Pandemi Menjalar, Kapitalisme Ambyar?

Pandemi Menjalar, Kapitalisme Ambyar?
©Pexels

Pandemi Covid-19 adalah sebuah ujian puncak atas sistem yang berlaku saat ini. ~ Prof. Daniel M. Rasyid

Virus korona atau sekarang lebih familier dengan nama panggung Covid-19 ini merupakan bencana sekaligus ancaman serius bagi dunia. Covid-19 merupakan nama resmi dari pandemi ini. Pihak WHO (World Health Organization) menyebutkan hal tersebut pada sebuah konferensi di Jenewa, Februari lalu.

Ternyata, aspek kesehatan bukanlah satu-satunya yang terdampak akibat sebaran virus ini. Hampir segala aspek kehidupan mengalami disrupsi akibat pandemi ini. Sektor perekonomian, pendidikan, konstelasi sosial, dan sektor lainnya ikut tergilas karenanya.

Dalam tulisan ini, penulis tidak akan membahas Covid-19 melalui sudut pandang medis. Penulis akan sedikit mengulas terkait mobilitas perekonomian global akibat dari pandemi ini.

Apa itu Kapitalisme?

Berbicara tentang ekonomi, maka tak lepas pula pada pembahasan salah satu sistemnya yang saat ini memiliki hegemoni kuat terhadap siklus perekonomian global, yakni kapitalisme. Sebenarnya, apa itu kapitalisme?

Secara sederhana, kapitalisme merupakan sistem ekonomi yang mana di dalamnya individu punya hak untuk memiliki faktor-faktor produksi, seperti modal, kekayaan, properti, mesin, industri, pabrik, dan lain sebagainya.

Pola pikir materialistik akan melahirkan sistem kapitalisme tersebut. Karena dalam sistem ini kepuasan pemilik modal adalah yang bersifat segalanya. Pemilik modal bebas mempekerjakan buruh demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Hal seperti ini nantinya akan membengkak pada skala yang lebih luas. Bukan hanya tragedi antara “Si Kaya” dan “Si Miskin” secara personal belaka, namun hal demikian berlaku pada skala yang lebih luas, yakni antarnegara. Di mana setelah berakhirnya penjajahan fisik, kali ini hadir sebuah penjajahan gaya baru dengan formasi yang lebih baru lagi tentunya. Di mana negara kapitalis akan serius dan benar-benar melakukan pemerkosaan terhadap negara dunia ketiga.

Berhasilkah Kapitalisme Mempertahankan Egonya dalam Teror Covid-19?

Jika kita ingat, pada 1929, di mana pada saat itu para kapitalis memiliki ego yang sangat tinggi. Mereka memiliki pandangan bahwa “makin banyak barang yang saya produksi, maka akan makin dapat saya menjualnya dengan harga yang lebih murah”.

Pola pikir tersebut hadir untuk tujuan ekspansi produk, dengan harga yang murah mereka dengan mudah akan dapat menggilas para pesaingnya di luar sana. Begitulah cara berpikir kapitalis kala itu.

Namun, alih-alih terlaksana ekspansi produk dan mendapatkan keuntungan berlipat ganda, para tuan pabrik justru banyak yang menutup perusahaannya. Hal tersebut sebagai akibat dari semua kapitalis memiliki pola pikir serakah yang sama. Dengan demikian, terjadilah over capacity di pasar itu sendiri.

Baca juga:

Barang-barang membanjiri pasar, sehingga terjadi depresiasi harga barang, bahkan sampai anjlok di bawah ongkos produksinya sendiri. Bahkan negara kapitalis raksasa sekelas Amerika Serikat pun mengalami goncangan kala itu.

Amerika Serikat yang kala itu dapat menghasilkan kurang lebih 70 persen barang penting dari industri berat, seperti besi, baja, mesin, dan lainnya, ternyata terdampak juga. Sebanyak kurang lebih 11 juta pekerja kehilangan pekerjaannya. Hal tersebut terjadi bukan karena faktor malas atau kebodohan masyarakat Amerika kala itu, tetapi karena sistem kapitalismelah yang telah memakan dirinya sendiri.

Bergeser pada kasus yang terjadi pada 1340-an. Di mana kala itu terjadi event pandemi dengan tajuk “Black Death”, yakni bakteri Yersinia pestis menyebar. Bermula dari bagian Asia dan terus melakukan tur ke berbagai negara di Eropa. Pandemi ini kira-kira telah membuat sekitar kurang lebih 200 juta umat manusia kehilangan nyawanya.

Lalu Bagaimana dengan Covid-19 Ini?

Cepat atau lambat, Covid-19 akan memberikan gebrakan dan perubahan pada tatanan dunia, baik secara politik maupun ekonomi. Tatanan yang akan banyak mengalami cambukan adalah konstelasi kapitalisme. Kapitalisme dapat kita katakan sebagai pola pikir yang gagal dalam handling pandemi global ini.

Jadi begini, kapitalisme itu membutuhkan media untuk keberlangsungan eksistensinya, media itu adalah pasar. Ketika pasar mengalami penyumbatan akibat Covid-19, secara otomatis pula mobilitas kapitalisme akan mengalami kendala.

Halaman selanjutnya >>>

Dandy Ramdhan Yahya
Latest posts by Dandy Ramdhan Yahya (see all)