Pendidikan Keluarga dan Upaya Mencetak Insan

Pendidikan Keluarga dan Upaya Mencetak Insan
Foto: fullfekr.com

Pendidikan di bangsa ini masih menjadi “lukisan yang belum selesai”. Pada abad 21, pendidikan, termasuk pula pendidikan keluarga, masih menjadi keprihatinan kita bersama, sebab masih berada dalam gambaran suram. Marak hal yang masih selalu membelit eksistensinya.

Formalitas pendidikan telah melampaui hakiki. Dampaknya pada pendekatan peraturan yang membonsai kreativitas peserta didik. Gonta-gantinya kurikulum, tiba-tiba saja menjadikan pendidikan sebagai arena pencetak para kuli yang dibutuhkan pasar—menjadi gelanggang yang hanya menjanji sebuah kekayaan. Alhasil, pendidikan seketika kehilangan jiwa kependidikannya, memanusiakan manusia.

Dampak nyata dari kondisi yang semrawut ini bisa kita saksikan dengan mata telanjang. Generasi bangsa tiba-tiba menjadi generasi pemuja angka.

Lihat saja, bagaimana lembaga pendidikan nomor wahid menjadi sasaran utama. Mereka lebih memilih lembaga yang sudah mendapat pengakuan secara nasional—bahkan internasional, daripada yang sesuai dengan keterampilan, keahlian, atau kecenderungan yang melekat pada dirinya. Mereka lebih percaya pada sertifikasi lembaga daripada skill.

Selanjutnya, tontonan yang tak layak dikonsumsi publik menjadi hidangan setiap hari. Seorang guru memperlakukan anak didiknya dengan tidak semestinya. Mulai dari kekerasan fisik hingga pelecehan seksual.

Bahkan tak jarang tindakan tersebut merenggut nyawa. Hal itu pun harus diselesaikan secara hukum. Ruang kelas yang digelutinya diganti dengan ruang jeruji sebagai hukuman atas perbuatannya.

Peserta didik tak ketinggalan. Aksi tawuran sesama pelajar menjadi ajang pembuktian bahwa lembaga pendidikan sudah menjadi sarang preman. Tak jarang karena persoalan sepele, membunuh menjadi penyelesaian utama.

Belum lagi, mereka yang di bawah umur berani melakukan tindakan pemerkosaan. Semua terjadi searah dengan pendidikan yang seakan-akan gagap dan tidak mampu berbuat apa-apa.

Lebih menyakitkan lagi, saat prestasi sudah seperti barang dagangan. Setiap gelaran UN selalu ada saja transaksi jual-beli kunci jawaban. Tetiba saja, peserta didik yang sudah ditempa sekian tahun masih belum percaya diri akan kemampuannya. Mentalnya seketika ciut. Bahwa kelulusan dianggap capaian yang prestisius daripada kejujuran.

Pentingnya Peran Keluarga

Melihat kejadian di atas, pendidikan bukanlah tumpuan utama dan menjadi jaminan untuk mencetak generasi bangsa. Disadari atau tidak, pendidikan hanya menjadi ruang belajar dengan batasan waktu yang telah ditentukan. Artinya, persoalan pendidikan tidak bisa dilimpahkan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan. Bahwa peran keluarga dalam proses pendidikan anak sangat dibutuhkan.

Kondisi semacam ini pun mendapat respons serius dari pemerintah hari ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) membentuk unit baru dengan nama Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga yang menangani pendidikan keluarga dan keorangtuaan.

Respons ini bisa kita lihat dari acuan kerjanya, yakni penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, penguatan prestasi belajar, pendidikan kecakapan hidup, karakter dan kepribadian, serta pendidikan perilaku destruktif.

Nah, melalui wadah baru ini, diharapkan keluarga mengerti perannya—baik ia sebagai orangtua kandung atau yang mengasuhnya. Karena harus diakui bahwa akhir-akhir ini anak-anak sering kali luput dari perhatian. Bahkan tak sedikit orangtua atau yang mengasuhnya tega melakukan tindakan di luar batas terhadap anaknya.

Bagaimanapun, kehadiran keluarga begitu penting bagi proses anak-anak. Keluarga tidak hanya menjadi orang yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan materi anaknya. Jauh melebihi itu, peran keluarga dalam membentuk karakter anak begitu penting.

Aspek intelektual yang mereka kuasai perlu diimbangi dengan aspek spiritualitas agar tercapai keselarasan antara kebutuhan otak dan hati. Penanaman kesadaran serta pembentukan karakter dewasa ini menjadi suatu keharusan untuk diberikan kepada seorang anak.

Melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga yang mulai dioperasikan, diharapkan pendidikan bangsa ini akan mampu mencetak insan yang bermoral. Tentunya, semua elemen yang di sekelilingnya saling bahu-membahu. Melaluinya, keluarga bisa memahami perannya yang hakiki. Sehingga peran tersebut tidak hanya terarah pada pembentukan moral anak, juga mampu mengangkat prestasinya di sekolah.

Dengan demikian, jika keluarga mengerti perannya, sekolah juga paham tanggung jawabnya. Maka tidak akan ada lagi tontonan yang tak elok dipandang—baik berupa perlakuan tidak layak orang tua, pengasuh dan guru terhadap anak, atau sesama anak-anak.

Karena anak-anak tidak bisa disalahkan. Anak-anak butuh perhatian ekstra karena dunia mereka dunia yang emosionalnya menggebu-gebu.

*Abdul Rahman Wahid, Peneliti di Moeda Institute Yogyakarta

_____________

Baca juga:
Kontributor NP
Kontributor 73 Articles
Kontributor Nalar Politik