Nilai dan Ajaran Perdamaian dalam Agama Sikh

Nilai dan Ajaran Perdamaian dalam Agama Sikh
©Kaur Life

Di Indonesia, mungkin kita tidak pernah atau jarang mendengar yang namanya agama Sikh. Karena memang di Indonesia hanya ada enam agama resmi yang diakui, yakni Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Meski demikian, di belahan dunia lain, seperti di India, agama Sikh sangatlah tumbuh subur sebab memang agama tersebut lahir dan berkembang di sana.

Agama Sikh sendiri merupakan agama yang cukup dibilang unik. Hal itu disebabkan oleh adanya beberapa kemiripan unsur-unsur keislaman dan Hindu. Unsur kemiripan ini bukan tanpa alasan yang tidak jelas melainkan lahir dari keprihatinan sejumlah pihak akan kehidupan beragama di India.

Seperti diketahui bersama, negara India merupakan negara yang menganut agama Hindu terbesar di dunia. Menurut survei November tahun 2019, bahwa 22.975 orang India mengidentifikasi diri sebagai Hindu, 3.336 orang mengidentifikasi diri sebagai Muslim, dan 1.011 orang mengidentifikasi sebagai Kristen (Kaur, 2021).

Melalui angka di atas, dapat dikatakan bahwa agama Hindu merupakan agama mayoritas di India. Sama halnya di beberapa negara seperti Indonesia misalnya sebagai penganut Muslim terbesar. Adanya kesenjangan antara mayoritas dan minoritas pasti tidak bisa dihindari.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan seperti kekerasan yang berbasis pada perbedaan keyakinan. Salah satu orang suci bernama guru Nanak kemudian memberikan pemahaman dengan keyakinannya akan perdamaian melalui ajaran yang dibawanya, yakni Sikhisme

Sekilas Sejarah Agama Sikh

Di Punjab, wilayah India utara yang berbatasan dengan Pakistan, Islam dan Hindu telah bersinggungan sejak abad ke tujuh. Konflik antar kedua agama dan terutama diprakasai oleh para penguasa juga telah berlangsung sepanjang sejarahnya. Penjajahan dan perang pun tak dapat dihindarkan yang merenggut banyak korban.

Berbagai inisiatif untuk memperjuangkan toleransi beragama yang dilakukan oleh para sufi terus dilakukan. Hingga pada abad ke-16 seorang guru muncul untuk menjembatani kedua agama tersebut (Setiawan, 2020).

Baca juga:

Guru tersebut bernama guru Nanak (1469-1539). Ia lahir pada 15 April 1469, di Talwandi Rai Bhoe, sebuah desa kecil di tepi Sungai Ravi, sekitar empat kilometer sebelah barat daya Lahore, ibu kota wilayah Punjab. Desa tersebut sekarang dikenal dengan nama Nankana Sahib, yang berarti “desa tempat kelahiran Nanak”.

Ayah guru Nanak bernama Mehta Kalu, yang lahir dari kasta Ksatria. Ayah Guru Nanak merupakan patwari atau akuntan desa yang bekerja pada Perusahaan milik Rai Bular, seorang Muslim. Sedangkan ibunya bernama Tripta yang merupakan penganut Hindu yang fanatik.

Menurut buku Janam Sakhis (buku riwayat hidup Nanak) inspirasi guru Nanak untuk memadukan antara nilai-nilai keislaman dan Hindu dimulai tepat menjelang fajar ketika guru Nanak sedang merendam diri di sebuah Sungai, tiba-tiba ia lenyap ke dalam air dan selama tiga hari ia tak kunjung muncul.

Ketika pulang ke rumah, ternyata ia sama sekali telah berubah. Ia berulang kali berteriak dengan keras mengucapkan kata-kata “tidak ada Hindu, tidak ada Muslim”. Maksud dari kalimat itu adalah bahwa dua kelompok besar antara Islam dan Hindu di anak benua Indo-Pakistan sudah berakhir dan melaksanakan kebenaran agama masing-masing (Nursalikah, 2020).

Sejak saat itu, guru Nanak menjadi pribadi yang hidup zuhud dan religius serta menyebarkan pahamnya yang disebut Sikh. Namun, di dalam tulisan ini perlu ditegaskan, bahwa mungkin ada yang mengira bahwa agama Sikh adalah campuran antara Islam dan Hindu.

Menurut Pendeta Sikh Temple yang bertempat di Tanjung Priok Jakarta Utara, Giani Dalwinder Singh, mengatakan bahwa meski terlihat ada kemiripan, namun hal itu adalah hal yang lumrah. Tetapi ia tidak mengiyakan bahwa sikh merupakan campuran antara ajaran agama Islam dan Hindu.

Lebih lanjut ia mengatakan: “sebenarnya itu hanya kemiripan saja. Sikh yang dibawa guru Nanak itu sebenarnya mengajarkan kita untuk cinta damai. Kita disini adalah makhluk Tuhan, karena ketika seseorang lahir bukan karena suatu identitas” (Kumparan, 2022).

Ajaran dan Nilai Perdamaian dalam Agama Sikh

Sebagai sebuah pemahaman atau agama tentu memiliki pegangan bagi setiap penganutnya. Sikh sendiri diartikan sebagai sebuah ajaran. Guru Nanak membawa Sikh sebagai pedoman bagi manusia untuk berprilaku dengan baik.

Halaman selanjutnya >>>
Dimas Sigit Cahyokusumo