Penerapan Teori Sosiologi Organisasi

Penerapan Teori Sosiologi Organisasi
©Biem

Salah satu organisasi yang menerapkan teori sosiologi organisasi ini ialah Karang Taruna.

Pengertian tentang organisasi sering kali dirumuskan sesuai kepentingan dan tujuan penelitian serta tergantung pada konteks dan perspektif keilmuan dari seseorang yang merumuskannya.

Dalam buku Achmad Sobirin (2007: 5-7), terdapat kutipan mengenai pengertian organisasi, di antaranya adalah pendapat Stephen Robbins: “Organisasi adalah unit sosial yang sengaja didirikan untuk jangka waktu yang relatif lama, beranggotakan dua orang atau lebih yang bekerja bersama-sama dan terkoordinasi, mempunyai pola kerja tertentu yang terstruktur, dan didirikan untuk mencapai satu tujuan tertentu.”

Teori sosiologi organisasi memiliki beberapa jenis teori, salah satunya yaitu Teori Neo-klasik (Adaptive-Organic). Teori Neo-klasik secara sederhana dikenal sebagai teori/aliran hubungan manusiawi (the human relation movement). Teori ini memberikan perhatian lebih besar terhadap hubungan sosial di lingkungan kerja, dan lebih menekankan harmoni kelompok sebagai tujuan organisasi yang paling primer. Pemikiran manajemen lebih dipusatkan pada korelasi manusia dengan manusia, dan di semua organisasi yang ada.

Teori ini pula lebih menekankan di tindakan dan perilaku antarpribadi, cara sikap antarkelompok, cara pandang manusiawi. Organisasi dalam Teori Neo-klasik lebih menekankan pada yang sifatnya kultural serta kekeluargaan tanpa menghilangkan sistem formalnya. Namun penekanananya lebih pada kebutuhan-kebutuhan sosial kejiwaan.

Penerapan teori ini yaitu dengan mengakui pentingnya hubungan antarpribadi yang harmonis. Di dalam organisasi perlu dibina hubungan yang berciri kerukunan, saling bantu-membantu, saling hormat-menghormati, saling harga-menghargai pendapat dalam usaha menciptakan kebulatan pendapat untuk memperlancar pelaksanaan kerja.

Salah satu organisasi yang menerapkan teori sosiologi organisasi ini ialah Karang Taruna. Organisasi Karang Taruna berdasarkan Permensos RI tahun 2010 Pasal 1 Ayat 1 yaitu organisasi sosial masyarakat yang dijadikan sebagai wadah dan salah satu sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh serta berkembang atas dasar rasa tanggung jawab sosial yang berasal dari, oleh, dan untuk masyarakat itu sendiri terutama generasi muda. Pergerakan pemuda untuk kesejahteraan sosial bagi rakyat yang bisa berkontribusi pada lingkup desa atau kelurahan.

Teori Neo-klasik mendefinisikan suatu organisasi merupakan kelompok orang dengan tujuan bersama. Sama seperti dasaran terbentuknya Karang Taruna adalah adanya kesadaran terhadap keadaan dan permasalahan di lingkungannya serta adanya tanggung jawab sosial untuk turut berusaha menanganinya.

Kesadaran dan tanggung jawab sosial tersebut merupakan pedoman dasar dalam tumbuh dan berkembangnya Karang Taruna. Dalam organisasi Karang Taruna melibatkan seluruh warga masyarakat yang memiliki kepentingan bersama guna mewujudkan tujuan bersama.

Tujuan Karang Taruna ialah:

  1. Terwujudnya pertumbuhan dan perkembangan akan kesadaran atas sebuah tanggung jawab berkaitan dengan sosial. Setiap generasi muda sebagai anggota Karang Taruna pada mencegah, menangkal, menanggulangi, dan mengantisipasi akan adanya berbagai duduk perkara sosial.
  2. Terbentuknya jiwa serta semangat berjuang bagi generasi muda anggota Karang Taruna yang terampil, berkepribadian, dan berpengetahuan.
  3. Tumbuhnya potensi serta kemampuan generasi muda dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan Karang Taruna.
  4. Menjadikan generasi muda yang mempunyai motivasi tinggi setiap untuk bisa menjalin sebuah toleransi, dengan hal tadi diperlukan bisa menjadi perekat persatuan pada keberagaman kehidupan bermasyarakat, berbangsa serta bernegara.
  5. Terjalinnya kerja sama antara generasi muda anggota Karang Taruna dengan masyarakat dan pemerintah pada rangka mewujudkan dan mempertinggi tingkat kesejahteraan sosial bagi warga lebih kurang.
  6. Terwujudnya kesejahteraan sosial yang makin tinggi bagi warga atas segala hal yang dilakukan oleh Karang Taruna. Hal ini yang memungkinkan pelaksanaan segala fungsi sosialnya menjadi manusia, mampu melakukan pembangunan yang bisa mengatasi duduk perkara kesejahteraan sosial di lingkungannya.
  7. Terwujudnya pembangunan kesejahteraan sosial generas muda yang menyeluruh. Karang Taruna bersama pemerintah serta rakyat lainnya bersama-sama dengan pemerintah serta komponen warga lainnya guna menanggulangi berbagai problem kesejahteraan sosial, baik yang bersifat preventif, rehabilitatif juga pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya.

Dalam Teori Neo-klasik telah mengemukakan perlunya hal-hal sebagai berikut:

  1. Partisipasi, adalah melibatkan setiap orang dalam proses pengambilan keputusan.
  2. Perluasan kerja (job enlargement), yaitu kebalikan dari pola spesialisasi.
  3. Manajemen bottom-up yang akan memberikan kesempatan kepada para junior untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Penjelasan di atas sudah diterapkan pada organisasi Karang Taruna yang mana setiap rapat seluruh anggota bermusyawarah dalam mengambil keputusan. Semua perkerjaan dalam Karang Taruna dianggap sama tanpa membedakan suatu hal dalam pengerjaannya, serta para senior Karang Taruna akan membimbing para junior untuk melaksanakan dan mengarahkan tugas secara perlahan dan dapat terlaksana dengan baik.

Baca juga:
    Latest posts by Salwa Fadila Khailifa (see all)