Panca Satya sebagai Keseharian Pemimpin

Panca Satya sebagai Keseharian Pemimpin
©Kompas

Euforia menjelang pesta demokrasi yakni pemilu 2024 nanti telah terasa pada hari-hari ini. Mulai dari upaya registrasi diri sebagai calon-calon pemimpin masa depan bangsa sampai pada kampanye-kampanye politik di publik dalam lingkungan masyarakat telah dilakukan.

Blusukan politik menjadi alternatif baik yang dipilih untuk memperlihatkan kualitas diri kepada publik masyarakat. Di sana ada visi dan misi sebagai janji manis yang digunakan sebagai modal untuk memperoleh investasi kepercayaan dari pihak masyarakat.

Di tengah euforia tersebut, satu hal yang perlu diketahui bahwa kondisi masyarakat yang makin dinamis hari-hari ini sebenarnya telah maju dalam pemahaman terkait strategi klasik (seperti blusukan politik dan tindakan kunjungan politik lainnya) dari para calon pemimpin tersebut. Sehingga apa yang dikatakan oleh Julius Caesar “pengalaman adalah guru dari semua hal” sungguh menjadi kenyataan publik yang dipersepsi oleh masyarakat politis dewasa ini.

Masyarakat politis dewasa ini tentu akan belajar dari pengalaman politis yang telah terjadi di mana visi dan misi dari para politisi seringkali hanya sebatas rangkaian kata-kata yang tak pernah diaktualisasikan.

Berangkat dari kenyataan tersebut, sebuah hipotesis yang diperlu dikatakan di sini bahwa masyarakat telah mengonstruksikan gagasan perihal kepemimpinan. Masyarakat politis membutuhkan pribadi pemimpin yang berintegritas dan bertanggung jawab.

Lantas, pribadi pemimpin yang demikian itu seperti apa dan bagaimana kepemimpinannya? Menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menyajikan suatu filosofi kepemimpinan dari negeri anak benua, India, yang biasa disebut juga sebagai Panca Satya.

Suatu Filosofi

Panca Satya adalah sebuah filosofi kepemimpinan yang berciri praktis-pragmatis yang berasal dari agama India, Rigveda. Panca Satya dipahami sebagai instrumen kehidupan seorang pemimpin dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Panca Satya itu model dan modal suatu kepimpinan.

Secara etimologis, kalimat ‘Panca Satya’ berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu  kata ‘panca’ yang berarti lima, dan kata ‘satya’ yang berarti kebenaran atau esensi. Dalam pandangan historis, gagasan tentang ‘Satya’ dikembangkan dalam Weda dan Sutra-sutranya sebagai konsep etis tentang kejujuran dan dillihat sebagai kebajikan yang penting.

Baca juga:

Perkembangan konsep Satya ini kemudian dirumuskan secara praktis dalam lima (Panca) landasan. Lima landasan ini hendak dilaksanakan oleh seorang pemimpin Hindu dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Lima landasan tersebut yang disebut sebagai Panca Satya. Panca Satya ini harus mewarnai kehidupan seorang pemimpin di mana pun dia berada.

Kelima landasan tersebut, yaitu pertama, Satya Hredaya, yang merupakan suatu sikap pemimpin yang jujur dengan diri sendiri atau yang selalu mendengarkan kata hatinya; kedua, Satya Wacana, sebagai bentuk sikap seorang pemimpin yang selalu jujur dan setia dengan perkataannya; ketiga, Satya Samaya, sebagai bentuk sikap di mana seorang pemimpin setia terhadap janjinya; keempat, Satya Mitra, yaitu sebuah bentuk sikap kesetiaan dan kejujuran terhadap sahabat atau teman; dan kelima, Satya Laksana, yaitu suatu keadaan sikap seorang pemimpin yang selalu jujur dalam perbuatan.

Keberadaan Panca Satya ini dipandang dalam filsafat India sebagai suatu modal kepemimpinan bagi seorang pemimpin untuk terlihat berintegritas, berwibawa, dan disegani. Filosofi Panca Satya ini secara menyeluruh sejalan dengan kutipan sloka dalam Kitab Sarasamuscaya yang menegaskan tentang ‘Satya’. Kutipan itu berbunyi demikian:

kata-kata yang patut diucapkan hendaknya mengandung kebenaran (satya), tidak menusuk hati, bukan umpatan, kata-katanya bermanfaat, bukan kata-kata kasar, bukan pula fitnah. Ciri-ciri orang satya demikian: apa yang ditanyakan tidak disembunyikannya dapat diberitahukan menurut keadaan sebenarnya secara jujur, semua yang diketahui diberitahukan” (I Made Sujanayasa, 2023:92).

Panca Satya sebagai Keseharian

Gagasan praktis Panca Satya ini pun sangat penting untuk dikembangkan dan dijiwai oleh para calon pemimpin masa depan bangsa. Menariknya bahwa idealisme Panca Satya ini dapat menjadi stimulus positif bagi seorang pemimpin bangsa yang memiliki cita-cita politis bersama yakni kesejahteraan masyarakat.

Sehingga, Panca Satya ini harus menjadi kehidupan keseharian seorang pemimpin. Hal ini dimungkinkan sebab di dalam idealisme praktis Panca Satya itu sudah termaktub epistemologis dan aksiologis kepemimpinan.

Pertama, seorang pemimpin selalu hendak berkata benar. Hal ini mengandaikan posisi rasionalitas seorang pemimpin yang memiliki kualifikasi pengetahuan hendak diorientasikan pada kenyataan yang objektif. Tidak ada manipulasi fakta demi kenyaman diri sendiri.

Kedua, seorang pemimpin tidak sekedar ‘omdo’, yakni tidak sekedar memodifikasi kata-kata menyakinkan tetapi merealisasikannya demi tujuan hidup bersama. Kata-kata seorang pemimpin hendak memiliki output yang berguna bagi kelangsungan hidup sosial-bermasyarakat.

Halaman selanjutnya >>>
Raymundus Tanu