Pemborosan Kata dalam Bahasa Indonesia

Pemborosan Kata dalam Bahasa Indonesia
©Shutterstock

“Kurang pengetahuan dan kealpaan mengkritik serentak mengkritisi penggunaan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari telah menjadikan kita, manusia Indonesia, cacat. Bukan secara substansial berbahasa, melainkan secara gramatikal. Demikian proposal tulisan ini meyadarkan dan pada saat yang sama mengantar kita pada suatu pemahaman berbahasa secara holistik, agar bahasa kita dapat menjadi dirinya sendiri.”

Dre Denada, sebagaimana yang dikutip oleh Yohanes Orong, mengatakan sistematika tulisan yang gramatikal dan ketentuan berbahasa secara baku merupakan prasyarat penyampaian gagasan.[1] Secara tersirat, Dre Denada mengajarkan publik sebuah gagasan yang baik dan benar; tidak hanya ditandai oleh pengertian dalam sistem komunikasi bahasa, tetapi juga ditandai dengan grammar bahasa yang sesuai dengan kaidah.

Hari ini, baik dalam ragam lisan maupun tulisan, kita menjumpai aneka problem. Salah satu dari aneka problem itu adalah penggunaan kalimat yang tidak efektif.

Kalimat yang tidak efektif dapat diketahui lewat pemborosan penggunaan kata. Pemborosan penggunaan kata dalam kalimat tersiar lewat penggandaan subjek, penggandaan bentuk, dan tidak hemat menggunakan kata.[2] Problem ini selalu eksis karena kerap dipandang sebelah mata dengan alasan kesalahan gramatikal, bukan substansi.

Namun, perlu disadari bahwa masalah ini telah melahirkan dua masalah lain, yang hemat saya sebut saja kurang cermat dan kekaburan keseimbangan antara substansi dan gramatikal berbahasa. Demikian latar belakang itulah yang memacu saya untuk mencari dan menemukan akar masalahnya agar saya dapat merekomendasikan saran yang tepat untuk mengatasi masalah itu menuju praktik berbahasa yang baik dan benar.

Dengan mudah, problem penghematan kalimat efektif ditemukan dalam ragam bahasa lisan maupun tulisan. Bersadarkan observasi, saya menemukan cukup banyak problem penghematan penggunaan kata.

Namun, pada esai ini, saya hanya menyajikan enam data kekeliruan efektivitas berbahasa yang saya peroleh dari beberapa sumber buku dan dari sebuah sumber video diskusi, serta dari sebuah karya yang dimuat di dunia virtual. Data-data tersebut saya kelompokan ke dalam tiga bagian berdasarkan ciri khas penghematan sebagai salah satu elemen efektifan kalimat Bahasa Indonesia.

1. Mengulang subjek yang sama

Saya menemukan dua kekeliruan penghematan kata dengan cara mengulang subjek yang sama. Kedua kekeliruan itu, antara lain: “Aku akan berjalan sendiri, aku ingin mandiri, dan aku tak ingin anganku mati oleh karena malam yang sepi ini.”[3] dan “Ketika saya menoleh ke belakang dan mengenang papa, saya rasakan betapa papa menjaga dan melindungi kami, mama dan anak-anaknya dengan segenap jiwa dan raganya.”[4]

2. Menggandakan bentuk

Saya menemukan dua kasus penggandaan bentuk, yakni “Tindakan agresif juga tidak hanya dikeluarkan oleh para generasi remaja saja, tetapi juga terjadi pada kaum birokrasi.”[5]  dan “Jadi kita ingin agar supaya syarat pencalonan itu ditentukan oleh konstitusi, bukan oleh undang-undang.”[6]

3. Tidak hemat menggunakan kata

Saya menemukan dua kekeliruan dalam kasus tidak hemat menggunakan kata. Kedua kasus itu, antara lain: “Saya menangkap deretan gigi-gigi yang masih tersusun rapi di balik bibir yang lisut.”[7] dan “Banyak anak-anak kecil berenang di sungai Bengawan Solo.”[8]

Demikian ketiga kelompok kasus penghematan berbahasa yang saya temukan dalam keseharian, baik secara verbal maupun tertulis.

Ketiga kelompok kasus penghematan berbahasa yang ditampilkan di atas telah saya telusuri secara intens, menemukan letak kesalahannya, dan sekarang memperbaiki ketidakefektifannya menjadi sebuah kalimat baku. Berikut saya akan menyajikan ulang kasus-kasus di atas dan menganalisisnya dengan berlandas pada teori yang saya pelajari dalam mata kuliah Bahasa Indonesia.

1. Penghilangan subjek berulang

“Aku akan berjalan sendiri, aku ingin mandiri, dan aku tak ingin anganku mati oleh karena malam yang sepi ini.” dan “Ketika saya menoleh ke belakang dan mengenang papa, saya rasakan betapa papa menjaga dan melindungi kami, mama dan anak-anaknya dengan segenap jiwa dan raganya.”

Kalimat pertama merupakan kalimat majemuk setara yang terdiri atas tiga kalimat dasar dengan subjek yang sama, yaitu Aku. Pemunculan subjek sebanyak tiga kali menunjukkan pemborosan subjek. Oleh karena itu, subjek kedua dan ketiga harus di-cut sehingga itu menjadi kalimat efektif. Jadi, kalimat itu menjadi, “Aku akan berjalan sendiri, ingin mandiri, dan tak ingin anganku mati oleh karena malam yang sepi ini.”

Sedangkan, di dalam kalimat kedua, terdapat subjek anak kalimat yang sama dengan induk kalimat, sehingga perlu dihilangkan subjek pada anak kalimat. Jadi, kalimatnya menjadi, “Ketika menoleh ke belakang dan mengenang papa, saya rasakan betapa papa menjaga dan melindungi kami, mama dan anak-anaknya dengan segenap jiwa dan raganya.”

2. Pengulangan bentuk ganda

“Tindakan agresif juga tidak hanya dikeluarkan oleh para generasi remaja saja, tetapi juga terjadi pada kaum birokrasi.” dan “Jadi kita ingin agar supaya syarat pencalonan itu ditentukan oleh konstitusi, bukan oleh undang-undang.” Kedua kalimat ini tidak efektif karena padanya terdapat penggandaan unsur yang berarti sama.

Di dalam kalimat pertama, terdapat dua kata bersinonim, yakni, hanya dan saja. Oleh karena itu, untuk menghemat kata, gunakanlah salah satu dari kedua kata itu.

Jadi, terdapat dua alternatif perubahan menjadi kalimat efektif, (1) Gunakan kata “hanya”, “Tindakan agresif juga tidak hanya dikeluarkan oleh para generasi remaja, tetapi juga terjadi pada kaum birokrasi.” dan (2) Gunakan kata “saja”, “Tindakan agresif juga tidak dikeluarkan oleh para generasi remaja saja, tetapi juga terjadi pada kaum birokrasi.”

Perubahan tersebut berlaku juga bagi kalimat kedua. Di dalam kalimat tersebut, terdapat dua kata bersinonim, yakni agar dan supaya. Kedua kata itu mempunyai fungsi yang sama, yakni menjelaskan tujuan.

Oleh karena itu, kalimat tersebut diubah dalam dua alternatif. (1) Gunakan kata “agar”, “Jadi kita ingin agar syarat pencalonan itu ditentukan oleh konstitusi, bukan oleh undang-undang.” dan (2) Gunakan kata “supaya”, “Jadi kita ingin supaya syarat pencalonan itu ditentukan oleh konstitusi, bukan oleh undang-undang.”

3. Penghematan penggunaan kata

“Saya menangkap deretan gigi-gigi yang masih tersusun rapi di balik bibir yang lisut.” dan “Banyak anak-anak kecil berenang di sungai Bengawan Solo.” Kedua kalimat itu adalah contoh pemborosan dalam menggunakan kata.

Di dalam Bahasa Indonesia, kata yang bermakna jamak bisa diulang, tetapi dapat diganti dengan kata bilangan yang juga berarti jamak, seperti para, beberapa, jumlah, banyak, ataupun segala. Oleh karena itu, penjelasan ini mengafirmasi contoh pemborosan kata dalam kedua kalimat di atas.

Di dalam kalimat pertama, ditemukan penjamakan kata “gigi” di samping kata “deretan” yang juga berarti jamak. Jelas, itu memperlihatkan ketidakefektifan kalimat, sehingga kalimat itu harus diubah.

Saya memberikan dua alternatif yang bisa ditempuh. Jadi, kalimat itu menjadi, (1) Penunggalan kata “gigi”, “Saya menangkap deretan gigi yang masih tersusun rapi di balik bibir yang lisut.” dan (2) Hilangkan kata “deretan”, “Saya menangkap gigi-gigi yang masih tersusun rapi di balik bibir yang lisut.”

Hal senada juga berlaku bagi perubahan kalimat kedua. (1) Penunggalan kata “anak”, “Banyak anak kecil berenang di sungai Bengawan Solo.” dan (2) Hilangkan kata “banyak”, “Anak-anak kecil berenang di sungai Bengawan Solo.”

Problem penghematan dalam kalimat bahasa Indonesia yang telah ditampilkan dan diperbaiki di atas, hemat saya, dilatarbelakangi oleh dua alasan mendasar. Pertama, kurang pengetahuan. Alasan ini ditemukan lewat background pendidikan para penulis dan pembicara yang dikutip. Hal ini ditemukan dalam contoh pengulangan bentuk ganda yang ditulis oleh seorang siswa SMA Seminari San Dominggo Hokeng (sebuah lembaga pendidikan calon imam yang terletak di Hokeng, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur).

Saya mencurigai problem ini timbul karena sang siswa lupa teori-teori terkait yang telah diajarkan, tidak paham struktur penghematan, atau kemungkinan lain adalah sang siswa belum memperoleh materi demikian.

Namun, ketiga kecurigaan itu tidak berlaku sepenuhnya karena terdapat penulis lain yang mempunyai standar pendidikan lebih tinggi, seperti dua orang mahasiswa STFK Ledalero, Anna Marieta da Silva, seorang doktor dalam bidang Linguistik Terapan Bahasa Inggris yang menulis di majalah Warta Flobamora, dan sebuah tulisan yang dipublikasikan di dunia virtual, serta seorang pengamat politik Indonesia sekaliber Rocky Gerung. Jadi, lebih cocok jika dikatakan para penulis lupa atau tidak paham struktur penghematan kata.

Kedua, bahasa adalah kebiasaan (language is a habit). Pemborosan penggunaan kata seperti pada contoh yang telah saya sajikan di atas menyiratkan kebiasaan dalam berbahasa. Para pengguna bahasa Indonesia, khususnya beberapa penulis dan seorang pembicara yang saya angkat bahasa tulisan dan lisan mereka sebagai sampel, dicurigai telah terjebak dalam sebuah warisan kebiasaan penggunan bahasa. Kebiasaan itu bisa lahir dari lingkungan masyarakat terkait.

Kebiasaan itu menimbulkan kemapanan. Seseorang yang hadir di dalam masyarakat terkait akan mudah akrab dan tinggal dalam kemapanan itu.

Dengan demikian, saya menyimpulkan bahwa pemborosan kata yang berakibat pada ketidakefektifan kalimat disebabkan oleh kegagalan orang memaksimalkan fungsi nalar kritisnya dalam berbahasa. Secara sederhana, orang dapat mengerti pesan apa yang mau disampaikan, tetapi kalimat yang disampaikan cedera secara gramatikal.

Oleh karena itu, untuk mencapai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, dengan nalarnya, orang harus mampu menggunakan bahasa yang efektif sehingga itu berpotensi menjadikan bahasa Indonesia sebagai dirinya sendiri.


[1]Yohanes Orong, “Generasi Milenial dan Problematik Bahasa” dalam Vox, seri 64/01/2018, hlm. 41.

[2]Yohanes Orong, Bahasa Indonesia Identitas Kita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2017), hlm. 66-69.

[3]Jimmy Kerans, “Sepucuk Surat dalam Jeruji” dalam Florata,  edisi I . Thn. XX. Juni 2016, hlm. 84.

[4]Anna Marieta da Silva, “Selamat Jalan Papa” dalam Warta Flobamora, 60 (Agustus, 2018), hlm. 35.

[5]Wayan Allan, “Pendidikan Karakter: Cermin yang Mencerminkan Bangsa” dalam Kuncup 36 (Januari-Desember, 2013), hlm. 11.

[6]Najwa Shihab, “Pasar Bebas Capres: Presidential Threshold”, servicesdirectory.withyoutube.com, diakses pada 23 Maret 2019.

[7]Inno Koten, “dan Kami pun Menyeberang” dalam Florata, edisi I. Thn. XX. (Agustus 2018), hlm. 41.

[8]Abdullohaja, “Kalimat Efektif dan Tidak Efektif beserta Alasannya”, thegorbalsla.com, diakses pada 13 April 2019.

Ivanno Collyn
Latest posts by Ivanno Collyn (see all)