Pendidikan Nonformal Tidak Kalah Menarik!

Pendidikan Nonformal Tidak Kalah Menarik!
©Bracusa

Pendidikan nonformal tidak kalah menarik!

“Apa pendapat kalian tentang pendidikan? Kira-kira pendidikan itu apa sih?” begitu pertanyaan Amikah yang akrab disapa Amik pada mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan Islam, kampus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Chaeriyah, Mamuju, Sulawesi Barat.

Mereka hari itu belajar mata kuliah Kebijakan Pendidikan. Aku sebagai pengampu kuliah ini pun secara khusus mengundang Amik untuk berbicara tentang pendidikan di Jogja dan Sulawesi. Amik saat ini menyelesaikan tesisnya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Walaupun perjumpaan kali ini masih melalui Google Meet (GM) karena aku sedang berada di Kabupaten Polewali Mandar, sedangkan mahasiswa rata-rata berdomisili di Mamuju, sedangkan Amik lagi berada di Gowa, mahasiswa tetap antusias untuk mengikuti diskusi yang berjudul “Perbandingan Manajemen Pendidikan di Jogja dan Sulawesi” atau lebih tepatnya, kata Amik, pendidikan di Indonesia.

Dari pertanyaan Amik, Latif, salah seorang mahasiswi yang asli Jawa Timur itu, menjawab jika pendidikan itu sebagai proses memanusiakan manusia. Kemudian dijawab oleh Amik sebagai sesuatu yang holistik.

Amik pun kembali menimpali jika kita lahir ke bumi ini tapi belum jadi manusia. Ini merupakan pandangan manusia yang holistik.

Amik menjelaskan melalui pengertian kata “pendidikan” dalam bahasa Inggris yaitu education. Secara etimologi atau asal-usul, kata education berasal dari bahasa Latin yaitu educatum yang berasal dari kata E dan Duco yang artinya perkembangan atau sedang berkembang, yang maksudnya perkembangan dalam diri, bagaimana memaksimalkan perkembangan dalam diri untuk berkembang keluar, keluar dari sesuatu yang belum tahu (diketahui) menjadi tahu .

Dalam bahasa Indonsesia, kita pakai pendidikan, kata yang berasal dari serapan kata pedagogi yaitu paid dan agogos. Paid artinya anak, agogos artinya menuntun. Jadi pedagogi kaitannya dengan pendidikan artinya sistem pengubahan sikap dan perilaku yang menuntun anak, kaitannya dengan anak padahal sebenarnya pendidikan itu bukan cuma untuk anak karena kita sebagai manusia dari lahir sampai sekarang selalu mau mencari atau menuntut bagaimana caranya menjadi agar lebih baik.

Kata Amik kali ini, “Saya akan membahas tentang jenis-jenis pendidikan formal dan innfomal yang ada di Indonesia.” Lalu ia bertanya lagi, “Sekarang, pendidikan apa yang kalian tempuh dalam kampus?” Mahasiswa pun menjawab pendidikan formal.

Baca juga:

Kata Amik, jika di Barat, pendidikan itu identik dengan sekolah, beda dengan kita di Indonesia. Amik kemudian bertanya lagi, “Apakah pendidikan itu hanya dari sekolah?” Mahasiswa kembali menjawab jika bisa dari pelatihan.

Pelatihan termasuk pendidikan nonformal, sedangkan yang termasuk pendidikan informal adalah pendidikan sejak dini dalam keluarga. Lalu ada juga seperti Taman Pendidikan Al Quran (TPA) yang masih banyak bertebaran hingga saat ini.

Kemudian Amik menjelaskan jika kehadirannya di GM ini bukan untuk membahas tentang pendidikan lanjutan dari pendidikan formal karena di Indonesia banyak jenis macam pendidikan selain yang formal, yaitu informal dan nonformal yang tidak kalah menariknya. Amik dan mahasiswa pun banyak melakukan diskusi.

Menurut Amik, pendidikan kita tidak kalah banyak variatif dari yang ada di Barat sana. Contohnya; TPA, kursusan, kemudian di Jawa ada pendidikan Diniyah yang agak berbeda dengan Madrasah karena ia terhitung informal.

Latifah, mahasiswi yang sering jadi moderator acara-acara penting di kampus itu, pun bertanya, “Apakah motivasi kakak Amik untuk kuliah di Jogja?”

Amik tertawa, dan menjawab jika ia mencari sekolah yang murah sesuai dengan kantong dan ingin menambah pengalaman di UIN Sunan Kalijaga.

“Soal sistem pendidikan di Sulawesi dan Jawa sebenarnya sama. Bedanya, orang di Jawa lebih banyak jadi ketika ada persaingan lebih ketat masing-masing dari kita terpacu untuk memaksimalkan kemampuan yang ada,” kata Amik. Ia beranggapan jika kemajuan tehnologi saat ini bisa dimanfaatkan untuk memacu diri di mana pun kita berada sehingga selalu ada jalan yang terbuka.

Latifah kemudian bertanya lagi, “Menurut perspektif Amik, sebenarnya pendidikan yang lebih bagus di sini atau di sana (antara Jawa dan Sulawesi)?”

Halaman selanjutnya >>>
Zuhriah
Latest posts by Zuhriah (see all)