Pemakan Gaji Buta

Pemakan Gaji Buta
Foto: Shutterstock

Kisah guru pemakan gaji buta.

Kakak perempuanku pulang dengan air mata di pipinya. Dia guru swasta, junior, dan baru bekerja di sekolah tingkat dasar di Malang. Jilbabnya ia lepas saat memasuki rumah. Dia diam sambil mengunyah makanan dengan perlahan.

Ikan lele adalah kesukaannya. Namun matanya tampak lesu. Derita di matanya jelas Tampak. Sebagai adik yang peduli, aku bertanya, “Ada apa, Kak?”

Raut wajahnya mengerut. Kecantikan yang sering aku lihat pada dirinya memudar. Dan dia memelukku dan pergi ke kamarnya. Dan ada suara tangisan yang seperti disumpalkan dengan bantal, agar orang rumah tidak mendengar.

Ada apa ini?

Setiap berangkat, wajahnya tampak berpura bahagia. Karena pekerjaan barunya mulia. Tapi hal apa yang membuatnya bernestapa setiap kali pulang ke rumah?

Hari-hari bergulir, kesunyian terus tertahan di hati kakak perempuanku. “Ada apa?”

“Kakakmu ini dipaksa mengajar di banyak kelas. Guru lain cuma duduk-duduk, ngopi, bergosip, dan bersenang-senang. Cuma Pak Sukardi, guru agama, saja yang mendukungku secara mental. Dan guru yang benar-benar mengajar hanya aku dan Pak Sukardi itu saja di sekolah itu!”

Aku menelan ludah. Ini pasti ulah Orde Kedaluwarsa (Orde Baru).

Memang, sejak saat itu, korupsi menjadi budaya. Padahal budaya Jawa yang luhur sangat indah dan menghormati ilmu. Kini, orang-orang lebih menghormati uang, sampai harus makan gaji buta. Padahal uang tidak bisa dibawa di akhirat.

Setelah kakak perempuanku itu menangis di pundakku, aku putuskan untuk berangkat ke sekolah itu. Tempat di mana kakak perempuanku mengajar.

Saat sampai, memang, sejak bel masuk dan istirahat makan siang, guru-guru yang sudah tua cuma ada di ruang guru. Ngopi, bercanda, memamerkan anak-anaknya yang masuk universitas bagus. Entah dengan cara haram atau anaknya memang pintar menipu dengan banyaknya koneksi.

Bahkan kakak perempuanku ini bisa diterima karena ayah kami bekerja sebagai tukang sapu sekolah. Jadi masih ada bentuk koneksi agar kakak perempuanku bisa diterima di sini.

Mungkin karena itu juga, kakak perempuanku yang bernama Ajeng itu direndahkan serendah-rendahnya. Padahal saat lulus kuliah, dia mendapat nilai sempurna. Dan karena aku juga merasa terhina, aku menggebrak meja di dalam ruang guru.

Wajah guru-guru tua itu kulihat satu-satu dengan pandangan mataku yang lebih tajam dari seribu pedang. Mereka ada yang menunduk, ada yang ikut marah tapi tidak berani berdiri, dan ada salah satunya, yang paling tua, mengompol.

Dendamku terbalas. Tapi esok harinya, kakak perempuan dan ayahku dipecat.

    Arham Wiratama

    Lahir di Jombang, 1 Agustus 1997 | Penulis "Deru Desir Semilir" (Intelegensia Media, 2016) dan "Segara Duka" (J-Maestro, 2018) | Belajar biola dan gitar di Spirit of Musik Jombang

    (see all)

    Share!