Patronisme Menciptakan Mentalitas Inlander

Patronisme Menciptakan Mentalitas Inlander
©Pinterest

Nalar Warga – Setali tiga uang dengan klientalisme, ada patronisme yang saling berhubungan.

A patron client relationship is a vertical dyadic, i.e, an alliance between two person of unequal status, power or resources each of whom finds it useful to have as anally someone superior member of such an alliance is called as patron. The inferior is called his client.

Pendapat Carl Lande (1977) di atas memang sangat relevan dengan video ini. Ada relasi antara patron dan client. Sang patron dimanifestasikan sebagai pelindung, yang punya sumber daya status, kekuasaan; sementara client dalam ruang inferior mengikatkan diri untuk tunduk pada modalitas patron.

Patron mendistribusikan kuasanya, pengaruhnya, pun termasuk intimidasinya melalui status yang dimilikinya. Semua itu kemudian diglorifikasi oleh para client, yang memandang patron sebagai tak dapat salah; ada semacam banalitas yang direproduksi.

Mengapa client sangat patuh pada patron, apa pun risikonya? Dengan kata lain, mengapa client menjadi follower setia dari patron? Scott (2007) menyebut 3 hal utama mengapa hal itu terjadi.

Pertama, ada kondisi inequality/ketidaksetaraan kepemilikan modalitas (status, kekayaan, kuasa, pengetahuan) yang disediakan patron dan menyebabkan client terikat padanya. Sederhananya, kalau tak ikut patron, tak bisa makan, tak bisa eksis, atau bahkan tak bisa masuk surga.

Kedua, ada ketidakberdayaan client terkait kondisi safety-nya, meskipun kadang kala kondisi ini sengaja diciptakannya sendiri. Client merasa lingkungannya mengalami kelangkaan sumber daya, sehingga perlu mencarinya pada patron. Bagi saya, inilah bentuk kemalasan yang dipelihara.

Ketiga, lemahnya ikatan kekeluargaan dari client sehingga mencari bentuk baru perlindungan. Analisis ketiga ini lebih pada masalah psikologis client. Ada semacam noktah rendah diri dalam diri client, bahwa mereka tak bisa berbuat apa pun tanpa kehadiran patron.

Patronisme menciptakan mentalitas inlander. Siapakah orang di video ini sehingga bisa-bisanya memerintah, menghasut, meremehkan orang lain? Saya yakin bahwa dia punya modalitas berupa status (ulama?), kekayaan (lihat gaya hidupnya), kuasa (lihat lingkaran pergaulannya).

Dekat dengan persoalan kepatuhan client ialah retaknya nalar. Kesehatan nalar, akhir-akhir ini, menjadi barang langka di Indonesia. Padahal, melalui nalar yang sehat, manusia mampu mempertanyakan segala sesuatu. Descartes telah membukanya dengan “cogito ergo sum”, saya berpikir maka saya ada.

Baca juga:

Nalar yang sehat bahkan menjadi landasan mengapa sebuah pandangan moral/agama harus diterima atau tidak. Immanuel Kant pernah menulisnya dalam Grundlegung zur Metaphysik der Sitten/The Foundations of the Metaphysics of Morals (1785).

Di Indonesia, patron-client terkuat berada di porsi agama. Mengapa? Ada titik terendah dalam diri manusia yang ditawarkan agama, yaitu hidup sesudah kematian. Praksis agama mengajarkan bahwa hidup di dunia diarahkan untuk bahagia di surga.

Profil surga yang dibuat sedemikian indah, dikontraskan dengan neraka yang penuh sengsara. Ironisnya, profil-profil ini disebarkan patron sedemikian rupa sehingga daya nalar manusia menjadi lumpuh. Amigdala menjadi tertutup, dan diikuti dengan puja-puji terhadap patron.

Belum lagi jika ada patron mendeskripsikan surga sebagai tempat ber-fucking ria. Sungguh sebuah upaya membangkitkan primordialisme hasrat manusia: bereproduksi. Nalar pun makin amburadul.

Jadi berbahagialah Anda yang bebas berdiri di atas daya nalar sehat. Dari sini, semua kendali kehidupan pun kematian dapat diaktualisasikan.

*Petrikor Caraphernelia

    Warganet