Papa Puan

Papa Puan
©Forbes

Puan tanya papa
Pa, darah siapa di mata panah
memanah siapa di negeri sendiri?

Papa memandang puan
Bola matanya kunang-kunang orde lama
Ia hampir buta karena malam panjang negeri itu

An, putriku
Hidup kini bagai kisah zaman batu
Berburu dan diburu

Puan tinggalkan papa
Pa, selamat berburu
Tapi jangan bunuh ibunda

Papa Nesia

Sial, papa Nesia mau pindah
Katanya ke Kalimantan
Jawa tidak cocok untuk hari tua

Usia 76 tahun, dirawat oleh legilastif
Kadang diberi susu hukum
Tapi ditolak, katanya, hukum tidak sehat untuk kebebasan

Nesia bingung, kok bisa papa tolak
Padahal susu itu memperkuat otot
Agar papa bisa ngotot: tertibkan oligarki!

Suatu hari Nesia bercerita
tentang Papua yang sakit kepala
Papanya tertawa suara redup, demokrasi belum tiba

Papa Nesia ikut medical check up
Ginjal nyaman, tulang aman
Tapi hati hitam, otak temaram

Pa, Pa, Pa

Tok, tok, tok
Tok, tok, tok
Pintu demokrasi, apa kabarmu?
Di mana kuncimu?

Tidak dibuka
Petak umpet para oligark
Oli kotor birokrasi
Hipokrisi partai-partai

Anak sudah lelah mengetuk
Lalu memilih menyapa
Pa, Pa, Pa, apa kabar kantongmu?
Aku orang papa datang kemari

Datang ke Papa
Pa, Pa, Pa, mengapa ceraikan ibu
Lalu nikah lagi dengan uang negara?
Mengapa berzinah di kamar keluarga?

Kadang Rasa Bergelora seperti Ombak

Kemarin, kicau burung datang dari senyummu
Tak kutahu siapa kamu
Tapi merdumu meneteskan embun musim kesepian
Ada yang sempat berbunga:
Mawar padang sunyi
Melati hati lelaki

Saling memandang adalah irama musik jiwa
Sejauh kita mengerti keindahannya
Ombak menghempas kita ke pantai
Lalu merasa dingin dan ingin bertepi lagi
Ke dada lelaki pelabuhan asmara
Ke dekapan perempuan rumah kasih sayang

Kau datang ke sampingku
Melabuhkan lelah dan desah dari pencarian
Laut tenang dan kau berbisik,
“Aku tak pandai berlayar sendiri dan tegakah
engkau biarkan perahu tanpa nelayan?
Aku mau kita pulang sebab lonceng gereja memanggil.”

Aku tersenyum sambil menulis:
Kadang rasa bergelora seperti ombak
Kita bisa tenggelam atau berlayar
dengan segenap kemungkinan yang merisaukan
dan bisa saja berlabuh sebagai sepasang kekasih

Tumbuh

Jiwa ragaku
meluruhkan satu dua
pelepah detak jantung.

Ada demam yang mendalam
memukul-mukul dadaku,
laut nadi cita-citaku pun menggelora.

Aku terdampar di bawah terik
melewati garis pantai
menimbang nasib yang nantinya dilabuhkan, di mana?

Terik

Mata langit
yang tak kenal kedip.

    Edy Soge
    Latest posts by Edy Soge (see all)