Pengadu Setelah Tuhan

Pengadu Setelah Tuhan
©Christ of Grace

Di atas pangkuanmu
Tangisku kian pecah
Memecah kesunyian diri
Memuntahkan segala kisah dalam rindu

Ibu..
Hangat kasih yang kau tuang
Mengisahkan aku dan bisu

Ibu, dunia tak lagi berahabat denganku
Di saat itu kakiku terantuk darah pada batu
Tempat ayah mengais sepi dalam rupiah
Lembut belaimu
Sejuk merasuk lautan biru
Hanya padamu kelak
Surga rindukan doa
Hangatnya pelukanmu

Ibu..
Engkau tempat mengadu setelah Tuhan!

Ibu Adalah Guruku

Telah aku terima
Aliran sungai penuh murni
Jernih mengalir tak bermuara
Engkau selalu meyakinkan aku untuk melangkah

Ibu..
Ajari aku merapal kata
Merangkak dan berjalan
Meraba, menyapa, dan mengecap rasa
Pahit, manis, jatuh, dan bangkit lagi
Hingga kini, aku bebas berlari
Melompat dan terbang bersama kunang-kunang malam.

Ibu..
Engkau bukan sarjanawan
Namun, teramat bijak dan menawan
Ajari aku huruf dan angka
Hitung-hitungan dasar
Membaca dan menulis kata
Kini telah ku rakit menjadi puisi
Memuji dan memujamu.

Kepergian

1.///
Telah kau saji sepiring pagi
Pada embun yang masih belia
Senyum tersulam penuh bahagia
Meski gurat dan kerut pada dahimu
Tentang cerita penuh luka
Mengalir tanpa bermuara

Aku dan ibu pada meja makan yang telah usang
buatan ayah puluhan tahun yang lalu
Semenjak ayah  pergi pada malam itu
Dengan membawa separuh bulan doa dari ibu

Entah kapan ayah pulang
Menebus kebahagian kami yang tergadaikan
Pada nasib dan getir kehidupan
Meski begitu, separuh bulan di bawah pergi
Selalu kembali dan tumbuh menjadi purnama
Untuk aku dan ibu

2.//
tak ada kata yang aku ramu dengan diksi
Kehilangan, menggirim bahasa paling sunyi
Lewat bulir-bulir hujan Desember
Yang aku jalin dalam catatan gerimisnya yang paling gundah

Rindu telanjur menjelma
Untukmu ibu
Menjadi awan yang berarak pulang
Dengan lebam yang paling pilu
Melahirkan mendung yang sama
Untuk hujan membasahi hati
Membasuh luka rindu

Ibu..aku rindu.

3.///
pada hitungan mundur tidak tersenandung
Sebelum sang bayi berpalung dalam sunyi
Setiap lorong-lorong bocah telanjang
Meniduri jalan-jalan trotoar
Sambil menunggu fajar menyingsing

Aku mencoba memulai angka genap
Di usiaku yang ganjil dalam Desember
Kata ibu: jangan ragu, nak
Terus berlangkah, kisah trauma akan lenyap bersama waktu

Ya..trauma kerpergian ayahku
Saat dirimu tak lagi bersenandung pada sepi

Ibu…
Tidaklah cukup nasihatmu terngiang saja
Keberanianku telah hilang, semenjak engkau jauh
Sejak engksu menutup mata soal duniaku

Hanya sisa pesan yang aku kantongi
Selalu aku bawah pulang dalam doaku
Saat lagu Natal dikidung setiap akhir tahun

    Latest posts by Rian Tap (see all)