Pendidikan Itu, Kawan, Membebaskan!

Pendidikan Itu, Kawan, Membebaskan!
Ilustrasi: Toto S

Aku punya mimpi tentang sebuah tempat yang di sana aku menemukan hidup dalam ketenangan, kedamaian, persaudaraan, serta semangat belajar dan berbagi bersama. Ya, aku bermimpi tentang sebuah tempat yang luar biasa indahnya.

Bukan surga, bukan. Tempat itu masih di bawah langit dan kita tak perlu mati dulu untuk ke sana. Sekolah, nama tempat itu.

Kau pasti lagi ngawur, kawan. Apa yang diharapkan dari sekolah? Tidakkah kau sadar bahwa sekolahlah yang membuat perbedaan begitu mendasar di masyarakat?

Orang disebut berpendidikan jika dia bersekolah. Orang dihormati karena bersekolah meskipun tidak bisa apa-apa. Kawan, sekolah itu hanya untuk orang-orang yang berduit. Buat orang miskin, mereka tak mampu bersekolah.

Kawan, mesti kau tahu, sekolah yang kau maksud itu tak lebih dari tempat yang sama dari bumi ini, tempat kebanyakan orang lebih sering membenci dari mengasihi. Mereka sibuk menilai orang dari sudut pandang mereka sendiri.

Mereka hanya ingin bergaul sesama mereka dan tak mau membantu orang yang tidak memberikan keuntungan apa-apa bagi mereka. Persis seperti pengusaha culas yang hanya mau untungnya saja, saling merendahkan sesamanya hanya karena nilai.

Kita dicekoki dengan hal-hal yang sebenarnya belum tentu kita pakai dalam kehidupan kita. Saat lulus, kita tak tahu apa yang mesti kita lakukan, karena kita tak pernah mempelajari bagaimana harusnya kita hidup.

Ya, itulah, kawan, sebagian kecil gambaran sekolah sekarang. Tidak memberi pencerahan, hanya kesengsaraan. Lantas, apa yang kau harapkan dari sekolah, kawan?

Sudahlah. Sudahi impianmu itu. Kau hanya akan menambah masalah di pikiranmu yang memang sudah bermasalah itu.

Tak ada surga, kawan, di sekolah. Yang ada gambaran suram para pelajar yang berebut nilai untuk dibanggakan, sementara mereka gagap melihat keadaan masyarakat. Mereka tak tahu mesti berbuat apa, bahkan kepada diri mereka sendiri.

Mungkin itu memang benar. Gambaran sekolah yang ada sekarang memang seperti itu.

Tapi, apakah kita tidak pernah berpikir untuk menciptakan surga di sekolah? Apakah kita hanya mengiyakan apa yang terjadi selama ini dan menikmatinya saja tanpa pernah bertanya kenapa? Apakah kita akan diam saja melihat itu terus terjadi?

Kawan, setidaknya kita bisa memulai itu. Harapan itu masih ada. Mimpi itu mesti diwujudkan dan diciptakan.

Para pendiri bangsa ini sudah menyadari tentang pentingnya pendidikan itu, seperti Ki Hajar Dewantara yang mengharapkan pendidikan itu membebaskan seseorang, baik lahir maupun batin. Karena pendidikan adalah perwujudan dari memanusiakan manusia. Lantas, sudahkah sekolah kita hari ini menjadikan manusia selayaknya manusia?

Kawan, sekolah semestinya mengajarkan kita hidup secara utuh, bukannya disibukkan dengan hal-hal yang bersifat akademis belaka. Kita boleh berbeda dan menjadi diri sendiri tanpa ada tekanan dan ketakutan serta mengerti tentang hak kita sebagai manusia dan mesti memperjuangkan kebahagiaan.

Kita mesti menciptakan surga itu. Sekolah seharusnya menjadi perwujudan surga di muka bumi. Bukankah gambaran surga adalah kebahagiaan lahir dan batin, tak ada kecemasan dan kegelisahan, tak ada rasa saling iri dan membenci, yang ada hanya cinta yang berbalas cinta?

Kawan, orang-orang berpendidikan adalah mereka yang kehadirannya selalu menimbulkan kedamaian, kebahagiaan, serta cinta yang berbalas cinta. Benarkah kita sudah menjadi orang yang berpendidikan?

Latest posts by Muh Ihsan Tahir (see all)