang mencerca habis-habisan. Pihak yang mendukung mungkin akan menyebut pemberi bantuan ini seperti malaikat tak bersayap, sedangkan pihak yang mencerca mungkin menyebutnya dengan manusia sok bermental Messiah.

Saya sendiri berada di barisan pihak pertama. Bukan berarti mengagung-agungkan si pemberi bantuan, sih, tapi yang jelas saya mendukung kegiatan ini. Sebagai orang yang ekonominya pas-pasan, dan juga sering berinteraksi dengan masyarakat ekonomi menengah ke bawah sampai pedagang kaki lima, saya paham betul kondisinya.

Tindakan memberi bantuan, baik berupa uang atau bahan kebutuhan pokok ini, bagaimana pun adalah sebuah tindakan tolong-menolong, tindakan yang membantu kesulitan orang lain. Saya rasa tidak perlu sampai menuliskan hadis atau dalil di sini pun, semua dari kita sudah paham bahwa tolong-menolong antar-sesama makhluk hidup diajarkan dan dianjurkan di semua agama.

Dengan membantu membeli dagangan pedagang kaki lima, contohnya, maka secara tidak langsung kita sudah melakukan perpanjangan perputaran ekonomi kelas bawah; roda ekonomi tersebut bisa tetap berputar, tidak mandek. Bila roda ekonomi masih bisa berjalan walau pelan, keberlangsungan hidup masyarakatnya pun bisa terlaksana.

Pemberian bantuan berupa uang atau bahan pokok secara otomatis menjadi bantuan bagi pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Ada yang bilang, seharusnya para public figure atau influencer ini jangan memberikan hasil pancingannya (berupa materi), melainkan memberikan kolam pancing (pekerjaan atau modal usaha) yang layak bagi mereka. Pendapat ini tidak salah. Tapi, terus terang saja, sepertinya agak sulit untuk dimaklumi oleh masyarakat.

Bagi mereka, di masa seperti sekarang ini, mungkin bisa makan sehari tiga kali saja sudah menjadi suatu hal yang istimewa. Maka, bantuan berupa beras, telur, bahkan mi instan adalah hal-hal yang akan sangat mereka hargai. Karena dengan begitu mereka tidak perlu pusing lagi mencari cara untuk makan bila seandainya tidak mendapatkan uang tunai hari itu. Walau hal ini pun hanya untuk bertahan selama beberapa hari.

Dalam kondisi seperti sekarang, kehadiran orang-orang bermental Messiah yang memberikan bantuan dianggap lebih berperan penting daripada pemerintah yang sebenarnya paham kondisi rakyatnya tapi belum atau tidak bisa mengatasi. Alih-alih mencari cara untuk membantu, mereka malah mandek, bukannya mencoba untuk bergerak.

Padahal, prinsip ‘Lakukan apa yang bisa kita lakukan walaupun kecil’ itu bermanfaat sekali. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Indonesia, bila harus berurusan dengan birokrasi atau lembaga plat merah, semuanya akan ribet. Karena itu, bergeraklah sendiri. Lakukan apa yang kita mampu, apa yang kita bisa. Mungkin ini juga prinsip yang dipegang oleh para influencer atau public figure yang dicap bermental Messiah tersebut.

Baca juga:

Perihal mereka doyan mengabadikan momen memberi bantuan ini lalu mengunggahnya di media sosial demi konten, itu bukan urusan kita. Yang penting ada beberapa nyawa yang bisa terbantu makan hari itu. Tangan kanan memberi tangan kiri selfie, itu jauh lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa sama sekali tapi nyinyir terus-terusan. Ngaca, kamu sudah berbuat apa?

‘Halah, ngasih duit cepek aja divideoin!’
‘Ngasih sembako dikit aja dibesar-besarin.’
‘Kalau bisa pas beramal tuh nggak usah direkam.’
‘Aku juga beramal, cuma gak divideoin aja.’
‘Beramal kok pamer?’

Hmm, begini. Memiliki, merawat, dan memelihara mental Messiah, mengunggah atau tidak apa yang mereka lakukan di media sosial, itu hak masing-masing personal. Sama, kita juga selalu punya pilihan hak yang sama. Apa yang orang pilih, atau apa pun pilihan kamu, itu bebas. Jangan dibanding-bandingkan.

Bukankah di media sosial sudah tersedia fitur mute dan blokir? Bisa sekali, kok, dua fitur itu dimanfaatkan. Tidak suka dengan konten influencer atau public figure bermental Messiah, ya tidak usah lihat. Kalau suka, ya siapa tahu jadi bisa terinspirasi untuk ikut memberikan bantuan.

Sebenarnya, menjalani hidup ini gampang sekali. Sebisa mungkin, jadilah orang baik. Kalau enggak bisa bantu, ya diam. Jangan nyinyir, jangan nyindir, jangan mengolok-olok usaha yang dilakukan orang dalam kebaikan. Jangan jadi orang jahat!

    Dini N. Rizeki