Oday Ingin Jadi Anjing

Oday Ingin Jadi Anjing
©Ruang Sastra

Kerikil-kerikil yang melapisi jalan setapak itu bergerak saat beradu dengan kaki seorang bocah yang mengenakan sandal bandol. Menciptakan bunyi yang terus membuntuti langkah lincah pemulung cilik bernama Oday. Keranjang kosong yang digendongnya turut bergoyang, mengikuti gerak kaki yang lincah bak menjangan menghindari terkaman macan.

Oday bergegas ke markas Sekolah Kerakyatan yang genap berusia setahun hari ini. Markas yang dijadikan tempat mengajari pemulung cilik macam Oday baca-tulis itu terletak di tengak bulak yang ditumbuhi sejumlah pohon sonokeling. Bangunannya yang sangat sederhana dibangun oleh seorang mahasiswa bernama Kak Julian.

“Dadus kok belum nongol, ya? Apa jangan-jangan Dadus masih tidur? Aku tunggu di sini aja deh.” Oday melepas keranjang yang digendongnya. Udara pagi yang cukup panas meskipun matahari belum sampai ke tengah ufuk membuat keringat bercucuran dari dahi bocah yang tak pernah mengenal kedua orang tua itu.

Oday memutuskan untuk menunggu di depan gerbang rumah Pak Larso. Rumah megah milik kepala pasar itu tampak sangat mencolok di antara bedeng-bedang di sekitarnya. Dua pohon mangga dengan daun yang rimbun tumbuh di halamannya yang luas. Kerimbunan dua pohon itu bertemu dan membentuk kanopi, membuat tanah yang ada di bawahnya sedikit lebih teduh.

“Oh, Utam… Kemarilah. Waktunya sarapan pagi.” Suara Pak Larso mengagetkan Oday yang baru saja duduk.

Seekor anjing keluar dari kandangnya. Seluruh tubuhnya berbulu putih bersih, kecuali lingkaran di sekitar matanya yang berwarna hitam. Lidahnya terus menjulur saat ia berlari menuju Pak Larso yang membawa sebuah mangkuk seng berwarna hijau.

“Duduk!” perintah Pak Larso. Anjing itu menuruti perintah tuannya dengan sempurna. Ia berhenti, lalu menekuk kedua kaki belakangnya.

“Hahaha. Bagus, anjing pintar. Ini makanan spesial untuk anjing pintar, tahu? Aku beli ini dari kota kemarin. Ini yang terbaik dan termahal, loh!” Tangannya membelai kepala si Utam yang mulai makan dengan lahap.

“Nah begitu. Makanlah yang lahap. Setelah ini kau ikut aku, ya. Kita harus ke dokter hewan terbaik di kota untuk memberimu vaksin dan vitamin. Aku tidak mau anjing pintar yang kupelihara ini sakit. Hahaha.”

Seperti memahami ucapan tuannya, si Utam berhenti makan. Ia mendongakkan kepalanya, menatap sejenak Pak Larso yang masih membelai kepalanya. Ekornya juga turut dikibaskan ke kiri dan ke kanan. Oday mengamati interaksi anjing dan tuannya itu dalam diam. Ia nyengir sembari memegang perutnya yang belum terisi makanan sejak kemarin malam.

“Hoy, Oday. Ayo berangkat sekarang! Kak Julian dan teman-teman pasti sudah nungguin di markas.” Oday terjingkat saat tangan kecil Dadus tiba-tiba menepuk pundaknya. Matanya masih tetap menatap ke arah Pak Larso dan si Utam.

“Kamu lagi lihat apa, sih?” Dadus yang penasaran mengikuti arah pandangannya.

“Bukan apa-apa. Ayo berangkat sekarang! Kak Julian sama teman-teman pasti udah nungguin.” Oday menggamit tangan Dadus untuk segera menjauh dari pagar rumah Pak Larso. Kedua pemulung cilik itu lantas bergegas melanjutkan perjalanan menuju markas Sekolah Kerakyatan.

***

Sebuah tumpeng dari nasi kuning dan aneka lauk telah siap di meja kecil yang ada di depan panggung. Di belakangnya, sebuah spanduk bertuliskan “Syukuran dalam Rangka Hari Jadi Sekolah Kerakyatan ke-1” membentang di antara dua pohon sonokeling.

“Aku mau nasi kuningnya,” bisik Dadus kepada Oday yang duduk di sampingnya. Mereka duduk bersila di depan panggung bersama pemulung cilik lainnya. Di belakang mereka, mahasiswa berjas biru muda dengan bordiran bertuliskan Relawan Sekolah Rakyat di bagian punggung ikut duduk bersila.

“Oh ya aku juga mau perkedelnya. Aku mau ingkung ayam, urap-urap daun kenikir, kacang goreng, dan kering tempenya juga. Aku mau semuanya,” lanjut Dadus.

“Aku juga mau semuanya,” timpal Oday. Kedua pemulung cilik itu nyengir.

Seorang pemuda yang mengenakan kacamata naik ke panggung. Oday dan para pemulung cilik memanggilnya Kak Julian. Ia adalah penggagas berdirinya Sekolah Kerakyatan.

“Hari ini Sekolah Kerakyatan genap berusia setahun,” ucap Kak Julian mengawali sambutannya.

“Saya berharap Sekolah Kerakyatan akan terus ada. Kalian lihat mereka? Kalian lihat adik-adik kita yang kurang beruntung ini? Mereka jadi punya secercah harapan untuk kehidupan yang lebih baik setelah ada Sekolah Kerakyatan.”

Ucapan Kak Julian membuat teman-temannya memandang ke arah para pemulung cilik dengan beragam tatapan. Sementara segerombolan pemulung cilik itu hanya cekikikan. Mereka tak paham apa yang Kak Julian katakan. Mereka hanya menunggu kapan sekiranya tumpeng itu boleh dimakan.

“Kita harus menjaga nyala api obor yang sarat misi kemanusiaan ini. Undang-undang dasar pasal 34 ayat 1 telah mengamanatkan bahwa fakir miskin dan anak-anak telantar seperti mereka seharusnya dipelihara oleh negara. Itulah sebabnya, kita sebagai generasi muda terdidik harus berupaya untuk…” Kak Julian tak melanjutkan ucapannya karena Oday tiba-tiba memotong sambutannya.

“Oday nggak mau jadi anak telantar, Kak.”

“Bagus. Emangnya Oday mau jadi apa kalau sudah besar nanti?”

“Mau jadi si Utam. Hihihi.”

“Si Utam? Siapa itu si Utam?” Kak Julian tampak bingung. Walaupun ia tinggal di Cikopeng, ia tak pernah mendengar tentang sosok bernama si Utam.

“Si Utam itu anjing peliharaan Pak Larso, Kak.” Kali ini Dadus yang menjawab.

“Kenapa Oday mau jadi si Utam?”

“Oday nggak mau jadi anak telantar, Kak. Nggak mau dipelihara negara. Oday mau dipelihara Pak Larso aja. Hihihi.”

Ucapan Oday membuat Kak Julian dan para mahasiswa saling pandang. Mereka lalu beralih memandang ke arah Oday dan teman-temannya dengan beragam tatapan. Sementara para pemulung cilik itu hanya cekikikan, mereka bahkan Oday sendiri tak paham apa yang barusan Oday katakan. Mereka hanya menunggu kapan sekiranya tumpeng itu boleh dimakan.

    Diniar Nur Fadilah
    Latest posts by Diniar Nur Fadilah (see all)