Nullius in Verba

Nullius in Verba
©Every Day Original

Nullius in Verba merupakan salah satu cerminan etika yang langsung berkaitan dengan tindakan manusia secara keseluruhan dari sudut pandang normatif.

Every man has by nature desire to know. Demikian kalimat pembuka yang cukup monumental dari Aristoteles dalam Metaphysics.

Dengan basis ide keingintahuan tersebut, maka tak ayal lagi bahwa ranah politik, etika, ekonomi, retorika, sastra, tata negara, dan lainnya, bahkan ranah Tuhan, akan senantiasa menjadi bidang pergelutan filsafat. Sejauh hal tersebut bisa didekati oleh akal budi.

Semua ini bisa dimulai dari keheranan, ketakjuban, dan tanda tanya. Yang artinya, kesemuanya merupakan awal dari segala kebijaksanaan. Lalu bagaimana dengan etika?

Oleh karena karakternya yang praktis, atau lebih tepat normatif dan praktikal, maka filsafat moral atau etika tersebut sedikit berbeda dengan logika, metafisika, kosmologi, epistemologi. Terutama dalam menggariskan tujuan-tujuannya.

Namun, tujuan etika, sekali lagi, bersifat praktis. Ia mengantar orang untuk bertindak baik dan menjadi baik. Termasuk menilai, bersikap, dan menghargai ilmu pengetahuan dari siapa dan dari mana pun.

Dengan demikian, etika memiliki tujuan yang lebih lengkap berkaitan dengan hidup manusia. Sementara ilmu-ilmu spekulatif yang lain meneguhkan aktivitas-aktivitas tertentu saja dari manusia.

Setinggi-tinggi bintang di langit masih tinggi moralitas di dada manusia. - Immanuel Kant

Kalimat di atas merupakan kata mutiara yang tertulis di batu nisan makam Immanuel Kant. Kant adalah filsuf yang getol masalah moral.

Menurut Kant, kelebihan dan keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk lain adalah pada moralnya. Dan ini jarang dimiliki oleh para picik dan para iri hati ketika menilai kemajuan ilmu pengetahuan yang bukan berasal dari golongannya, agamanya, ataupun kelompoknya.

Etika erat hubungannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Produk-produk ilmu pengetahuan dan pemikiran akan selalu mendapat penilaian dari masyarakat. Tulisan ini mencoba melihat pengaruh etika dalam perkembangannya dengan ilmu pengetahuan dengan beberapa kasus seperti di bawah ini.

Ketika mendengar kata “Royal Society”, ada beberapa reaksi yang mungkin timbul. Pertama, bisa jadi kata-kata tersebut belum familiar, hingga tak dikenal.

Kedua, jika mengenalnya, maka akan ada dua reaksi. Menghormati atas prestasi atau sebaliknya menghujat serta cenderung dihubungkan dengan gerakan-gerakan yang berbau konspirasi dan sejenisnya.

Reaksi yang kedua ini makin terang dan jelas jika disandingkan dengan beberapa nama orang seperti Stephen Hawking dan Albert Einstein.

Reaksi kedua biasanya cenderung culas dan iri hati serta dengki ketika dihubung-hubungkan dengan agama, kelompok, golongan, ataupun Tuhannya. Yang pada akhirnya berujung pada dugaan-dugaan tak jelas, seperti berbau freemason, illuminati dan NWO (New World Order).

Hal ini terjadi karena pandangan yang kurang tepat. Mereka menganggap bahwa Invisible College, atau Royal Society yang berisi para ilmuwan Eropa saat itu dan hingga kini dianggap secara langsung “mengambil” ilmu dari zaman Daulah Abasiyah seenaknya mematenkan hasil temuan para cendekiawan muslim. Sehingga mereka terlupakan. Dan para Royal Society terkenal karena ilmu yang mereka dapatkan hasil dari “merampok”.

Moral, etika, dan etiket model begini tentunya sangat menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan cenderung memicuh perang. Mereka yang berpandangan picik jelas tak menginginkan perubahan dan perkembangan.

Manusia dari kodratnya merupakan makhluk berpikir. Ingin mengenal, menggagas, merefleksikan dirinya, sesamanya, Tuhannya. Termasuk hidup kesehariannya, lingkungan dunia kehadirannya, asal dan tujuan keberadaannya, dan segala sesuatu yang berpartisipasi dalam kehadirannya.

Keinginan rasional ini merupakan bagian kodrati keberadaan dan kehadiran manusia. Karakter rasional kehadiran manusia merupakan suatu kewajaran, kenormalan, dan kenaturalan makhluk hidup. Dalam sejarah filsafat Yunani, keheranan ini ditampilkan sejak filosof pertama di planet bumi ini, yaitu Thales.

Oleh karena keheranan tersebut hingga Thales memikirkan asal-usul dari segala sesuatu yang ada. Aktivitas Thales ini disebut dengan aktivitas berfilsafat karena berupa suatu “pencarian” rasional oleh akal budi sampai ke akar-akarnya. Termasuk kelompok Royal Society yang berusaha dan berfilsafat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Royal Society merupakan perkumpulan para ilmuwan yang berdiri di Inggris atau sebuah perkumpulan yang memiliki tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Caranya, yakni dengan cara Experimental Investigation yang waktu itu beranggotakan para ilmuwan dan filsuf. Seperti: Robert Boyle, John Wilkins, John Walls, John Evelyn, Robert Hook, Cristopher Wren dan William Petty, dan sejumlah filsuf serta ilmuwan lainnya.

Awal berdirinya saat terjadi pertemuan masyarakat terpelajar pertama pada 28 November 1660 di sebuah perkuliahan Gresham College oleh Christopher Wren. Tentunya komunitas ini banyak dihuni oleh para polymath dan polyglot terkemuka

Perkumpulan yang bermoto Nullius in verba yang berarti “tidak mengambil kata-kata siapa pun” ini sering mendapat fitnah. Padahal dengan melihat moto tersebut, Royal Society jelas jauh lebih memahami etika, etikat, ataupun moral. Artinya, gerakan mereka tulus, senyap, dan tak mengharapkan subjek-subjek ekshibisionis.

Moral, etiket, etika dari Royal Society terlihat jelas ketika menerbitkan korespondensi Philosophical Transactions untuk pertama kali yang merupakan cikal-bakal dari jurnal ilmiah modern. Dengan format dan gayanya unik yang tidak pas disebut buku, pun tidak tepat disebut koran. Ia lebih cocok disebut kumpulan surat-menyurat. Berisi berbagai temuan dan pengalaman seputar fenomena alam.

Sebuah media jenis baru yang sangat sesuai untuk menyalurkan dan menyebarkan suatu gelombang mentalitas gentleman saat itu. Demi sebuah kebebasan ilmu pengetahuan dan menjaga etika, etiket, dan moral.

Visi dan misi Royal Society tak jauh beda dengan semboyannya, Nullius in verba. Ini adalah ekspresi dari tekad perkumpulan para ilmuwan dan filsuf waktu itu hingga kini. Tujuannya untuk bertahan dari dominasi otoritas serta serangan-serangan kritik dari sekelompok yang tak punya etika, etiket, dan moral.

Perkumpulan Royal Society yang berpusat di London, Inggris tersebut, hingga hari ini, terdiri atas para akademi sains nasional Inggris. Dan anggota lainnya sekitar 1.600 ilmuwan paling terkemuka dari berbagai negara di dunia.

Mikrografia atau kumpulan korespondensi yang merupakan cikal-bakal jurnal ilmiah modern edisi pertama karangan dari Hooke yang berjudul Transaksi Philosophical dan diterbitkan pada tahun 1665 merupakan transaksi filosofis. Ia membentuk konsep penting prioritas ilmiah dan kini merupakan jurnal sains tertua yang terus diterbitkan di dunia.

Peran Royal Society begitu meluas. Mulai dari penerbitan Principia Mathematica karya Isaac Newton, eksperimen layang-layang Benjamin Franklin. Hingga mendukung perjalanan James Cook ke Tahiti, mencapai Australia dan Selandia Baru, menerbitkan inokulasi terhadap penyakit, hingga mendokumentasikan letusan Krakatau di Indonesia.

Sudah saatnya kelompok-kelompok sakit hati dan iri hati tersebut mendalami dan menyelami etika. Saatnya pula mengerti dan memahami bahwa praksis-praksis pada moto Nullius in Verba merupakan salah satu cerminan etika yang langsung berkaitan dengan tindakan manusia secara keseluruhan dari sudut pandang normatif.

Yudho Sasongko
Latest posts by Yudho Sasongko (see all)