Nestapa

Nestapa, tangisan sebuah kampung yang merindu kasih.

Di beranda rumah suatu pagi. Instrumen musik kampung bersahutan dengan lirih merdu nyanyian burung pipit. Asap rokok mengepul berlarian bersama kabut selimuti bukit-bukit hijau.

Tenangku digugat! Segelas kopi pacar pagi nan hangat menjadi dingin temani kisah panjang hingga bagaskara menjemput. Kicauan lirih burung pipit hirap tenggelam bersama instrumen musik kampung bagai dibegal, tanpa ending yang menenang.

Wajah lara dengan seribu beban pada daksa bersahutan datang membagi cita. Jejal bisarahku.

“Biaya pendidikan anak-anak kami mahal!”

“Anak-anak kami tidak bisa ke sekolah!”

“Anak-anak kami tidak punya kebiasaan untuk belajar di rumah, apa lagi mereka baru mengenal huruf dan tidak tahu bagaimana untuk menulis!”

“Sekolah tidak dibuka, tetapi pasar dan toko-toko besar tetap dibuka dan banyak pengunjungnya!”

“Mengapa sekolah menuntut pembayaran uang sekolah, sedangkan anak-anak kami hampir tidak pernah ke sekolah selama pandemi ini?”

Kali ini, liburanku di kampung seakan aku datang sebagai tokoh politik atau pejabat rakyat untuk mendengarkan aspirasi.

Memang tidak bisa disangkal bahwa pandemi ini telah menimbulkan pelbagai krisis di sana-sini bagi banyak bidang kehidupan manusia.

Situasi yang kudengar dan alami saat ini di kampung bisa juga terjadi di daerah-daerah lain, tapi mungkin dengan bobot dan persoalan yang berbeda. Jujur saja, aku turut prihatin. Tidak bisa kubayangkan pula jika aku yang berada pada posisi anak-anak SD kelas I atau II di kampung saat ini. Apa yang bisa aku dapatkan dari kebijakan sekolah dari rumah untuk perkembangan pendidikanku?

“Orang tua bisa menjadi guru, untuk mendampingi proses belajar anak di rumah selama pandemi.” Sungguh miris, bila kudengar kalimat ini keluar dari ucapan seorang guru atau para pengambil kebijakan sekolah. “Pak, bu…kalau orang tua kami jadi guru dan harus dampingi kami belajar tiap harinya di rumah, siapa yang mau mencari uang sekolah untuk kami? Jangankan uang sekolah, untuk makan pun kami serba-kekurangan.”

Hidup di kampung dengan kebanyakan orang tua bermata pencaharian sebagai petani biasa memang rasanya susah setengah mati untuk membuka ruang bagi anak agar bisa didampingi secara intens dalam belajar. Apa lagi mereka tidak punya keahlian khusus sebagai pendidik. Lalu, apa yang bisa kita harapkan bagi situasi ini dengan kebijakan untuk belajar di/dari rumah?

“Aku tidak bisa memenuhi dan menjawabi semua pengaduan ini, bapak, ibu, adik-adik. Maaf, aku hanya seorang mahasiswa yang juga berada pada posisi yang sama dengan bapak, ibu, dan adik-adik semua.”

Aku terdiam sejenak dalam ruang hati yang lara teriris sembilu. “Sudah berapa orangkah yang mendengar jeritan sebagai aspirasi ini, aku tak tahu pasti. Yang jelas warga kampung ini sudah menderita cukup lama.” Aku bergumam, sembari sesekali kukecup bibir gelas kopi di sampingku. Nikmat dan hambar telah menjadi satu dalam rasa yang gundah bagai cemeti.

Sedih rasanya ketika menerima pengaduan dalam posisi kita yang tidak mampu untuk memberikan jawaban bagi kerinduan orang-orang yang mengadu.

“Siapakah saya? Bila bersuara akan berakhir di penjara!” Itulah pengalaman kawan-kawan seperjuangan kami yang dibungkam paksa ketika ingin bersuara atas nama rakyat. “Negeri ini terlalu suci dan anti kritik. Kita harus santun. Jangan berteriak nanti dimaki “babi”, cukup bisik saja dengan santun ke telinga para pejabat.” Percaya saja semua akan baik-baik hingga roda kuasa berganti bagai menanti nasib.

Pandemi ini memang telah membatasi banyak aksi mahasiswa di lapangan untuk menyampaikan aspirasi rakyat. “Semoga saja para pejabat kita tidak lelap dan lelah untuk membolak-balik surat kabar meneganai berita derita warganya. Sebab hanya itulah satu-satunya sarana yang kita punyai dalam segala keterbatasan sekarang. ”

Sebatang rokok, dua, tiga melaju. Tak terasa puntung telah menggunung dalam asbak. Hufff…pah… Aku suka membuat asap rokok menari liuk keluar masuk dalam mulutku. Apakah itu indah atau punya sensasi tersendiri, tetapi saya kira itu fetishku dalam menikmati rokok. Hidup ini terlalu banyak drama, aku butuh pola-pola yang dihasilkan dari asap rokok untuk membaca drama-drama itu hingga menjadi lebih santuy dan tidak kehilangan kisah.

Suara-suara itu mulai menjejal dan mengadu lagi soal para pejabat yang menghamburkan banyak uang untuk membangun dan menata kota yang sebenarnya tidak begitu urgen sebagaimana kebutuhan masyarakat yang jauh di perkampungan.

Baca juga:

Kopiku yang tinggal sekali seruput kumanjakan lagi lebih lama.

“Kami membutuhkan air bersih!”

“Jalan raya bagi transportasi kami untuk akses ke pusat kota sangat buruk!”

“Kampung kami belum memiliki listrik!”

“Kehidupan kami di kampung sangat jauh dari sejahtera, sedangkan para pemmpin kami sibuk mengurus penataan kota yang cenderung monumental.”

Aku sendiri menyaksikan betapa susahnya hidup bersama masyarakat di kampung. Mereka sebenarnya tidak miskin. Mereka hanya tidak memiliki akses layanan publik untuk menunjang laju perekonomian masyarakat.

Kehidupan di sini memang berbanding jauh dengan apa yang bisa saya saksikan di perkotaan. Di sana patung-patung dibangun dengan megah yang dihiasi lampu-lampu mewah, yang entah berapa biaya yang harus dihabiskan. Air pancur turun naik di tengah jalan mengalir dan meluap hingga membasahi badan jalan. Sungguh indah. Mungkinkah warga kota telah berkelimpahan air, hingga di sini banyak air yang bisa dibuang-buang dan dijadikan pertunjukan indah?

Di sana juga aku melihat ada TV Tron berharga miliaran rupiah di persimpangan jalan kota. Mungkin untuk nonton bareng bagi warga kota untuk menyaksikan langsung aktivitas pemimpin kami dari meja kerjanya yang anggun dan berwibawa. Sering sesekali aku mengharapkan layar TV Tron itu bisa menayangkan situasi hidup warga kampungku. Tapi itu kiranya tidak mungkin, karena akan merusak citra kota.

“Ya, itulah kota kami.” Saya kadang mengaku bangga jika ada orang-orang dari luar daerah yang memuji kemewahan kota kami. Mungkin warga kampung pun perlu menerima dengan lapang, bahwa kota adalah simbol atau icon untuk medapat pengakuan “terbaik”, maju dari para tamu yang datang atau sekadar lewat saja. Maka, untuk yang hidup di kampung, kita seperti ini saja. Miskin dan berpasrah.

Warga kota kami sangat menikmati kehidupan indah mereka di kota. Pemimpin kami dibela-bela jika ada wartawan atau aktivis yang berani mengeritik atau menguak soal adanya dugaan penggelapan dana proyek. Di mata dan benak warga kota, pemimpin kami adalah yang terbaik. Dia adalah simbol kejayaan mereka. Sedangkan kami dengan segala ketertinggalan, hanya berpasrah. “Kami mungkin telah kalah dalam perjudian politik.” Suara kami digarap, dan setelah berkuasa nasib kami diabaikan.

Suara-suara lara-lara dari kampung nestapa kini hirap. Mereka telah kembali pergi ke ruang peraduan yang menjamin mereka hidup. Makan dan minum untuk sehari saja sudah cukup. Mereka mungkin tidak sempat berpikir untuk kaya, tetapi hidup sejahtera dengan jaminan keadilan itu yang sungguh mereka damba. Mereka bukan orang-orang lemah, tetapi negara sudah terlampau serukan janji untuk menjamin kehidupan mereka dan semua orang dalam naungannya.

Kuseruput kopi untuk terakhir. Kopi telah habis tetapi rasa masih tinggal. Hari ini aku akan mengingatnya.

Sebulan berlalu antara beban dan harapan, waktu liburanku pun berkahir. Aku harus kembali merantau untuk menyelesaikan pendidikanku.

Benakku masih kacau, terngiang pelbagai pengaduan penderitaan warga kampung. Langkahku seakan berat untuk mengayun pergi. Wajah muram anak-anak yang kemarin kami bersama-sama membentuk huruf dan mengeja kata memandang dengan hati yang patah. “Kak, kami ingin kakak mengajari kami sekali lagi.” Hatiku ingin menangis, namun kutanggungkan semuanya dalam doa pada Tuhan Yang Kuasa.

“Adik-adik, semoga kalian bisa lebih semangat belajar.” Kita berharap semoga sekolah bisa mengambil kebijakan yang terbaik untuk pendidikan kalian di tengah pandemi ini.

Untuk warga kampung, “berjuanglah terus dengan semangat.” Kita telah telanjur lahir dan dididik untuk hidup dari tanah air usaha kita, bukan dari kata-kata omong kosong para penguasa

Nestapa, tangisan sebuah kampung yang merindu kasih. Hari ini aku telah menimba banyak hal dari ketulusanmu. Aku akan pergi dan meneruskan suara nestapa ini agar bisa menjadi lebih  berarti bagi perjumpaan kita. Sampai jumpa pada kisahmu yang berbeda.

    Fancy Ballo
    Latest posts by Fancy Ballo (see all)