Pemuda dan Literasi

Pemuda dan Literasi
©Kompasiana

Pemuda dan literasi sangat menarik untuk diperbicangkan di kalangan kaum muda karena literasi berjalan seiring dengan khalayak muda. Dalam berliterasi sangat membutuhkan budaya membaca, menulis dan berdiskusi, tidak dapat dimungkiri apabila kaum muda mengedepankan budaya literasi, tentunya sangat menarik dan bisa menjadi kebutuhan kalangan muda setiap hari.

Jika dilirik dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, literasi ini sangat melekat dalam jiwa kepemudaan yang ingin menganalisis perkembangan zaman.

Khalayak muda yang mencintai literasi tentunya akan mampu bersaing di dunia akademis ataupun di luar akademis, sesuai keinginannya masing-masing, asalkan tidak malas dan jenuh dalam melatih kreativitasnya tersendiri. Sungguh tidak akan dapat dipisahkan antara pemuda dan literasi, bisa diibaratkan antara air dan nasi. Literasi tidak muncul begitu saja dalam diri kepemudaan, ia membutuhkan panggilan jiwa yang konsisten agar tumbuhnya budaya literasi.

Syarat pertama yang harus dimiliki oleh pemuda adalah sikap menumbuhkan rasa kecintaan secara terus-menerus dalam benak pribadinya sendiri. Jika sudah mendapatkan rasa kecintaan, sungguh seorang pemuda akan sungguh-sungguh dalam melatih literasinya sampai akhir hayat. Hal yang sangat perlu dikedepankan adalah menumbuhkan minat baca, menulis, dan berdiskusi. Apabila tiga poin tersebut sudah tertanam di jiwa, mustahil tidak mendapatkan kecintaan terhadap literasi.

Selain daripada itu, poin penting yang wajib ditanamkan dalam benak jiwa pecinta literasi ialah, mereka mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mewujudkan peradaban, serta harus terus-menerus mengasah kemampuan literasinya agar menjadi lokomotif bagi kemajuan zaman. Karena generasi pecinta literasi akan dituntut untuk kritis dalam mengelola isu dan problem yang terjadi di negeri tercinta ini.

Untuk menjadi generasi emas di tahun yang akan datang, bukan hanya sekadar diucapkan di mulut saja, melainkan harus mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan visi tersebut, sesuai yang telah dicita-citakan oleh negeri kita tercinta. Di era transformatif ini, peran pemuda dalam berliterasi karena sudah dituntut oleh zaman, sehingga budaya seperti ini patut dikembangkan serta diasah secara terus-menerus.

Oleh sebab itu, peran pemudalah yang sangat dibutuhkan dan dikedepankan dalam membumikan literasi di tengah zaman seperti ini. Jika pemuda sekarang tidak melek dalam berliterasi, takutnya akan menjadi bumerang yang sangat ditakutkan, karena daya literasi sangat dibutuhkan dalam mengawal arah kebijakan serta perpolitikan yang hangat di negeri tercinta ini. Karena di dalam memahami problematika sosial yang terjadi di bumi tercinta ini, perlu kajian yang akurat serta relevan. Tentu minat baca sangat dibutuhkan.

Dalam hal ini saran daripada penulis yaitu jangan takut untuk menulis karena dengan menulis kreativitas akan makin terasah dengan seiring waktu. Tulislah apa pun menurut Anda apa pun yang dituliskan, karena dengan menulis itulah semangat akan berkobar. Asalkan jangan malas untuk menulis. Semangat kepemudaan sejatinya harus diwujudkan melalui literasi, jangan mau jadi anak muda yang malas karena akan menjadi bumerang yang sangat besar ke depannya. Kita pemuda harus tau serta harus peka terhadap hakikat kepemudaan.

Baca juga:

Pemuda seperti apa yang disebut dengan pemuda, pemuda yang sejatinya ialah pemuda yang tak kenal lelah dalam mewujudkan apa yang ia tekuni dan ia pelajari. Agar kepemudaannya dianggap layak dan dipertimbangkan di berbagai lini. Jangan sampai kepemudaannya tidak dapat dipertanggungjawabkan setelah menghadapi masa tuanya nanti.

Bung Karno juga pernah mengatakan, yang bunyinya seperti ini, berikan aku sepuluh pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Makna yang disebutkan oleh beliau juga patut ditanyakan pemuda yang seperti apa. Tentunya pemuda yang mempunyai daya semangat tinggi dan peka terhadap negaranya dan mampu mengawal kebijakan yang terjadi di tengah-tengah negeri ini. Oleh karena itu, kembangkanlah semangat kepemudaan melalui literasi selagi masih ada waktu.

Jika dilihat di masa sekarang, pemudalah yang harus berperan serta berkontribusi dalam mencermati dinamika di negeri ini. Jika pemuda tidak mampu mengontrol arah kebijakan negeri ini, lantas siapa lagi yang diharapkan?

Maka dengan ini, melalui literasilah kita menyumbangkan pemikiran serta solusi di tengah arah kekuasan yang carut-marut bahkan tidak memihak kepada masyarakat sepenuhnya. Dalam konteks ini, semangat kepemudaan harus tetap dikawal. Agar tidak jadi penghambat dalam berliterasi.

Pemuda kedepan harus mampu mengawal setiap kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh rezim, serta melihat perkembangan yang terjadi. Apabila terjadi stagnan di berbagai sektor, jangan takut bersuara untuk mencapai tatanan sosial yang lebih baik. Jadi pemuda jangan mau dibodoh-bodohi oleh rezim, karena jika sudah dapat dikuasai oleh rezim maka akan menjadi problem yang sangat besar.

Apalagi sistem praktik oligarki sudah ditanam secara perlahan yang tanpa kita sadari, tentunya ini sungguh sangat berbahaya bukan untuk masyarakat. Maka dalam hal itu, berbenahlah selagi kita mampu untuk berbenah. Jika praktik oligarki dibiarkan begitu saja tanpa dicegah sungguh dapat merugikan masyarakat kita nantinya.

Penulis tidak mau panjang lebar membahas tentang oligarki karena kita dapat mengontrol sendiri bagaimana arah negeri saat ini asalkan harus update dengan setiap informasi. Tentunya harapan penulis dalam konteks pemuda dan literasi yaitu pemuda harus berbenah dan berliterasi dan jangan mau jadi anak muda lamban karena akan berpengaruh terhadap masa tua anti.

Membacalah buku sebanyak-banyaknya, menulislah secara terus-menerus, dan berdiskusilah agar cakrawala kepemudaan luas. Dan jangan teperdaya dengan hal-hal yang tidak penting karena perbuatan seperti itu terbuang waktu dengan sia-sia.

Baca juga:

Apalagi saat ini banyak seminar dan pelatihan literasi, ikutilah selagi ada kesempatan waktu, karena dengan mengikutinya kita dapat bertambah ilmu, bahkan jika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terhadap seminar yang disampaikan akan menjadi hal yang positif bagi kita agar dapat menjadi acuan untuk aktif dalam berliterasi. Penulis juga sebelum memulai belajar menulis, juga pernah mengikuti berbagai seminar dan pelatihan menulis untuk dapat berkarya dan berinovasi untuk mengembangkan potensi diri.

Patut diakui bahwasanya pemuda yang gemar berliterasi akan memtik hasilnya di kemudian hari, asalkan terus-menerus memperkaya potensi melalui literasi. Nikmati prosesnya dan jangan cepat merasa bosan terhadap itu semua karena lama-kelamaan akan menjadi suatu kebiasaan yang positif. Dan juga hanya belajar dalam bangku perkuliahan saja, karena ilmu yang kita dapat hanya sesuai yang diberikan oleh dosen.

Maka daripada itu, sempatkan waktu untuk belajar setiap hari agar mampu menjadi pribadi yang baik. Dan akan menjadi pengaruh yang sangat besar untuk menunjang daya kreativitas sendiri.

Sejatinya apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Dalam dunia ini tidak orang yang bodoh yang ada hanyalah cepat ataupun lambat prosesnya, tergantung ketekunannya masing-masing dalam belajar dan kerja kerasnya dalam menunjang kretivitas. Pemuda adalah perubahan, tanpa perubahan maka patut dipertanyakan kepemudaannya.

    Abdan Syakura
    Latest posts by Abdan Syakura (see all)