Organisasi Daerah Jembatan Emas Mahasiswa

Organisasi Daerah Jembatan Emas Mahasiswa
Dok. Pribadi

Kebenaran yang tidak ter-organisasi akan dikalahkan oleh kebatilan yang ter-organisasi. ~ Ali r.a

Perkataan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali r.a di atas menunjukan betapa pentingnya sebuah organisasi untuk merealisasikan kebenaran. Satu orang, dua orang atau tiga orang yang berjalan sendiri-sendiri menyerukan kebenaran, akan mudah dipatahkan oleh kejahatan yang direncanakan bersama-sama. Karena seorang yang membawa kebenaran tanpa diorganisir, ia bagaikan satu lidi digunakan untuk menyapu halaman, tak akan pernah selesai.

Apalagi bila kebenaran tersebut diusung oleh mahasiswa selaku pemuda bangsa yang kuat. Seperti yang diucapkan Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kugoncang dunia dengannya…,” itu menunjukan betapa pemuda penuh dengan kobaran semangat, penyeru kebenaran yang tangguh, pemegang estafet kepemimpinan di masa depan. Dan di tangannya, harapan bangsa digantungkan. Di mana ada ketimpangan, mereka akan turun untuk menyerukan kebenaran meski nyawa sebagai taruhannya.

Namun, bila kekuatan dan semangat itu tidak diwadahi dengan tepat, ia akan meluber ke mana-mana dan hilang begitu saja, sia-sia dan bahkan akan dibungkam oleh kebatilan. Oleh karena itu, semangat mahasiswa tersebut perlu diorganisir kedalam sebuah komunitas, agar menjadi rahmat bagi lingkungan.

Karena mahasiswa tanpa organisasi hanya akan berkutat di dunia teori dan ilusi, dan ia membutuhkan ranah praktis untuk membantu merealisasikannya. Sedangkan salah satu ranah yang paling dekat dengan lingkungan adalah oraganisai daerah, himpunan ataupun komunitas lainnya yang bersifat kedaerahan.

Organisasi daerah adalah organisasi eksternal kampus yang dibentuk di lingkungan universitas, baik negeri ataupun swasta. Tujuannya adalah untuk menghimpun semua mahasiswa se-daerah, kecamatan atau kabupaten, bahkan tingkat kepulauan.

Selain itu, tujuan organisasi daerah ialah untuk mengasah interaksi sosial dan mempertajam insting politik daerah. Karena bagaimanapun, mahasiswa akan pulang  ke daerah asal. Dan saham terdekat baginya adalah daerahnya sendiri.

Di tanah kelahirannya, ia akan berkiprah, berbakti mengamalkan ilmunya. Maka, sebelum ia benar-benar pulang ke daerah, ia harus mengenal unsur-unsur daerahnya sendiri, baik aspek sosial, budaya maupun politik. Supaya ia menjadi pemuda yang militan dan tidak gagap saat terjun nanti ke lapangan.

Adapun sikap mahasiswa dewasa ini terhadap organisasi, komunitas atau perhimpunan daerahnya sendiri, sedikit acuh dan ogah-ogahan. Banyak di antara sekian mahasiswa yang enggan bergabung dengan komunitas daerahnya masing-masing dengan berbagai macam alasan.

Di antaranya, ada yang beralasan sibuk dengan tugas kampus, malas karena kegiatannya jalan di tempat saja, hingga pura-pura tak mendengar info untuk mendaftarkan diri (menurut salah satu mahasiswa asal Nganjuk). Sehingga hal ini berakibat kepada proses penjaringan terhadap anggota  menjadi relatif lama, molor, dan juga  menjadi penghambat pada proses regenerasi perhimpunan tersebut.

Jika demikian adanya, maka eksistensi Organda (Organisasi Daerah) saat ini sebenarnya harus ditelaah kembali. Mengapa mahasiswa sedikit sekali ghirahnya untuk bergabung ke komunitas daerahnya sendiri?

Sejauh pengamatan penulis terhadap beberapa organisasi daerah akhir-akhir ini (tahun 2016-2017), semangat yang melatar belakangi terbentuknya organisasi daerah tidak lain untuk mempererat tali persaudaraan, berdiskusi ilmiah dan menggalang dana untuk daerahnya apabila tertimpa bencana. Selebihnya, programnya hanya kumpul biasa sambil minum kopi di Warkop (Warung Kopi). Sehingga Organda tampak kurang menarik dan terkesan jalan di tempat, tak semenarik UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus.

Bila keadaan Organda seperti di atas, maka akan semakin redup dan kehilangan generasi penerus. Sebagai himpunan daerah, harus bisa menampilkan dirinya semenarik mungkin bagi setiap anggotanya. Harus ada program ideal-praktis yang menjadi cita-cita bersama, yaitu berkontribusi ke daerah asal.

Organisasi yang tak mempunyai program konkret ke daerah, eksistensinya mengambang tak jelas, tidak ada bedanya dengan perkumpulan yasinan dan tahlilan. Nah, di sinilah titik jenuh mahasiswa sebenarnya. Maka untuk menghindari hal yang demikian, himpunan mahasiswa daerah harus menjadi institusi yang mengabdi kepada masyarakat daerah.

Bila mahasiswa di kampus sudah memborong sekian teori, maka di himpunan daerah bukan seharusnya diajarkan teori lagi, tapi berbicara tentang praktik untuk mengabdi, bagaimana ia bisa berkontribusi nyata di masyarakat untuk kesejahteraan orang banyak. Dengan seperti itu, mahasiswa akan kembali mempunyai semangat untuk berhimpun. Tidak lagi merasa membuang-buang waktu.

Seperti FIMNY (Forum Intlektual Muda Ncera Yogyakarta), misalnya, forum mahasiswa Bima. Selain menjadikan organisasinya sebagai media silaturahmi dan mengasah kecerdasan, mereka juga memproyeksikannya untuk berkontribusi penuh ke daerah Bima, di mana mereka akan pulang.

Contoh konkretnya, mahasiswa Bima ikut serta mengembangkan obyek pariwisata bahari yang ada di Bima. Selain itu, mereka melakukan pengawalan terhadap penerapan Per-Da (Peraturan Daerah) di sana. Tentunya, hal ini dibantu oleh alumni-alumni FIMNY yang telah tamat kuliah dan pulang ke daerahnya. Sehingga dapat memperlancar kontribusi mereka ke Bima. (Fathurraman: Ketua FIMNY).

Di Surabaya, IKAMABA (Ikatan Mahasiswa Bangkalan) melakukan pengawalan dan pengawasan terhadap pembangunan daerah Bangkalan Madura, mengkritik dan men-demo para pejabat pemerintah yang sering bolos kerja, jarang masuk kantor. Mengkritisi pembangunan yang tidak tepat sasaran dan lebih menguntungkan pejabat daripada rakyat.

Masih di regional Madura, mahasiswa yang bergabung dalam oraganisasi FORMAL (Forum Mahasiswa Lerpak) menuntut transparansi anggaran dana desa dengan meminta SPJ (Surat Pertanggung Jawaban) Kepala Desa Lerpak, karena diduga adanya anggaran fiktif terkait proyek pembangunan desa. Misalnya, salah satunya adalah pengadaan perpustakaan desa yang dalam anggaran tertulis jelas, namun pada kenyataannya tidak ada.

Secara simpel, sebenarnya arah pergerakan himpunan mahasiswa daerah ada dua. Pertama, pergerakan secara vertikal. Ialah keberadaannya eksis mengawal dan mengkritisi kebijakan Pemerintah. Seperti yang telah dilakukan oleh para mahasiswa pada era Orde baru, mereka mengawal penuh kebijakan pemerintah yang banyak merugikan rakyat dan lain sebagainya, meski kebebasan berpendapat dibatasi sedemikian rupa, namun mereka tetap berjuang membela kebenaran.

Kedua, secara horizontal. Ialah berkontribusi secara konkrit kepada lingkungan daerah. Misalnya, melakukan edukasi kepada masyarakat dengan mengadakan penyuluhan, seminar dengan mengundang tokoh-tokoh yang berpengaruh dan lain sebagainya.

Selain itu, mahasiswa juga bisa mengadakan pembinaan di desa yang tertinggal. Dengan program pembinaan ini, mahasiswa bisa mengajarkan kretifitas kepada masyarakat, baik tentang pengolahan sampah dan limbah, tertib lingkungan dan bahkan bisa membangun penampungan air hujan untuk daerah yang kesulitan mendapatkan air bila musim kemarau tiba.

Dan masih banyak hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa di daerahnya masing-masing. Tentunya dengan membaca dan meneliti terlebih dahulu apa yang dibutuhkan warganya, kemudian diprogramkan menjadi tugas jangka panjang di komunitas daerahnya.

Dalam hal ini, mahasiswa bisa menggunakan waktu liburan semesternya untuk observasi ke daerah-daerah terpencil, mengadakan penelitian, dan menjadikannya PR (Pekerjaan Rumah) ketika kembali ke kampus nanti. Supaya keberadaan Organda di kampus tidak bersifat ngambang hanya sebagai pelampiasan menggunakan bahasa daerah, tapi juga mempunyai target yang jelas yang harus dicapai nanti di daerah.

Sehingga mahasiswa yang terhimpun di dalamnya merasa mempunyai tanggung jawab untuk menjawab kegelisahan masyarakat di tempat tinggalnya, yang selama ini belum terpecahkan. Dan ini akan mengangkat martabat mahasiswa di depan masyarakat bahwa mahasiswa itu bisa diandalkan, bisa bekerja dan memberi solusi, bukan hanya bisa berteori dan berorasi di pinggir jalan.

Sudah semestinya disadari bahwa Organda harus dibenahi dan dirawat. Jangan sampai keberadaannya hanya sebatas nama di lingkungan kampus tanpa dilirik oleh mahasiswa karena kegiatannya hanya yasinan dan tahlilan. Komunitas daerah harus mempunyai pandangan ke depan membangun nasional dari daerah. Karena melalui Organda mahasiswa bisa bangkit dan ikut andil mensejahterakan dan mencerdaskan rakyat.

Dengan berkontribusi, mahasiswa akan mempunyai saham di daerahnya sendiri, ia akan diingat dan dikenal oleh warga sekitar, bahwa ia adalah sosok yang berjasa dalam membangun daerah. Sekaligus, ia akan mempunyai tempat tersendiri di hati masyarakat.

Oleh karena itu, jangan sampai keberadaan komunitas daerah redup. Harus tetap eksis menjembatani mahasiswa dalam menuangkan ide-ide cemerlangnya untuk kemajuan daerah kelahirannya, karena organisasi daerah adalah jembatan emas bagi mahasiswa.

#LombaEsaiMahasiswa

*Salim, Mahasiwa Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

___________________

Artikel Terkait:
Latest posts by Peserta Lomba (see all)