Pandemi Covid-19 sebagai Black Swan

Pandemi Covid-19 sebagai Black Swan
©Cinema Poetica

Black swan lahir karena sebuah stigma bahwa semua angsa pastilah berwarna putih, tidak hitam.

Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) telah melanda masyarakat dunia hampir 2 (dua) tahun, sejak pertama kalinya Covid-19 diumumkan keberadaannya di Cina. Dampak yang dirasakan cukup signifikan, terutama sektor ekonomi dan kesehatan yang hingga saat ini masih tidak menimbulkan kepastian. Terbukti, pada 3 Juli 2021 lalu, Pemerintah Indonesia menerbitkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat hingga 20 Juli 2021 di Jawa dan Bali, dan ketika tulisan ini ditulis PPKM diperluas hingga keluar daerah Jawa dan Bali.

Pemberlakukan tersebut dilakukan karena terjadinya peningkatan kasus positif yang cukup signifikan di sejumlah daerah. Pada minggu ini saja, kasus positif Covid-19 telah mencatat rekor tertinggi dengan 40.427 Kasus Positif dalam sehari dan menduduki peringkat pertama di dunia dalam hal kematian yang terjadi akibat Covid-19 dengan total 1007 jiwa pada 11 Juni 2021. Rangkaian rekor yang tidak masuk pantas dianggap sebuah prestasi.

Serba-serbi kebijakan telah dilakukan, beberapa tindakan responsif maupun preventif juga turut dilakukan. Namun, tampaknya segala perbuatan yang dilakukan belum menemukan titik terang untuk mengakhiri virus yang bersumber dari hewan kelelawar atau babi ini. Saya tiba-tiba teringat pada sebuah buku yang berjudul Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb yang merupakan seseorang epistemolog dan peneliti yang berfokus pada masalah probalilitas atau sebuah peluang.

Pada bagian prolog buku tersebut, black swan lahir karena sebuah stigma bahwa semua angsa pastilah bewarna putih, tidak hitam. Faktanya, angsa hitam tersebut benar adanya, dengan memiliki nama ilmiah Cygnus Atratus. Walaupun demikian, Nassim Nicholas Taleb tidak mempersoalkan kegagalan kita akan pemahaman warna angsa, tetapi lebih berfokus pada aspek filosofis dari arti black swan itu sendiri.

Secara umum, black swan mengklasifikasi 3 (tiga) sifat yang dapat mendeskprisikan dirinya, yaitu: Pertama, peristiwa itu lain dari yang lain, sesuatu di luar dunia seperti yang biasa kita harapkan, karena tak ada sesuatu pun di masa lampau yang dapat secara meyakinkan menunjuk ke kemungkinan itu. Kedua, peristiwa itu memiliki dampak yang ekstrem. Ketiga, kendati lain dari yang lain, akibatnya sifat dasar manusia mendorong mencari penjelasan atas peristiwa itu sesudah terjadi.

Sifat tersebut akan terlalu sempit apabila hanya sebatas pemahaman secara normatif atas black swan itu sendiri. Nassim (penulis Black Swan) menggali dengan lebih kritis dengan menghimpun persoalan langkah yang terjadi di dunia, sebagai upaya untuk memvalidasi eksistensi black swan dalam dinamika peradaban manusia.

Sebagai contoh kasus 9/11 yang terjadi di New York, Amerika Serikat yang telah menewaskan 3.000 jiwa sebagai akibat serang terorisme oleh kelompok teroris Al Qaeda. Serangan yang dilakukan cukup tidak terduga, dengan melakukan pembajakan pesawat pada maskapai tertentu dengan sasaran gedung WTC salah satunya.

Contoh peristiwa di atas merupakan salah satu peristiwa black swan yang tidak pernah diperkirakan atau diduga akan terjadi. Bila dibayangkan peristiwa 9/11 itu tidak akan terjadi jika pihak maskapai menyiapkan pintu kokpit dengan lapis baja, sehingga para pembajak tidak dapat memasuki ruang kokpit pesawat dengan mudah atau pemerintahan Amerika Serikat yang membentuk kebijakan pelarangan pembangunan gedung tinggi yang mencapai setengah kilometer seperti WTC.

Tetapi intrik bisnis dan politik tidak akan memungkinkan kedua kebijakan itu terjadi, terutama pihak maskapai yang terpaksa mengeluarkan anggaran (budget) yang cukup besar hanya untuk membiayai sebuah pintu kokpit lapis baja.

Namun demikian, patut dipahami bahwa black swan tidak dapat diantisipasi seperti uraian di atas sebelumnya. Black swan adalah hal yang mutlak terjadi, seperti pandemi Covid-19 yang telah mewarnai rapat kabinet pemerintahan. Penularan yang terus terjadi dan menurunnya daya beli dan daya jual yang terjadi di masyarakat merupakan konsekuensi logis akan pemahaman kita yang terbatas pada hal-hal yang hanya kita ketahui saja. Wajar saja, masih banyaknya entitas masyarakat yang tidak mempercayai angsa hitam di antara angsa putih, termasuk diri penulis ketika itu.

Bukan Memprediksi, Justru Membaca Peluang

Sebelum masuk ke dalam persoalan substansi pada tulisan ini, penulis ingin memberikan penegasan. Bahwa black swan bukan sesuatu yang dapat dipredikasi akan terjadi pada saat kapan dan/atau di mana. Nassim memberikan gambaran untuk membaca terjadinya black swan melalui peluang atau disebut dengan probabilitas.

Sebagai catatan, penulis tidak akan mengikuti pola atau cara Nassim membaca peluang dengan memberikan contoh secara matematika, yang sebagaimana diketahui Nassim merupakan seorang polimateikawan, dan beliau lebih paham akan soal itu dari penulis. Sebaliknya, penulis akan memberikan sebab musabab gagalnya kita dalam membaca probabilitas.

Permainan dadu merupakan contoh permainan yang secara tidak sadar mengajarkan kita untuk membaca peluang. Setiap dadu yang terdiri 6 (enam) sisi, setiap sisi memiliki angka yang berbeda, sebut saja dadu yang terdiri dari angka 1-6. Anda pasti akan sangat memahami, bahwa anda tidak akan bisa memastikan angka apa yang akan dikeluarkan oleh dadu, begitu juga ketika seorang politikus yang sedang menunggu hasil rekaputilasi suara.

Angka yang diakui hanya angka telah dikeluarkan setelah dadu berhasil dilempar, sedangkan sisa angka lainnya tidak diakui keberadaannya. Bila disimpulkan, kesempatan setiap orang bermain dadu hanya 1:6 dari angka yang muncul, dan itu adalah sebuah peluang dalam konteks contoh yang sederhana. Lantas, apa hubungan antara probabilitas dan black swan?

Singkatnya, probabilitas membaca kehadiran black swan di kemudian hari, dengan membaca perbandingan satu peristiwa tertentu dengan peristiwa lainnya. Walaupun bukan sesuatu yang dapat menjamin keberhasilan dalam rangka menurunkan potensi risiko negatif karena terjadinya sebuah black swan, tetapi dapat menjadi indikator atau tolok ukur untuk mengambil sebuah keputusan politik sebagai langkah awal agar black swan yang terjadi tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Baca juga:

Pandemi Covid-19 pada dasarnya merupakan peristiwa black swan yang setidaknya dapat diantisipasi. Mengingat pengalaman manusia sendiri yang pernah merasakan pandemi yang terjadi 1-3 abad yang lalu. Gagalnya kita memaknai peristiwa ini, bukan bagaimana upaya menganggulanginya, hal itu ada di akhir sebagai sebuah output bila black swan kala itu telah terjadi.

Pemerintah Indonesia sudah benar dengan menggunakan insturmen kelembagaan dan politik dengan menerbitkan beberapa kebijakan demi menekan penyebaran Covid-19 di beberapa wilayah (niat baik), tetapi persoalan yang substansial justru pada faktor sebab yang tidak kita baca karena sudah merasa lebih sehat dan sudah merasa mendapatkan jaminan sosial yang baik.

Sehingga egosentris yang terdapat diri manusia, membutakan dirinya untuk membaca peluang, bahwa penyakit tidak selalu muncul secara individu dalam diri atau kebiasaan manusia itu sendiri. Tetapi ada faktor eksternal yang mampu merugikan imunitas diri dan termasuk dompet anda. Oleh karena itu, pada tahap ini, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membaca peluang agar pandemi Covid-19 tidak memiliki umur yang panjang.

Publik policy yang telah dikeluarkan oleh pemerintah pada dasarnya adalah merupakan ketentuan normatif yang bersifat kaku. Pelaksanaannya hanya terjadi berdasakan kesadaran masyarakat untuk mematuhi peraturan demi peraturan dengan maksud menekan laju penyebaran Covid-19. Mirisnya, black swan menggangap kebijakan sebagai upaya strategis, bukan aksi, dan mereka sangat percaya diri tidak akan musnah secepatnya. Apabila masyarakat tetap tidak berani untuk membaca probabilitas untuk ‘pulih’.

Probabilitas pada Covid-19 terletak pada faktor sebab timbulnya pandemi sebagai akibat adanya penularan. Penulis akan memberikan simulasi agar dapat menstimulus diri anda untuk dapat menggambarkan peluang dalam rangka menekan laju penyebaran Covid-19.

Misalnya, terdapat 7 (tujuh) orang yang tidak menerapkan Protokol Kesehatan, sehingga berpotensi terjadinya penularan. Suatu ketika, di antara 7 (tujuh) orang tersebut terbukti positif Covid-19. Alhasil 6 (enam) orang lainnya mau tidak mau harus menjalankan isolasi mandiri atau setidaknya melakukan tes swab secara cepat dengan memaksimalkan tracing setelahnya.

Peluang yang muncul terjadinya kasus positif di antara 1/6 orang tersebut berbanding 7:1. Kenapa? Karena peluang terpapar lebih berpotensi, karena mereka sama sekali tidak menerapkan protokol kesehatan.

Penekanan untuk meniminalisasi angka potensi menular 7:1 dapat dilakukan dengan mereka untuk menerapkan Protokol Kesehatan. Alhasil, perbandinganya mengalami perubahan, misalnya 5 (lima) dari sekelompok orang tersebut menerapkan Protokol Kesehatan secara ketat. Konsekuensinya (secara fakultatif) peluang terjadinya penularan menurun dengan perbandingan 2:5. Namun sekali lagi, black swan memiliki ciri khas yang tidak dapat dijamah.

Jadi kewajiban kita untuk mengerti adalah berhenti memprediksi atau ‘meramal’. Lakukan saja antisipasi dini, dengan tujuan untuk menurunkan risiko negatif. Dengan demikian, probabilitas sebuah black swan dapat diminimalisasi, termasuk wabah virus Covid-19.

Bayangkan, apabila seluruh masyarakat Indonesia secara serontak dan gegap gempita menerapkan Protokol Kesehatan (3M) dalam mobilitas sehari-harinya. Saya amat yakin perbandingan kasus positif akan cenderung turun gunung, tidak seperti pada hari ini.

Oleh karena itu, mulai berpikir secara mandiri untuk dapat menekan peluang penyebaran Covid-19. Mulai dari diri anda, kerabat dekat anda dan lingkungan anda. Akhir kata dalam tulisan ini, penulis hanya ingin mengingatkan bahwa angsa hitam benar adanya, hanya saja dia tidak ada di antara angsa putih yang sombong.

    Muhammad Alfarizzi Nur
    Latest posts by Muhammad Alfarizzi Nur (see all)