Oligarki Stafsus Milenial

Oligarki Stafsus Milenial
©The Columnist

Ada saatnya publik akan mendemo istana untuk mengusir oligarki kaum rebahan ini agar tidak makin memburuk dan menjadi gurita bisnis.

Momentum Revolusi Industri 4.0 ditandai kecanggihan teknologi digital. Kecepatan dan akurasi menjadi kunci. Pengelolaan bernegara pun mau digerakkan ke arah ini. Tapi birokrasi pemerintahan belum mampu menyesuaikan diri. Ibarat memaksa bekicot berlomba bersama kelinci, kultur kerja masih zaman kolonial sementara situasi sudah milenial. Jokowi mau mengubah ini.

Perubahan tidak bisa ditolak. Kepastian cuma perubahan itu sendiri. Siapa menolak perubahan akan dilindas zaman.

Perubahan ini melahirkan peluang baru. Muncullah generasi yang kuasai teknologi digital, mampu memudahkan segala hal melalui hasil kreasi mereka. Bila lapar, tinggal pesan makanan dengan aplikasi. Mereka ini disebut kaum rebahan karena waktunya banyak habis bersama gawai.

Era kemajuan teknologi digital melahirkan generasi muda sukses dan kaya. Profesi mereka sebagai pebisnis digital, dimulai dari merintis platform, menjajakannya, lalu menarik perhatian investor.

Dari modal jutaan atau bahkan dengan menumpang WiFi, mereka membuat platform digital. Valuasi platform digital mereka melonjak menjadi miliaran karena kapitalis dan konglomerat mencari hal baru dalam berbisnis, bisnis digital menjadi pilihan. Muncullah generasi muda kaya mendadak, yakni kaum rebahan ini.

Fenomena kaum rebahan ini menarik perhatian elite politik, termasuk Presiden Jokowi. Dalam visi periode keduanya, Jokowi fokus pada pengembangan sumber daya manusia, melirik orang-orang muda ini. Misinya ingin mencetak manusia muda Indonesia yang unggul.

Mereka menjadi pilihan Presiden Jokowi dalam membantunya berdiskusi mengoperasionalkan program dan prioritas kebijakan, mempraksiskan konsep Revolusi Mental dan Progam Nawacita Jilid 2. Tapi tiap kali tampil bersama Jokowi, stafsus milenial tak lebih seperti pajangan.

Di antara 14 orang stafsus, Jokowi menunjuk 6 orang muda dari 7 staf presiden yang biasa disebut staf khusus milenial. Mereka entrepreneur platform digital. Ada anak konglomerat, ada yang disekolahkan APBN melalui Program Beasiswa LPDP Kemenkeu RI. Masuknya entrepreneur digital menjadi staf khusus milenial dalam lingkar kekuasaan, di istana negara, kini berbuah cibiran dan makian.

Baca juga:

Mereka ini mulai menunjukkan sifat aslinya, memanfaatkan jabatan untuk berbisnis dengan fasilitas elite mereka sebagai anggota keluarga istana. Interaksi mereka dengan birokrasi mendapat kemudahan, mengirimkan surat ke camat agar membantu “karyawannya” di lapangan dan mendapatkan “jatah” proyek APBD melalui program Pelatihan Online Kartu Prakerja berjumlah triliunan.

Pilihan terbaik bagi staf khusus milenial ini pulang ke rumah meninggalkan istana dan fokus mengurusi bisnis digitalnya atau meniru Nadiem Makarim melepaskan jabatan dalam perusahaannya lalu fokus mengurusi rakyat melalui jabatannya sebagai Mendikbud RI.

Bila pilihan itu tak kunjung dilakukan, ada saatnya publik akan mendemo istana untuk mengusir mereka dari sana, agar oligarki kaum rebahan ini tidak makin memburuk dan menjadi gurita bisnis di lingkungan istana. Sebab perjumpaan uang dengan kekuasaan akan melahirkan oligarki; oligarki akan merugikan rakyat dan merusak konsolidasi demokrasi yang sedang berlangsung di Indonesia.

Dikson Ringo
Latest posts by Dikson Ringo (see all)