Pancasila, Cita-Cita yang Belum Tercapai

Pancasila, Cita-Cita yang Belum Tercapai
©Lip6

Pernyataan Pancasila sebagai ideologi negara masih begitu hangat diperbincangkan, baik dalam kancah perkopian maupun nasional. Hal ini menandakan bahwa Pancasila yang sejak pertama kali diwartakan pada 1 Juni 1945 kemarin sampai saat ini masih belum menemukan titik terang. Bermacam sudut pandang dari berbagai kalangan terkait Pancasila ini, baik pro maupun kontra terhadap statement bahwa Pancasila adalah ideologi negara.

Secara makna universal Pancasila sebagai dasar negara adalah Pancasila digunakan menjadi landasan paling utama dalam menjalankan aturan-aturan kepemerintahan atau Pancasila adalah suatu pedoman hidup dalam berbangsa dan bernegara. Terkait kedudukan ini, diterangkan oleh M. Syamsuddin berserta kawan-kawannya dalam Pendidikan Pancasila: Menempatkan Pancasila dalam Konteks Keislaman dan Keindonesiaan.

Hal ini menunjukkan betapa besarnya cita-cita para pendahulu kita untuk menciptakan negara yang baik dari berbagai aspek kehidupan. Namun, sebagaimana kita ketahui bahwa untuk mewujudkan cita-cita itu tidak semudah orang yang membalikkan telapak tangannya, selalu ada saja rintangan demi rintangan yang menjadikan terhambatnya cita-cita itu tercapai.

Mengkaji Kembali Makna Pancasila yang Mulai Kehilangan Esensi

Perlunya mengkaji kembali makna Pancasila, yaitu agar Pancasila ini tidak hanya sekadar menjadi teks ataupun menjadi pajangan dalam ruangan pendidikan, sebab Pancasila harus menjadi sebuah ilmu bukan hanya suatu pengetahuan saja. Jika hal tersebut terus-menerus dibiarkan, tentunya akan membuat marwah Pancasila makin kabur dari esensinya.

Sebagaimana pendapat Sujiwo Tejo ketika dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILK) Pancasila itu tidak ada, yang ada itu cuma teks Pancasilanya. Bukan tanpa alasan Mbah Tejo perspektif demikian, melainkan ketika kita mengkaji ulang Pancasila itu sendiri, maka tampaklah problem yang urgen dalam dasar negara kita.

Penulis akan mencoba menuliskan kembali makna-makna Pancasila, yang dilansir dari Makna 5 Simbol Sila Pancasila yang Penting untuk Diketahui.

Makna Sila Pertama ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’:
  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antar sesama pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup antar sesama umat beragama.
  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan
  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.
Makna Sila Kedua ‘Kemanusiaan yang Adil dan Beradab’:
  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai harkat dan martabat sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya.
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Setiap bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
Makna Sila Ketiga ‘Persatuan Indonesia’:
  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.
  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
Makna Sila Keempat ‘Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan dan Perwakilan’:
  • Sebagai warga negara dan masyarakat, setiap rakyat Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  • Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai hati nurani yang luhur.
  • Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.
Makna Sila Kelima ‘Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia’:
  • Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  • Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Menghormati hak orang lain.
  • Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  • Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Dari makna kelima sila di atas, kita seakan mendapat tamparan halus namun acuh untuk mengakuinya. Pertanyaan penulis adalah, adakah kelima sila itu yang kita sendiri terapkan dalam kehidupan ini? Mungkin kita serempak akan bilang iya, namun sekali lagi nilai Pancasila itu bukan sekadar persaksian oral yang siapa saja bisa melakukannya, namun juga harus melalui tindakan.

Sejauh ini Pancasila yang kita tahu hanyalah sebatas teks dan simbol yang sedemikian apik maknanya dan berbanding terbalik dari pengamalannya. Tentunya bukanlah suatu hal tabu, jika nilai-nilai ini masih belum terealisasikan dengan menyeluruh, karena memang ini adalah cita-cita bangsa yang telah dirumuskan para pendahulu kita, jadi kita selaku estafet dari para pendahulu setidaknya bisa lebih fokus lagi dalam meraih cita-cita bangsa ini, bukan malah merumuskan cita-cita baru kembali.

Baca juga:

Faris Al-Farisi
Latest posts by Faris Al-Farisi (see all)