Novel Populer: Antara Menghibur dan Mendidik

Novel Populer: Antara Menghibur dan Mendidik
©Rasssian

Ketika mengunjungi toko buku Gramedia, saya sempat terpesona dengan salah satu penulis yang boleh dikatakan sangat produktif. Pemahaman saya ini menjadi beralasan karena pada rak novel, berjejeranlah novel yang ditulisnya. Nama penulis tersebut adalah Boy Chandra.

Dari sekian banyak novel yang terpampang, saya kemudian tertarik pada sebuah novel dengan judul yang sedikit nyentrik, ‘Cinta Paling Rumit’. Ketertarikan pada judul tersebut tidak serta-merta memberikan pemahaman bahwa saya sedang menjalani cinta paling rumit, tetapi keingintahuan yang mendalam mengenai pandangan penulis terhadap realitas dunia yang direkam dalam novel tersebut.

Hal lain yang membuat saya merasa kaget sekaligus merasa tertantang adalah bahwa dalam beberapa tahun, sudah banyak novel yang ia terbitkan dan laris manis di pasaran.

Novel sebagai salah satu jenis karya sastra tentunya mengusung manfaat yang menurut Horatius disebut ‘dulce et utile’. Tidak hanya menghibur tetapi bermanfaat. Dulce berarti sangat menyenangkan atau kenikmatan, sedangkan utile berarti bermanfaat atau mendidik (Mikics, 2007:95).

Bressler (1999: 12) menyebut kedua fungsi tersebut dengan istilah dalam bahasa Inggris ‘to entertain’ yang mana karya sastra memberikan penghiburan atau kenikmatan tersendiri bagi pembaca dan ‘to teach’ yang mana karya sastra memberikan nasihat dan penanaman etika sehingga pembaca dapat memetik nilai-nilai konstruktif.

Sama seperti novel-novelnya yang lain, Boy Chandra mengusung tema cinta dalam ‘Cinta Paling Rumit’. Bagi saya, Boy memang lihai dalam mengemas tema yang digandrungi oleh anak-anak muda, ditambah lagi dengan racikan kisah yang membuat novel tersebut laris manis di pasaran.

Dunia anak muda memang dunia penuh kisah cinta. Dan Boy Chandra membawa dunia anak muda yang penuh cinta tersebut ke dalam ‘Cinta Paling Rumit’. Cinta yang sederhana dibuat rumit. Jatuh cinta pun jadi rumit karena si cewek tidak tahu kalau lelaki itu jatuh cinta padanya. Bagi saya, kalau ada yang sederhana kenapa dibuat rumit?

Membaca ‘Cinta Paling Rumit’ seperti menyelam dalam romantisisme dunia. Kata-kata puitis yang diracik Boy membuat saya sempat tenggelam (tapi tak hanyut) dalam kisah percintaan yang paling rumit tokoh novel tersebut. Sampai pada titik ini saya lantas berpikir bahwa mungkin bisa benar kalau digandrungi oleh anak muda. Apalagi yang sedang mengalami cinta paling rumit. Boy juga berhasil menyedot emosi pembaca lewat kisah yang dibangun dalam novel tersebut.

Baca juga:

Jika ditanya apakah ini novel populer, saya akan memberikan pandangan bahwa ‘Cinta Paling Rumit’ racikan Boy Chandra merupakan novel populer. Mengapa? Karena novel tersebut merupakan karya sastra, ditendensikan pada golongan muda yang sangat menggandrungi  atmosfer percintaan. Tema yang disajikan dalam ‘Cinta Paling Rumit’ merupakan tema yang ringan dengan tujuan menghibur pembaca apalagi yang sedang patah hati menjalani cinta rumit.

Bertolak dari realitas tersebut, muncul pertanyaan, apakah novel tersebut menghibur dan atau mendidik? Menghibur mungkin iya, tetapi belum tentu mendidik.

Novel populer tentunya berbeda dengan novel serius. Menikmati novel populer tentunya tidak menguras ‘pikiran’ untuk menginterpretasikan apa yang dituangkan penulis. Pembaca dengan mudah menangkap apa yang ingin dikatakan.

Bahkan akhir dari alur cerita novel dapat dengan mudah ditebak. Mengapa? Karena jalan cerita tersebut didesain dengan apik oleh pengarang tetapi mampu dibaca oleh pembaca.

Menurut Hamka, makin pintar pengarang ‘berbohong’ dalam membangun jalan cerita, ia makin masyur. Saking perhatiannya pada isi untuk membangun jalan cerita yang disesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan pembaca, pengarang lupa mengemas pesan edukatif dalam gaya bahasa atau gaya bercerita yang membuat novel tersebut tetap hidup dan tidak mati di tangan pembaca. Inilah yang mungkin menjadi pembeda antara novel populer dan novel serius.

Kita tentu bisa merasakan perbedaan ketika membaca Cinta Paling Rumit dan Bumi Manusia-nya Pramoedya. Gaya bahasa dan kekhasan bercerita Pram membuat Bumi Manusia tetap hidup meski dibaca berulang kali. Sekali kita membaca Cinta Paling Rumit, sesudah itu ia akan mati. Pembaca akan mengatakan bahwa ia telah mengetahui jalan ceritanya sehingga tidak perlu membaca lagi. Sekali membaca sesudah itu ia mati.

Baca juga:
Jetho Lawet