Pemuda Sulbar Ini Cium Aroma Politisasi di Kasus Maman Suratman

Pemuda Sulbar Ini Cium Aroma Politisasi di Kasus Maman Suratman
Asman Mandar

Nalar Politik – Salah satu pemuda Sulbar (Sulawesi Barat), Asman Mandar, mencium aroma politisasi di kasus Maman Suratman. Upaya itu, menurutnya, datang dari pihak pelapor yang hendak memenjarakan mantan Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiswa Polewali Mandar-Yogyakarta tersebut.

“Politisasi di kasus Maman ini cukup terasa. Ada semacam upaya menaikkan pamor politisi tertentu dengan cara yang seolah-olah bersimpati padahal bertujuan pragmatis,” kata Asman kepada redaksi, Minggu (28/6).

Kasus tersebut, bagi Asman, memang lahan yang empuk. Di sana oknum-oknum tertentu kemudian berusaha memainkannya demi politik praktis.

“Saya kira ini juga waktu yang tepat. Apalagi momentum politik sudah di depan mata. Banyak celahlah untuk memanfaatkan kasus ini mendorong kepentingan pribadi, kelompoknya.”

Alumnus Yogyakarta itu juga menyinggung bagaimana kondisi riil di lapangan. Berita-berita pelaporannya viral, tetapi profil para pelapor tidak bisa disebut mewakili sepenuhnya kelompok masyarakat yang dibawanya.

“Mereka, yang demo-demo itu, kan, kurang representatif. Saya rasa tidak cukup mewakili komunitas masyarakat tertentulah.”

Demikian halnya soal penghinaan yang mereka tuduhkan kepada Maman. Tidak ada bukti konkret yang menurutnya bisa dianggap bahwa yang bersangkutan memang melakukan pelecehan.

“Isu SARA mereka bawa-bawa, padahal konten yang dijadikan bukti sama sekali tidak menyinggung itu. Saya juga membaca, itu bentuk kritikan Maman ke pemerintah. Apa salah warga mengkritik pemerintahnya? Ini masih Orba, kah?”

Adapun kandungan kata “maraqdia”, bagi Asman, harus dimaknai secara umum. Bahasa itu, menurutnya, tidak selamanya terikat ruang dan waktu.

“Artinya (maraqdia), kan, raja. Klarifikasi dari Maman yang sama-sama bisa kita baca juga, kan, merujuk ke ‘Raja Sulbar’. Jadi ya benar, hanya orang bodoh yang menganggap (ABM) raja Sulbar, sementara kenyataannya cuma gubernur. Apa yang salah?”

Baca juga: