Pemikiran Pluralistik KH. Yahya Cholil Staquf

Pemikiran Pluralistik KH. Yahya Cholil Staquf
©NU Online

Pemikiran Pluralistik KH. Yahya Cholil Staquf

Sejak KH. Yahya Cholil Staquf atau akrab sapaannya Gus Yahya dianugerahi Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 13 Februari 2023 di Gedung Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah (Multi Purpose), saya tertarik mencoba menggali khazanah pemikiran dan empiriknya yang tidak hanya sebagai ulama, melainkan seorang pluralis berlatar belakang pendidikan pesantren yang dapat merangkul semua segmentasi, baik lintas budaya hingga lintas iman.

Keberanian UIN Sunan Kalijaga sebagai institusi pendidikan pada agenda penganugerahan Doktor Honoris Causa dengan mengangkat tema “Membangun Persaudaraan dalam Keragaman Kemanusiaan” menjadi ketertarikan bagi akademisi maupun intelektual dalam menemukan benang merah dalam menempatkan Islam dalam dimensi varian keberagaman.

Tentunya, hal ini menjadi alasan kuat bagi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memberikan gelar Doktor Kehormatan kepada Gus Yahya. Selain itu juga ada tokoh lain yang mendapatkan gelar tersebut antara lain dr. Sudibyo Markus, MBA yang merupakan orang berpengaruh di kalangan Muhammadiyah. Selain itu, beliau merupakan pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan mendirikan Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) berangkat dari latarbelakangnya sebagai dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kemudian UIN Sunan Kalijaga memberikan gelar Doktor Kehormatan kepada tokoh dari Gereja Katolik di Vatikan yakni Cardinal Miguel Angel Ayuso Guixot, MCCJ. Beliau merupakan Prefek Dikasteri untuk Dialog Antar Agama dari Tahta Suci Vatikan. Perannya tidak diragukan lagi dalam pengembangan dialog antar agama yang dikemas secara harmonis.

Salah satu contohnya yakni berperan dalam deklarasi Abu Dhabi yang mensinergikan dua otoritas keagamaan dunia yakni Tahta Suci Vatikan sebagai lembaga tertinggi Katolik dan Al Azhar sebagai representasi Muslim. (Siswanto Masruri, Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga dalam pengantarnya).

Dalam pengantar pidatonya Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Al-Makin berharap kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadikan institusi pendidikan sebagai salah satu kampus inklusif dan akomodatif bagi semua iman, agama, suku, etnis, ras. Meskipun labelisasi Islam yang melekat di UIN Sunan Kalijaga, memberikan kelenturan bagi semua keberagaman untuk belajar di UIN Sunan Kalijaga tanpa terkecuali seperti antar madzhab, aliran, praktik dan jamaah, organisasi dan cara untuk berekspresi seni, budaya dan agama. Hal ini menjadi ciri unik bagi UIN Sunan Kalijaga.

Hal inilah menjadi kesempatan bagi saya mengenyam pendidikan magister pada Konsentrasi Kajian Timur Tengah di UIN Sunan Kalijaga inilah, nilai – nilai yang terkandung seperti halnya saya kembali pulang ke rumah untuk mempertajam pengetahuan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan, seperti halnya gagasan Tan Malaka tentang Pendidikan. Karena kedamaian, harmonis, adaptif, pluralis, hingga progresif revolusioner menuntun kita untuk membangun paradigma yang konstruktif-dialogis yang terbuka.

Saya mencoba menyajikan mengapa alasan kuat UIN Sunan Kalijaga memberikan gelar Doktor Kehormatan kepada Gus Yahya. Saya rasa amat bukan hanya sekedar menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) saja, melainkan sepanjang perjalanan beliau melaksanakan dialog perdamaian berskala internasional, pernah menjadi staf khusus presiden ke-4 Republik Indonesia yakni KH. Abdurrahman Wahid (akrab sapaannya Gus Dur) dan pernah menjabat sebagai Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla.

Baca juga:

Tradisi Akademik UIN Sunan Kalijaga: Core Values

Misi UIN Sunan Kalijaga yakni Pertama, Memadukan dan mengembangkan studi keislaman, keilmuan, dan keindonesiaan dalam pendidikan dan pengajaran. Kedua, Mengembangkan budaya ijtihad dalam penelitian multidisipliner yang bermanfaat bagi kepentingan akademik dan masyarakat. Ketiga, Meningkatkan peran serta institusi dalam menyelesaikan persoalan bangsa berdasarkan pada wawasan keislaman dan keilmuan bagi terwujudnya masyarakat madani. Keempat, Membangun kepercayaan dan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Narasi misi diatas memperkuat dalam tradisi akademik dikalangan intelektual muslim UIN Sunan Kalijaga. Selain itu, bahwa UIN Sunan Kalijaga tercatat sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) pertama di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1950, dan diresmikannya sebagai kampus Islam Negeri pada 26 September 1951.

Sebagaimana dalam tradisi intelektual UIN Sunan Kalijaga mempunyai Core Values yang merupakan gagasan dari Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, M. Amin Abdullah yakni : (Sumber: Website UIN Sunan Kalijaga, Kurikulum UIN Sunan Kalijaga Harus Dapat Melahirkan Alumni dengan Multi Kompetensi)

  1. Integratif-interkonektif mengacu pada konsep Burhani (Hadharatul ‘Ilm) akan membentuk kompetensi memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, aktif, kreatif, kritis, gigih, tekun, padai bekerja-sama, interpreneurship, mentalitas melimpah, integritas yang tinggi, peduli, bersemangat, tangguh, mandiri, punya daya tahan yang tinggi, amanah dan bisa menjadi teladan, disamping pengusaan yang mendalam keilmuan di bidangnya (Scientific Tamper).
  2. Dedikatif-Inovatif mengacu pada konsep Irfani (Hadharatul Falsafah), yang akan membentuk pribadi yang bertanggung-jawab, memiliki komitmen yang tinggi, patriotik/Pancasilais.
  3. Inklusif-Continuous Improvement mengacu pada konsep Bayani (Hadharatul Naas), akan membentuk pribadi yang memiliki spiritualitas tingkat tinggi (altruistik spirituality), morality, moderat (Islam Wassatiyah, komunikatif, memiliki keahlian bermusyawarah, toleran, berani megambil resiko).

Core Values UIN Sunan KalijagaGambar 1: Core Values UIN Sunan Kalijaga.

Dengan paradigma keilmuan UIN Sunan Kalijaga, diharapkan mahasiswa mampu menyelaminya. Jika ditinjau dari perspektif keagamaan, mahasiswa mampu melaksanakan konsep Core Values dengan mengkaji studi – studi di luar Islam, dengan cara mengeksplorasi ajaran-ajaran Keislaman yang rahmatan lil alamin serta mendialogkan untuk mencapai kesimpulan yang mengandung prinsip-prinsip kebenaran, serta mampu berkontribusi dalam keberagaman beragama, berbangsa dan bernegara demi menciptakan bangsa Indonesia yang inklusif, moderat, serta progresif dalam menghadapi tantangan zaman yang liberal-kapitalistik, konservatisme keagamaan hingga munculnya radikalisme-ekstrimisme yang dapat mengancam Kebhinekaan Tunggal Ika.

Halaman selanjutnya >>>
Aji Cahyono